
Sesuai dengan perkataan Adit saat di kantor, malam ini Vina sudah akan bersiap. Namun sebelum nya ia menyiapkan baby Dev dengan stroller yang juga sudah ia siapkan. Tas bawaan nya yang sudah di isi dengan perlengkapan baby Dev. Mereka akan makan di luar malam ini.
"Kamu bersiap lah, biar baby Dev dengan ku dulu." Adit menggendong baby Dev keluar, agar istrinya itu bersiap dan cepat untuk berangkat.
"Aku masih bingung mau pakai apa ya? Padahal baju di lemari banyak, masih aja bingung. Aku mau make up dulu." Vina hanya memakai make up tipis natural, ia tidak mau terlihat memakai riasan tebal seperti saat dirinya menikah.
Sudah sekitar lima belas menit Adit menunggu dengan baby Dev di luar, tapi istrinya juga belum selesai. Padahal seperti nya istrinya itu juga tidak terlalu lama berdandan, tapi kenapa lama sekali pikirnya.
"Sayang, sudah selesai belum?" Tanya Adit dari luar kamar.
"Sebentar lagi kak, masih cari baju."
"Cari baju lama banget, nanti baby Dev keburu tidur lagi."
"Biarkan saja tidur, memangnya kenapa?"
"Gak apa sih."
"Aku lupa, kamu pasti lama kalau cari pakaian. Aku sudah meminta Nina tadi membelikan kamu baju, baju nya ada di paper bag di atas nakas." Adit langsung keluar membawa Dev.
"Kak Adit kebiasaan, coba dari tadi bilang sama aku. Jadi gak bakalan seperti ini aku berantakin lemari." Ucap Vina. Suaminya itu sering memberikan pakaian ketika ingin keluar, tapi lupa memberi tahu Vina. Sampai ia sudah berantakin pakaian di lemari, baru mengatakan bahwa dirinya membelikan pakaian.
"Iya namanya juga lupa, aku juga sering seperti itu. Tapi tetap saja aku kesal kalau kak Adit lupa." Ucapnya sambil memakai pakaian dari Adit.
"Lumayan juga nih baju, bagus ternyata pilihan Nina." Ucap Vina memutar badannya.
"Nanti kalau aku bilang begitu, Nina pasti bangga sudah memilih pakaian yang bagus." Vina memikirkan sahabatnya itu pasti akan bangga karena sudah pandai memilih sesuai dengan yang diinginkan istri bos nya.
"Sayang," panggil Adit lagi.
"Iya kak, sudah selesai." Vina dengan cepat merapikan kerudungnya, setelah itu menyusul suami nya keluar dengan membawa stroller.
"Lama sekali sih ibu kamu."
"Ibu sudah selesai." Adit menoleh bersama baby Dev.
"Wah ibu cantik sekali Dev." Ucap Adit menatap Vina tanpa berkedip.
"Jangan menatapku seperti itu, ingat anaknya lagi di gendong nanti jatuh." Vina mengingatkan Adit agar tidak lupa bahwa suaminya sedang menggendong anaknya.
"Sampai lupa karena terpesona dengan kecantikan ibu, pakaian nya juga pas."
"Kasih bonus buat yang beli baju ini."
"Tentu saja yang beli sesuai juga pas di tubuh kamu, karena yang membelikan sahabat kamu sendiri."
"Iya aku yakin Nina dan juga Naya itu selalu ingin yang terbaik untuk aku."
"Bukan karena pakaian nya, itu karena wajah kamu yang cantik. Tubuh kamu juga bagus, jadi pas saja memakai apapun tetap cocok saja." Adit memuji kecantikan dan tubuh istrinya yang bagus.
"Jangan lama-lama di rumah, bisa-bisa aku kenyang dengan gombalan kak Adit."
Adit tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Ayo kita berangkat!" Ajaknya sambil menggendong baby Dev. Vina mendorong stroller dan melipatnya ketika sudah sampai di mobil. Ia meletakkan nya di bagasi mobil belakang.
"Sudah sayang? Kalau belum biar aku saja, ini pegang baby Dev."
__ADS_1
"Gampang gitu doang, jangankan hanya stroller, kamu aja bisa aku masukin ke bagasi." Canda Vina.
"Jangan ke bagasi dong, aku mau nya ke ranjang." Jawab Adit mengedipkan sebelah matanya.
"Ingat anaknya lagi di gendong, jangan ngomong macem-macem."
"Hanya satu macem yang ayah mau yah, sayang? Ayah hanya mau bunda banting ayah, Bun." Adit menyanyikan lagu yang sedang trend di depan Devan.
Vina hanya menggelengkan kepalanya, suaminya itu semakin dilarang semakin dilakukan. Seperti slogan larangan adalah perintah.
