Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Wanita pembawa sial


__ADS_3

Banyak orang yang memberi selamat pada mempelai pengantin. Adit dan Vina menikah bukan di gedung atau di masjid, mereka menikah di rumah Vina.


"Selamat ya vina, kak Adit. Akhirnya kalian menikah juga. Tolong jaga teman aku ini kak," ucap Naya memberi selamat.


"Iya nay, pasti."


"Selamat ya vin, kak Adit juga. Kalau di kantor kak Adit ada staff atau teman kak Adit jomblo, boleh dong bagi Nina."


"Malah minta disini," ucap Naya.


"Boleh juga, teman aku sama staff kantor banyak kok."


"Kalau gitu sekalian aku juga kak." Naya yang tadinya menegur Nina, ternyata dirinya juga meminta nya.


"Yaelah, tadi aja aku dibilang minta disini." Naya hanya cengengesan.


"Makasih ya, kalian udah pada datang." Vina memeluk kedua sahabat nya.


"Udah pasti kita datang vin, kamu itu kan sahabat kita dari sekolah." Mereka berpelukan bertiga.


"Woy, masih banyak yang antri. Kalian cepetan turun." Ucap Hendri di belakang Naya dan Nina.


Mereka bertiga melepas pelukannya, melihat orang tidak terlalu banyak namun berjejer beberapa di belakang hendri.


"Sekali lagi makasih ya buat kalian, karena udah pada datang."


"Sama-sama, satu yang belum aku bilang vin."


"Apaan?"


"Cepat punya anak." Naya dan Nina langsung turun setelah mengatakan itu.


"Selamat ya Vina dan Adit, aku ikut bahagia kalian akhirnya bersatu setelah sekian lama penantian Adit."


"Makasih kak," ucap Vina tersenyum.


"Makasih bro, lu udah hadir di acara nikahan gue." Adit menarik tubuh Hendri sambil menepuk bahunya.


"Alhamdulillah lu udah login dit, gue senang bisa lihat lo sebahagia ini dan semoga sampai seterusnya."


"Makasih hen, lu juga banyak bantu gue," ucap Adit tersenyum.


Setelahnya banyak lagi teman kuliah mereka dan teman sekolah yang hadir di acara pernikahan Adit dan Vina.


Adit dan Vina mengobrol sambil tersenyum. "Vina," ucap nya membuat Vina dan Adit cepat berdiri.


"Tante, makasih udah datang." Vina ingin mencium punggung tangan nya, namun cepat ia bersedekap.

__ADS_1


"Saya kesini bukan untuk memberikan selamat sama kamu, tapi hanya ingin melihat bagaimana suasana pesta pernikahan kamu." Vina melirik Adit sambil tersenyum ke arah orang itu.


"Kamu tahu? Seandainya saja Raka tidak saya jodohkan sama kamu, mungkin saat ini Raka masih ada." Tante Ria menatap sinis Vina.


"Apa maksud tante?" Tanya Vina.


"Mama, sudahlah cepat kita turun" Shena dan Farhan di belakang nya menyuruh tante ria untuk turun.


"Gara-gara kamu, Raka sakit. Gara-gara kamu juga Raka ninggalin keluarganya untuk selamanya."


"Tante, Vina-


"Kamu adalah penyebab Raka meninggal, Raka sakit itu semua karena bersama kamu, nyesel saya jodohin Raka sama kamu."


"Apa maksud mbak? itu dulu kesepakatan kita bersama, kenapa sekarang malah menyalahkan Vina?"


"Karena memang ini semua kesalahan dia," ucapnya menunjuk Vina.


"Hentikan tante, disini Cahaya gak salah. Ini semua takdir dari Allah, jangan menyalahkan siapa-siapa."


"Kamu juga hati-hati, siapa tahu setelah ini kamu yang meninggal. Bisa saja wanita ini pembawa sial." Vina hanya terdiam berkaca-kaca, ia tak mampu membalas ucapan tante Ria.


"Vina, Adit dan semuanya. Maafkan mama saya, kami permisi" ucap Farhan dan shena yang langsung membawa paksa mamanya turun.


"Mama belum selesai bicara dengan wanita itu," ucap nya berteriak.


"Vina, selamat yah. Semoga pernikahan kamu sakinah mawaddah dan warahmah. Adit, jaga Vina baik-baik, saya permisi." Ucap om Dirga dan berlalu pergi menyusul keluarganya yang keluar.


"Kak Adit, aku yang sudah membuat Raka meninggal." Vina menatap Adit dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Adit menarik Vina ke dalam pelukannya, ia menenangkan istrinya itu.


"Aku wanita pembawa-


"Husst, apa yang kamu katakan? Ini sudah takdirnya, sudah jalannya seperti ini sayang." Adit mengusap pelan kerudung Vina.


"Tapi kak-


"Sudahlah, mamanya Raka hanya belum bisa mengikhlaskan kepergian Raka."


"Adit, kamu bawa saja Vina ke kamar nya. Kalian istirahat saja, tidak apa tamu bersalaman dengan para orang tua saja sudah cukup."


"Tapi ma-


"Bawa saja, kamu bukan hanya tahu kan kamar Vina? Tapi sudah hafal letak dan isi kamarnya?"


"Ta-tahu," ucap nya. Karena Adit sudah pernah masuk dulu saat dirinya meminta Vina untuk kembali dengannya.

__ADS_1


"Sudah pernah masuk?" Tanya mama tia


"Sudah ma," jawab Adit.


"Ngapain?"


"Sudah lah ma, malah kepo disini. Sekarang biarkan mereka istirahat." Papa Antonius menimpali agar istrinya itu tidak kepo saat yang tidak tepat.


...******...


Adit dan Vina sudah berada di kamar nya, Vina menatap kosong di depan meja rias nya. Adit yang baru saja meletakkan jas dan kemejanya mendekati Vina.


"Kamu kenapa?"


"Aku hanya kepikiran apa yang di ucapkan tante ria itu memang benar kak, Vina yang menyebabkan Raka meninggal."


"Sayang, apa yang kamu katakan? kamu tidak percaya dengan Allah?"


"Percaya."


"Lalu? apa yang kamu ragukan? ini sudah ketentuan Allah."


"Tapi tante ria bilang aku ini wanita-


Adit mengecup bibir Vina, membuat istrinya itu melotot kan matanya.


"Kak Adit," ucapnya memegang bibirnya.


"Sekali lagi kamu mengatakan itu, aku akan mencium mu." Adit mendekatkan wajahnya.


"Itu ciuman pertama ku kak," ucap Vina.


"Bagus dong, berarti aku yang pertama. Lagipula yang barusan itu hanya kecupan sayang, bukan ciuman. Bagaimana jika kita mencobanya?" Adit menaik turunkan alisnya.


"Ih kak Adit mesum." Vina mendorong Adit agar menjauh.


"Lah kok mesum? Kan kita belum mencobanya?"


"Aku mau mandi aja."


"Berarti setelah mandi boleh dong?" Tanya Adit. Vina langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi nya.


Adit menatap Vina yang berlari, ia tahu istrinya itu sedih dengan apa yang di ucapkan tante ria.


"Aku akan menjaga kamu, Cahaya. Aku tidak akan membiarkan kamu kembali bersedih."


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2