
Vina sudah keluar dari rumah sakit, namun karena kondisi kehamilannya sangat lemah, Adit mengajaknya untuk tinggal di rumah mertua nya dulu agar istri nya itu benar-benar tidak melakukan pekerjaan apapun dan ada yang menjaga nya saat dirinya sedang bekerja.
"Assalamu'alaikum," ucap dari luar rumah Vina sambil membunyikan bel.
Adit papa Gilang dan mama Dira yang berada di ruang tamu menoleh siapa yang bertamu.
"Wa'alaikum salam."
"Biar Adit yang bukain pintu." Adit beranjak dari duduk nya untuk melihat siapa yang datang.
"Suaranya seperti tidak asing, apa kita mengenalnya pa?" Tanya mama Dira, karena ia seperti mengenal suara yang mengucap salam.
"Papa juga sepertinya mengenalnya, tapi siapa?"
Adit yang membuka pintu rumah tersenyum, namun setelah melihat siapa yang bertamu ia seperti menahan emosinya.
"Ada perlu apa? Dan ingin menemui siapa?"
"Kami ingin menemui Vina."
"Saya suaminya, saya tidak mengizinkan. Jika ingin masuk silahkan!" Adit menyuruh mereka untuk masuk.
Mereka merasa tidak enak, namun mereka akan meminta supaya bisa menemui Vina.
"Assalamu'alaikum." Saat sudah masuk di dalam.
"Wa'alaikum salam." Papa gilang dan mama Dira melihat siapa yang datang, mereka menampilkan senyum ragu.
"Silahkan duduk, saya ke dapur dulu sebentar." Dira akan ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Maaf pak kami datang kemari, ini sangat buru-buru tapi supaya semuanya cepat selesai."
"Maksud nya apa ya mas?" Papa gilang tidak mengerti apa yang di katakan nya.
"Kami datang kemari ingin meminta untuk menemui Vina, kami ingin meminta maaf." Papa gilang yang mendengar itu menoleh ke arah Adit.
"Cahaya sudah memaafkan perlakuan istri om, tapi saya tidak. Saya juga tidak mnegizinkan nya untuk menemui istri saya." Adit tidak ingin istri nya sedih melihat orang yang menyakiti nya datang.
"Sa-saya minta maaf."
"Gampang kalau hanya bicara maaf. Saya dan Cahaya hampir kehilangan calon bayi kami, kalian tahu yang sampai saat ini Cahaya tangisi?"
"Istri om ini bilang, bahwa anak yang di kandung Cahaya bukan anak saya."
"Mama," ucap Shena dan juga Farhan. Om Dirga hanya menghela nafas berat, mendengar kelakuan istrinya yang memang tidak akan bisa di maafkan segampang itu oleh keluarga Vina.
"Saya mohon, saya ingin meminta maaf tulus. Saya menyesal melakukan itu."
"Baru sekarang menyesalnya? Istri saya harus banyak istirahat."
"Saya mohon!"
"Adit, panggil Vina. Biar dia sendiri yang mendengar nya bahwa tante Ria sudah meminta maaf." Ucap Mama Dira yang baru saja datang membawa nampan.
"Iya dit, biar tidak ada lagi kesalah pahaman." Adit yang mendengar mertuanya menyuruh dirinya memanggil Vina hanya bisa menghela nafas pelan.
__ADS_1
Adit langsung berdiri untuk menemui Vina di dalam kamarnya. Ia membuka pintu kamar Vina pelan, takut istrinya itu sedang isirahat.
"Sayang," ucapnya membuat Vina menoleh.
"Kenapa kak?"
"Kenapa tidak istirahat? Kamu harus banyak istirahat." Adit duduk di sebelah Vina.
"Aku udah bosan kak, ini baru aja lihat ponsel."
"Ee sayang," ucap Adit, ia ragu untuk memberi tahu Vina.
"Ada apa? Kak Adit mau apa?" Vina menyentuh wajah Adit.
"Mau kamu aja cukup." Jawabnya tersenyum.
"Kak Adit mau makan? Bilang aja, kalau mau makan biar aku yang masakin."
"Bukan sayang, kalau makan juga udah ada mama yang masak."
"Terus suami aku ini mau apa?" Tanya Vina tersenyum menatap Adit.
"Ada keluarga Raka diluar," ucap Adit membuat senyum Vina memudar.
"Sayang, mama dan papa yang ingin kamu keluar menemui mereka. Agar semua masalah yang terjadi di selesaikan sekarang."
"Kak Adit, aku takut kak." Vina memegang tangan Adit, ia gemetar mengingat anaknya hampir saja hilang.
"Sayang, tidak akan terjadi apa-apa. Ada aku, mama dan papa. Lagi pula, bukankah ada pesan dari Raka? Agar kamu menyampaikan nya pada mereka."