"Kak, mau berangkat atau di luar aja?" Tanya Vina yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Ya ampun sayang, ibu kamu mau tinggalin kita di luar sini, tuh lihat ibu kamu sudah di dalam mobil." Baby Dev hanya tersenyum mendengar ocehan ayahnya.
Vina kembali keluar membuka pintu mobil, untuk mengambil anaknya.
"Dari tadi aku ngomong malah nyanyi, makin dilarang makin dilakukan. Bapak-bapak sekarang kalau di bilang makin di langgar." Ucap Vina mengambil Dev.
"Atutu ibu yang cantik jangan ngomel dong, nanti cantik nya ilang. Iya kan Dev?" Ucapnya sambil memberikan Dev pada Vina. Lalu mencubit hidung Vina lembut.
"Ayah nakal ya nak?"
"Ayah nakal, karena ibu nya cantik." Adit malah gemas dengan Vina, ia mencubit pipi istrinya.
"Kalau gak mau berangkat aku masuk ya?" Ancam Vina karena suaminya itu masih belum mau masuk.
"Oke kita berangkat." Adit mencium pipi anaknya baru ia berlari ke kursi kemudi, takut terkena omelan istrinya lagi.
...******...
"Aku ke toilet sebentar ya sayang." Ucap Adit langsung ke toilet.
"Iya kak." Ucap Vina menaruh tas nya di kursi.
"Sayang, disini sama ibu, ayah masih ke toilet sebentar." Vina mengobrol dengan baby Dev yang ada di stroller.
"Permisi kak, ini buku menu nya." Ucap seorang waiters tersenyum ke arah Vina.
"Oh iya." Vina menoleh mengambil buku menu itu.
"Dengan keluarga ya kak? Itu adiknya yah?" Tanya nya pada Vina membuat Vina mengangguk.
"Iya pasti adiknya, kakak nya cantik banget. Saya lihat tadi sama cowok, itu abangnya ya kak?"
"Hah? Saya kesini-
"Kakak nya lihat dulu apa yang mau di pesan, saya mau kedalam sebentar."
"Iya terima kasih." Jawab Vina melihat orang itu pergi.
"Kamu lihat siapa?" Tanya Adit yang baru datang.
"Itu tadi pelayan nya, katanya Dev adik aku, terus kamu abang aku."
"Ada bilang kamu cantik pasti, modus banget tuh cowok. Bilang aja suka sama istri aku."
"Belum tentu juga suka, dia hanya memuji saja kak. Berarti kan istri kak Adit cantik, sesuai dengan suaminya juga tampan." Vina berkata seperti itu agar suaminya tidak marah pada pelayan tadi.
__ADS_1
"Kamu bilang aku apa, sayang?" Tanya Adit tersenyum.
"Aku bilang apa?" Tanya Vina pura-pura lupa sambil melihat menu.
"Ih bohong kamu bilang aku apa tadi?" Adit memegang tangan Vina.
"Kak Adit tampan, ayahnya Devan tampan. Walaupun lebih tampan Devan. Puas kak?"
"Tidak puas, kamu masih memuji pria lain."
"Siapa?"
"Itu baby Dev." Tunjuknya pada Dev Yanga dan di stroller.
"Anak sendiri aja di cemburui kak, ya ampun."
"Biarin."
"Ayah kamu cemburuan Dev."
"Terserah ayah."
"Kak Adit sendiri yang bilang mau buat yang setara dengan kak Adit tampannya, terus sekarang ada yang menyaingi anaknya sendiri malah cemburu."
"Kamu lebih perhatiin Dev dari pada aku."
"Kak Adit, itu karena Dev masih kecil belum bisa apa-apa."
"Ngerti sayang."
"Lalu?"
"Hanya ingin kamu selalu bersamaku, bukan bersama nya." Tunjuk nya lagi pada Dev.
"Ayah rada-rada Dev."
"Sudah selesai kak? Abangnya juga sudah mau pesan apa?"
"Kamu sudah sayang? Jadinya pesan apa?" Ucap Adit pada Vina.
"Sudah kak."
"Aku aja yang pesan, kamu lihat dulu anak kita takut nya ada nyamuk." Adit sengaja mengatakan sayang dan anak kita. Agar pelayan tadi tidak lagi salah paham kalau mereka kakak adik.
"Sudah selesai ya mas, ISTRI saya sudah kan tadi, saya juga samain aja." Menekan kata istri.
"Baik abang dan kakak silahkan tunggu makanan nya datang ya. Permisi." Jawabnya langsung pergi meninggalkan Vina dan Adit.
Vina hanya tersenyum mendengar ucapan Adit yang menekan kata istri pada mas pelayan.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1