Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Vina melahirkan


__ADS_3

Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, kandungan Vina sudah masuk minggu terakhir melahirkan. Adit yang sudah setia menunggu istrinya lahir, ia hanya menemani istrinya sambil memijat kaki Vina yang terasa sakit. Adit sudah dirumah saja semenjak kandungan Vina memasuki bulan kesembilan, orang tuanya menyuruh nya menjaga Vina. Di khawatirkan sewaktu-waktu akan melahirkan tidak ada suami di sampingnya.


Seperti sekarang ini, ketuban Vina sudah pecah terlebih dahulu. Namun bukan Vina yang merasa sakit, tapi Adit yang merasa amat sakit di perutnya.


"Kak Adit gak apa kan? Kita telepon papa suruh kesini ya?"


"Iya, masih datang pergi kok sakitnya. Cepat nanti kamu keburu lahiran, perut aku sakit banget."


Vina menelepon mertuanya, setelah tersambung menyambungkan ke orang tuanya.


"Halo pa, tolong Vina dan kak Adit."


"Kamu sudah mau lahiran vin? Adit mana kenapa malah kamu yang menghubungi kita? Di suruh jaga istri malah seperti itu gimana sih Adit." Ucap mertuanya.


"Kak Adit-


"Papa dan mama segera ke rumah kalian, kamu sabar ya sayang. Awas kamu Adit, papa sudah peringati dia, tapi masih saja seperti ini." Papa Gilang marah karena menganggap Adit tidak menjaga Vina, ia langsung mematikan nya sepihak. Di ikuti oleh besannya yang juga memutuskan sambungan telepon nya.


"Sayang, ayo kerumah sakit. Perut aku sudah sangat sakit, itu berarti anak kita akan segera keluar." Adit duduk berdiri lagi menahan perutnya.


"Iya udah ayo kalau mau berangkat, tapi aku yang nyetir."


Adit langsung berpikir lagi, jika istri nya itu yang mengemudi, bukan karena akan melahirkan, tapi karena kecelakaan.


"Kita tunggu papa aja kalau gitu. Kamu gak apa kan? Anak ayah sabar yah jangan keluar dulu, tahan dulu di dalam." Ucapnya sambil meringis, ia masih sempat mengelus perut istrinya, sedangkan dirinya yang merasakan sakit.


"Iya kak, kak Adit tiduran aja nanti aku aja yang buka pintu." Adit mengangguk menuruti perkataan istrinya.


"Bibi aja yang tunggu di depan, kalau neng Vina disini aja sambil jalan-jalan ya! Supaya jalan lahirnya juga gampang."


"Iya, makasih ya bi." Vina tersenyum menatap bibi yang juga tersenyum kearahnya dan berlalu menunggu orang tuanya di luar.


"Sayang, maaf ya aku gak bisa bantuin kamu jalan-jalan." Adit merasa sedih karena tidak bisa membantu istrinya.


"Kak Adit itu sudah banyak direpotkan, aku sekarang aja gak ngerasain sakit hanya nyeri sedikit saja. Berbeda dengan kak Adit yang sepertinya sakit sekali."

__ADS_1


"Aku sangat bersyukur karena bukan kamu yang merasakan ini, karena ini sangat sakit."


Tak berapa lama orang tua mereka datang dengan sedikit berlari ke dalam rumah anaknya.


"Vina, kamu gak pa-pa kan nak? Ayo kita segera kerumah sakit." Ucap mama Dira dan juga mama tia.


"Adit, enak ya kamu malah tiduran disini." Papa Gilang memarahi Adit.


"Berdiri kamu dit, apa yang kamu lakukan? Istri kamu akan melahirkan." Adit berdiri sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Kak Adit yang merasakan sakit pa, Vina malah gak tahu kalau Vina akan melahirkan, kalau saja ketuban Vina tidak pecah."


Mereka semua terkejut karena sudah suudzan kepada Adit, mereka baru ingat jika anaknya hamil simpatik. Rasa yang dirasakan oleh ibu hamil, dirasakan oleh suaminya.


Akhirnya mereka menuntun anak masing-masing, seperti dua orang yang akan melahirkan.


...******...


