Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Anak cacing


__ADS_3

Adzan maghrib sudah berkumandang, waktunya melaksanakan kewajiban bagi yang menjalani. Adit sudah sangat hafal dengan bacaan surah pendek, ia banyak belajar lagi dan lebih memperdalam pengetahuan nya tentang islam. Vina sangat bersyukur di kelilingi banyak orang baik, seperti Adit yang sudah menjadi suaminya saat ini. Bersyukur karena tidak perlu ia memaksanya, Adit ada kemauan sendiri mau banyak belajar tentang agama yang baru di anutnya.


Seperti biasa setelah melaksanakan shalat, Vina mencium tangan Adit dan Adit mencium kening istrinya itu. Namun kali ini Adit tidur di pangkuan Vina dengan wajah yang di hadapkan ke perut istrinya.


"Kak Adit, geli tahu." Adit mendongak dan bangun dari pangkuan Vina, ia duduk menatap wajah Vina lekat.


Tiba-tiba Adit menangis, membuat Vina bingung dengan suaminya.


"Kenapa kak Adit nangis? Karena aku bilang geli yah? Yaudah tidur lagi aja." Namun Adit menggeleng.


"Terus kenapa?"


"Aku terharu aja, aku bersyukur banget bisa jadi suami kamu. Aku masih gak nyangka kalau sekarang aku sudah jadi seorang imam untuk kamu, cahaya." Adit terus meneteskan air matanya sambil memegang tangan Vina.


"Aku juga gak nyangka kak, kalau kak Adit sekarang suami aku. Kita sudah putus waktu itu karena perbedaan yang tidak mungkin bisa aku teruskan. Di tambah aku di jodohkan dengan almarhum Raka, yang saat itu aku belum sama sekali bisa melupakan kak Adit. Tapi di lauhul mahfudz yang tertulis kak Adit lah orang yang akan bersama ku, sejauh apapun kita berpisah dan halangan yang terus datang, jika Allah sudah menetapkan kita bersama tetap tidak akan bisa berubah."


"Aku selalu berdo'a, walaupun saat itu aku merasa do'a yang aku minta tidak bisa di kabulkan karena perbedaan, aku meminta agar Allah menyatukan kita. Tapi aku salah, Allah mengabulkan apa yang aku harapkan, yaitu mendapatkan kamu Cahaya." Adit mengusap lembut wajah istrinya.


"Tuhan itu satu kak, yaitu Allah. Allah tahu jika hamba nya bersungguh-sungguh seperti kak Adit." Adit memeluk Vina dengan erat, ia begitu bahagia wanita yang di harapkan menjadi pasangan sudah berada di dekatnya.


"Kenapa jadi seperti cewek sih, malu dong udah jadi suami malah gini. Aku jadi kepikiran perkataan ila, kalau kak Adit badan macho hati hello kitty." Vina terkekeh sambil mengelus punggung Adit.


"Kamu jahat banget sih, suami lagi terharu sedih malah di ledekin." Adit melepas pelukan nya dan memanyunkan bibirnya.


Vina hanya semakin tertawa dengan tingkah Adit. "Iya maaf, udah jangan sedih lagi." Vina mengusap air mata Adit yang mengalir di pipi nya, Adit mengangguk menatap lekat wajah cantik Vina.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu cantik sayang, aku gak mau kamu di lihat banyak laki-laki dengan mata keranjangnya."


"Berarti kak Adit juga laki-laki mata keranjang? mantan nya aja cantik dan berpakaian seksi semua." Vina pura-pura merajuk menghadap ke samping, membuat Adit kelabakan.


"Bukan gitu sayang, itu kan juga gara-gara kamu."


"Oh, jadi aku yang salah? Oke." Vina akan beranjak dari duduknya namun Adit kembali memeluknya.


"Maaf sayang. Bukan salah kamu, tapi aku yang salah hiks. Aku belum bisa move on dari kamu waktu itu, aku ingin kamu cemburu aja." Vina hanya diam mendengarkan Adit.


"Jangan marah, aku yang salah. Aku pacaran sama mereka bukan karena suka, tapi karena hanya ingin kamu cemburu, sumpah." Adit mendongak pada Vina yang hanya menatapnya datar.


"Cahaya, ayo ngomong! Jangan diemin aku hiks." Vina sebenarnya ingin sekali tertawa, kenapa suaminya itu sangat lucu.


"Hiks, kamu hukum aja aku harus lakuin apa? Tapi jangan diam kayak gini." Adit sampai sesenggukan matanya juga memerah berair.


"Aku lapar tahu, punya suami cengeng gini buat aku tambah lapar." Vina mencubit kedua pipi Adit.


"Kamu tunggu disini ya, biar aku yang masak buat kamu." Vina menahan tangan Adit yang hendak berdiri, ia tidak ingin menyusahkan Adit.


"Harusnya aku yang masak, kak Adit udah seharian kerja di kantor pasti lelah."


"Lelah ku hilang saat aku lihat wajah ini(mengelus wajah Vina), kamu juga pasti lelah kan? Kuliah sambil mengerjakan pekerjaan rumah? Walaupun sudah ada pembantu disini, kenapa kamu masih melakukan semuanya?"


"Aku hanya ingin merasakan apa yang dirasakan seorang istri melakukan tugasnya, seperti wanita lain kak."

__ADS_1


"Aku memang gak salah pilih." Adit mengelus kepala Vina yang masih mengenakan mukenah nya.


"Terus kita gini aja? Kapan masaknya, aku udah lapar pakek banget." Vina mengusap perutnya sambil memanyunkan bibirnya.


"Sabar ya sayang, papa sama mama akan masak makanan yang enak buat kamu." Ucap Adit di depan perut Vina.


"Kak Adit ngapain?" Tanya Vina bingung.


"Aku bicara dengan calon anak kita."


Vina terkekeh ada-ada saja suaminya ini. "Anak kak Adit cacing, di dalam sudah pada demo minta makan."


"Maksudnya juga cacing kamu, tolong bersabar." Mereka tertawa bersama, setelahnya keluar untuk memasak. Vina yang memasak dan Adit yang mencuci piring, juga membantu menyiapkan di meja.


...******...


"Makan yang banyak ya nak," ucap Vina sambil menyuapkan Adit makan.


"Iya ma," jawabnya sambil tersenyum.


Mereka hanya menggunakan satu piring, Adit selalu minta di suapkan dan ia juga yang menyuapkan Vina.


Suap-suapan terosss, kalian kira itu buat othor iri?


Iri bilang thor

__ADS_1


Othor iri othor bilang.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.


__ADS_2