
Keluarga ku dan keluarga Raka, sudah ada di rumah sakit menjengukku, Raka juga tetap menemani ku disana.
"Kamu udah sering mama bilang, gak boleh tahan buang air kecil, gini kan jadi nya," ucap mama.
Aku hanya memegangi perutku karena masih sakit.
"Ma, Vina mau ke kamar mandi, tolong bantu Vina!" Mama dan tante ria membantu ku.
"Ayo Mama bantu, biar aku aja mbak yang bantu Vina," ucap mama pada tante ria dan tante ria mengangguk.
Mama membantu ku berjalan, memapah ke kamar mandi, Raka menatapku seperti tidak tega.
"Dek, kamu gak pulang? Udah lama di kost," ucap tante ria.
"Nanti pulang ma, sekarang mau jagain Vina," Raka sangat khawatir padaku.
"Tapi kamu harus mandi, ganti baju juga dek," lanjut om dirga.
"Raka masih wangi kok," jawabnya.
"Iya Raka, kamu pulang aja dulu! Nanti bisa balik lagi kesini," saran papa.
"Tapi Vina?"
"Mama sama papa, orang tua Vina kan disini, ada yang jagain." Aku dan mama sudah kembali dari kamar mandi.
"Pipisnya sakit banget ma, perut Vina juga masih sakit," aku mengeluarkan air mata sambil memegangi perut.
"Vina, kenapa ma?" Tanya papa.
"Pipisnya sakit pa, perutnya juga sakit katanya," jawab mama.
"Ya udah tiduran dulu ya."
"Hiks" aku mengangguk sambil menangis.
"Raka gak jadi pulang, Raka mau jagain Vina! Raka gak mau ninggalin Vina lagi sakit gini," ucap Raka menolak lagi untuk pulang.
Aku berbaring sambil miring, mencari posisi yang enak agar tidak sakit, menangis sesenggukan menahan sakit.
__ADS_1
"Panggil dokter ma, pa, Vina kesakitan," ucap Raka di dekat ku.
Ia tidak tega melihatku menangis. Para orang tua tidak tau harus melakukan apa, akhirnya memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan ku.
Setelah datang dokter langsung memeriksa dan menyuntikkan obat penahan nyeri.
"Dok, gimana keadaan anak saya?" Tanya mama dan papa.
"Saya sudah memberikan obat penahan nyeri buk, agar cepat membaik, sebaiknya banyakin minum air putih," jawab dokter.
"Baik dok."
"Saya permisi," ucap dokter dan semuanya mengangguk.
"Dek, kamu pulang dulu! Vina juga udah sedikit tenang," ucap tante ria.
"Tapi ma-"
"Gak apa Raka, kita jagain Vina disini," ujar mama.
"Padahal aku mau jagain Vina," batin Raka melihat ku, masih mau menemani ku di rumah sakit.
"Iya pa," jawabnya mendekat lagi ke sisi brankar.
"Vina, aku pulang dulu ya, nanti balik lagi kesini," ucap nya.
Aku mengangguk melihat Raka. "Jangan sedih lagi! besok juga udah sembuh," ucapnya tersenyum.
"Hiks" aku mengangguk.
Raka mengelap air mata ku. Para orang tua saling menatap satu sama lain, melihat perlakuan Raka.
"Jangan nangis lagi, oke!" ucapnya aku berusaha untuk tidak menangis dan mengangguk.
"Good girl, my queen," ucapnya mengelus kepalaku.
"Dek," ucap tante ria.
Raka melirik mamanya menghela nafas.
__ADS_1
"Iya ma," ucapnya lemah.
"Aku pulang ya," ucapnya kembali menatap ku.
Aku tersenyum melihat Raka, yang seakan tak mau pergi.
"Kapan pulang nya dek?" ucap om dirga kali ini.
"Kenapa kalian suka sekali, memisahkan Raka sama Vina."
"Loh dek, ini kan cuma disuruh pulang aja, bukan pindah kota atau negara. Mau kita pisahkan beneran?"
"GAK," ucapku dan Raka berbarengan
Para orang tua tertawa, karena aku dan Raka kompak.
"Dulu aja pada nolak, sekarang malah gak mau pisah," ucap mama.
"Yah malu-malu mau mbak," timpal tante ria
Mereka kembali tertawa.
"Raka pulang beneran deh, kalian kek gak pernah muda aja," ucap Raka.
"Mau pulang, tapi dari tadi masih disini gak bergerak."
Raka cengengesan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Raka berpamitan lagi padaku, dan mencium punggung tangan para orang tua. Setelah itu keluar untuk pulang.
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
__ADS_1
.