"Aku mau, tapi kak Adit harus selalu di samping aku."
"Iya sayang, janji!" Adit mengambilkan hijab Vina, dan membantu mengenakannya.
Mereka keluar untuk menemui keluarga Raka, dengan Adit yang menggenggam tangan Vina.
"Vina," sapa Shena dan Farhan. Vina mendongak tersenyum menatap keduanya.
"Kak Shena, kak Farhan."
"Apa kabar Vin? Kakak sudah lama tidak melihat kamu."
"Baik kak, kak Shena juga apa kabar?"
"Baik juga Vin, bagaimana kandungan kamu?" Tanya Shena
"Alhamdulillah kak, hanya butuh istirahat yang cukup." Jawab Vina tersenyum, ia melupakan sosok wanita di dekat om Dirga.
"Vina," ucap nya membuka suara.
Vina yang di panggil menoleh, namun setelah tahu siapa yang memanggilnya Vina langsung mendekatkan wajah nya ke bahu Adit. Adit yang melihat istrinya ketakutan langsung memegang tangan nya.
"Tante minta maaf vin, tante sadar kalau Raka meninggal itu bukan karena kamu. Tante minta maaf."
"Memang bukan karena Vina, mbak. Raka meninggal itu karena sakit, jangan menyalahkan Vina."
__ADS_1
"Maafkan tante, vin. Tante belum ikhlas bahwa Raka sudah gak ada. Tante menyalahkan kamu karena tante menganggap kamu yang membunuhnya, kamu yang selalu bersama Raka."
"Tante menyalahkan Vina, karena tante tidak tahu bahwa Vina mencari Raka selama sebulan sebelum Vina mengetahui kalau Raka dirawat di rumah sakit."
"Sebenarnya disini, yang harus mama salahkan itu Shena dan kak Farhan ma. Kita berdua yang menyembunyikan penyakit Raka dari mama dan papa."
Tante Ria menangis, ia masih terus tidak percaya bahwa Raka telah meninggal.
"Maafkan tante." Vina melepas genggaman tangan Adit, ia mendekati tante Ria yang sedang menangis.
"Tante," ucap Vina di dekat tante Ria. Vina memeluk mantan calon mertuanya itu, ia sangat menyayangi mama Raka ini, tapi menjadi takut semenjak menuduh nya dan menyakitinya.
Vina melepas pelukannya, ia melihat tante Ria dengan tersenyum.
"Raka baik-baik aja tante, Raka bilang kalau kalian tidak perlu khawatir. Dia disana sangat nyaman"
"Apa kamu bertemu Raka." Vina mengangguk.
"Mungkin bisa di katakan sebagai mimpi, tapi Vina menganggap itu nyata. Walaupun tidak terlihat jelas wajah Raka, tapi begitu dekat dengan Vina." Vina mengatakan dengan mata berkaca-kaca, keluarga Raka menangis mendengar nya.
"Raka juga bilang, kalau Vina harus memaafkan tante. Raka bilang bahwa tante harus mengikhlaskan nya, dia baik-baik aja disana."
"Vina saat itu ingin ikut dengan Raka, tapi Raka mengingatkan bahwa Vina dan Raka sudah berbeda. Ada seseorang yang menunggu Vina, yaitu kak Adit." Vina tersenyum kearah Adit.
"Raka juga senang mengetahui Vina sedang hamil." Lanjutnya.
"Kalian jangan sedih lagi, Raka akan sedih juga melihat kalian belum ikhlas dengan kepergiannya."
"Kami akan ikhlas vin, kami hanya selalu merasa bahwa Raka di dekat kami."
Papa gilang dan mama Dira juga ikut menangis, ia tidak merasakan kehilangan. Tapi saat Vina kritis waktu itu, mereka tahu sakitnya melihat anaknya merasakan sakit.
...******...
Adit yang tengah berbaring, tangannya mengelus perut Vina yang tengah bersender memainkan ponselnya.
"Kak Adit, jangan gitu ih geli."
"Sayang, elus kepala aku. Jangan main hp terus."
"Aku mau di manja-manja, tapi kamu cuek-cuek aja." Adit menyanyi seperti yang ada di tektek.
"Kak Adit tidur aja, aku mau main hp dulu bentar."
Adit mengambil ponsel Vina, dan meletakkannya di nakas. "Kak Adit, hp nya."
"Sayang, elus-elus." Vina hanya menghela nafas pelan, kalau sudah dalam mode manja, harus dilakukan apa yang di inginkan nya.
"Kenapa manja sekali sih," ucap Vina gemas sambil mengelus wajah Adit.
"Aku cuma mau di manja sama kamu."
"Iya, si paling manja bapak Adit." Adit tersenyum, tetap menikmati elusan tangan Vina.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
__ADS_1
See you...