Mereka telah sampai di rumah sakit, Adit tetap mencoba menuntun Vina walaupun dirinya juga merasa sakit. Rasa sakit itu ia tahan demi membantu istrinya untuk segera melahirkan.


"Suami ibu Vina boleh masuk ke dalam." Ucap salah satu suster yang akan membantu Vina melahirkan.


"Apa ibu Vina sudah merasa sangat sakit? Biasanya ibu-ibu yang akan melahirkan akan berteriak." Tanya suster sebelum dokter datang.


"Arghhhh..." Bukan Vina yang berteriak, tapi Adit.


"Saya mengalami hamil simpatik, rasa sakit yang akan dirasakan oleh suaminya."


"Mau deh saya begitu bu, saya mau cari suami yang mau merasakan sakit seperti itu."


"Kak Adit duduk aja, aku gak apa kok." Ucap Vina melihat Adit di sampingnya.


"Aku juga akan tetap disini mendampingi kamu." Jawabnya menggenggam tangan Vina.


"Wah so sweet sekali, apa sudah pembukaan sepuluh sus? Maaf saya terlambat ibu Vina, saya baru saja menangani pasien melahirkan juga di ruangan sebelah."

__ADS_1


"Masih sembilan dok, sebentar lagi."


"Tidak apa dok, saya juga baik-baik saja."


Vina melirik Adit, yang sudah keringat dingin. "Suami saya yang tidak baik-baik saja."


Dokter itu malah tertawa, jarang sekali ada suami yang merasakan sakit seperti pasien kali ini. Adit yang merasa di tertawakan mendengus lalu beralih menatap Vina yang lebih menenangkan jika di pandang.


"Saya sudah merasakan sakit dok, apa mungkin anak saya akan keluar?"


"Sebentar saya cek lagi." Dokter segera mengecek apakah sudah pembukaan ke sepuluh.


"Sudah waktunya ibu melahirkan, baby akan segera keluar. Jangan mengejan sebelum aba-aba dari saya ya bu." Karena dokter memposisikan dirinya juga kaki Vina dengan benar. Setelah itu baru Vina mengejan sesuai perintah dokter.


Adit menyemangati Vina, saat dirinya juga sama-sama merasakan sakit. Terus mengambil nafas panjang dan mengejan. Adit di samping Vina menangis, sakit yang ia rasakan tidak seberapa dengan saat istrinya akan mengeluarkan anaknya. Adit terus mengelap dahi Vina yang sudah di banjiri keringat, sambil ia mencium nya untuk memberi semangat.


Ooeekk ooeekk


"Alhamdulillah" Adit mengucap syukur atas lahirnya buah hati mereka dengan selamat. Adit membanjiri wajah Vina dengan kecupan terima kasih.


"Selamat, anak kalian laki-laki, saya bersihkan dulu ya baby nya." Vina dan Adit mengangguk. Namun tak lama Vina memejamkan matanya, karena kelelahan baru saja melahirkan.


"Sayang, hei kamu kenapa tidur?" Tanya Adit berusaha membangunkan istrinya, ia takut terjadi apa-apa dengan Vina.


"Dok, kenapa istri saya tertidur?" Tanya Adit menangis, ia khawatir melihat Vina memejamkan matanya.


"Bapak tenang saja, istri anda hanya kelelahan. Biarkan ibu Vina istirahat, dan kami akan membersihkan badan ibu Vina sebelum di pindahkan ke ruang rawat."


"Pindahkan ke ruang VIP atau VVIP yang layak, jangan biarkan istri dan anak saya merasa sempit dengan ruangan yang kecil."


"Baiklah bapak, tunggu diluar saja sembari melihat bayi anda di ruang bayi. Sebelum ibu nya terbangun dan menyusuinya." Adit mengangguk dan mengecup Vina sambil berpamitan pada istrinya, jika dirinya akan keluar.


"Suami yang sombong, tapi itu sangat bagus. Tidak pelit terhadap istri dan anaknya." Lanjut dokter untuk membersihkan Vina, sebelum ia pindahkan ke ruangan rawat.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...

__ADS_1


Jangan lupa baca cerpen bebu juga ya, semoga bermanfaat


See you...


__ADS_2