
Naya saat ini masih tinggal di rumah Dimas, mereka belum punya rumah sendiri. Naya saat pagi sebelum berangkat kerja menyiapkan segala keperluan suaminya, walaupun dirinya tidak menyukai Dimas, tapi sebagai kewajiban dia harus melakukan nya.
"Mau aku antar ke tempat kerja nya nay?" Tanya Dimas.
"Gak perlu, aku bisa berangkat sendiri."
"Pakai apa? Bukannya kamu gak bawa mobil kesini." Dimas memberi tahu Naya kalau istrinya itu tidak membawa mobil.
"Yah aku lupa, aku gak bawa mobil kesini."
"Yaudah lah, aku yang antar kamu ke kantor. Lagian itu juga kewajiban aku mengantar jemput kamu." Ucapan Dimas membuat hati Naya melembut, tapi tetap ingat kalau pernikahan nya hanya rencana untuk membantu Reva.
"Iya, sarapan dulu sebelum ke kantor. Biar semangat kerja nya." Dimas tersenyum.
"Tentu."
...******...
Karena mereka berdua beda kantor dengan sahabat nya, Adit dan Hendry datang ke kantor Dimas. Sedangkan Vina dan Nina datang ke kantor Naya bekerja.
"Gimana dim? Apa udah lancar semalam? Kenapa langsung kerja sih, harus nya bulan madu dulu."
__ADS_1
"Iya, harusnya jalan-jalan dulu gitu bulan madu."
"Gak ada kepikiran kesana gue, dirumah aja harusnya syukur. Tapi kalian kan tahu gue dan Naya nikah bukan karena cinta."
"Iya, tapi bukannya sudah kewajiban seorang istri melayani suami."
"Melayani semua kebutuhan gue kerja kok, batin aja yang belum."
"Pepet terus dim, akhirnya cewek juga bakal luluh kalau diberikan kelembutan." Ucap Hendry yang ingin sahabat nya itu juga merasakan seperti dirinya dan Adit.
"Gue gak tahu caranya gimana, gue aja gak pernah pacaran eh tiba-tiba aja langsung nikah."
"Sesat dim kalau Hendry yang ngajarin."
"Sini kita bisik-bisik, biar pada gak dengar yang kita bicarakan." Hendry membisikan sesuatu pada Dimas dan Adit, padahal masalah seperti itu Adit lebih dulu tahu. Tapi Hendry yang memberi tahu Dimas.
Di ruangan Naya, ada dua wanita yang ingin bertanya juga apa yang di lakukan Naya semalam, apakah sudah berhasil atau belum.
"Gimana nay?" Tanya Nina.
"Gimana apanya nin? Aku gak ngerti kamu ngomong apa."
__ADS_1
"Kamu sama Dimas, apa udah" ucapnya sambil menautkan jari telunjuk miliknya.
"Kamu nanya apaan sih nin, kamu kan tahu aku sama Dimas nikah bukan atas kemauan kita. Tapi untuk membantu Reva saat itu, dan keterusan sampai sekarang. Padahal bisa aja di batalkan, tapi pak baskara sudah menyiapkan semua nya."
"Bukankah beliau mertua yang baik? Menyiapkan semua nya, tanpa minta bantuan ke kamu. Walaupun kita semua sedikit memberi arahan untuk persiapan pernikahan kalian." Ucap Vina.
"Iya, beliau sangat baik. Tapi aku gak tahu jadi istri yang baik. Aku saja tida pernah pacaran, tapi langsung menikah dengan orang yang baru di kenal."
"Untuk menjadi istri yang baik, adalah melayani lahir dan batin. Jika sudah begitu kamu adalah istri yang baik, tidak berkata lebih tinggi dari suami kamu, walaupun kalian menikah tidak di dasari oleh cinta."
"Aku gak tahu Vin, apa aku bisa melakukan nya? Sedangkan aku gak tahu Dimas itu baik apa gak."
"Dimas sekarang sudah bersahabat dengan kak Adit dan kak Hendry, mereka tahu pasti orang yang baik dan pura-pura nay." Naya langsung berpikir bagaimana caranya menjadi istri yang baik untuk suaminya, walaupun mereka menikah tidak di dasari oleh cinta. Ia akan mencoba menjadi istri seperti yang di sebutkan sahabat nya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1