
"Kamu kenapa gak pakai mobil sih vin?" Tanya Nina yang di angguki oleh Naya.
"Aku masih takut aja sih, sayang banget mahar nya nanti dibawa aku lecet. Aku kan belum terlalu bisa mengemudi."
"Iya juga, bukan nya punya orang makin bagus, punya Vina mahar malah di hancurin." Tawa sahabat Vina membayangkan mobil yang di berikan Adit sebagai mahar hancur.
"Gimana kalau habis ini kita ke cf depan kampus vin?" ucap Nina.
"Kalau aku bisa sih ikut kalian, tapi bentar aja." Naya menimpali.
"Aku mau ke kantor kak Adit deh, mau bawain kue aja. Soalnya kalau makan bisa di dekat kantornya."
"Yah, gak bisa dong?" Tanya Nina.
"Kalian kalau mau nanti main kerumah aja yah? Kalau kita lagi gak ada kelas."
"Susah banget ya kalau sahabat nya udah punya suami, sering di abaikan." Nina berucap dengan kata lebay nya sambil mencebikkan bibir.
"Nikah dong biar gak di abaikan sahabat, kan ada suami yang tidak mengabaikan." Sahut Naya.
"Jadi sama kamu aja ya nay, please! Sebentar aja juga gak apa."
"Aku usahakan besok bisa yah, kalau sekarang kamu sama Naya aja ya nin"
"Lah, aku tuh kalau di tinggal sama dia aja agak gimana gitu vin."
"Agak gimana apanya maksud kamu nay?"
"Jadi ikutan alay juga." Mereka tertawa setelah Naya mengatakan itu, tidak ada yang membuat ucapan dari mereka menjadi masalah, yang ada hanya candaan tanpa mencela dan menghina.
Setelah selesai dengan obrolan dan tertawa, Vina pamit pergi lebih dulu pada Naya dan Nina. Ia melajukan motornya keluar dari area kampus dan menuju toko kue, untuk membelikan Adit cake kecil.
Vina sampai di depan toko langsung memarkirkan motornya, dan masuk untuk melihat kue-kue yang akan ia pilih.
__ADS_1
"Itu bukannya Vina tunangan Raka ya, jeng?" Tunjuk teman tante Ria pada Vina yang sedang memilih kue.
Tanpa menjawab temannya, tante Ria langsung beranjak menghampiri Vina, diikuti oleh ibu-ibu yang lain.
"Ternyata disini juga pembunuh," ucapnya membuat Vina yang sedang memilih kue menoleh.
"Tante Ria." Vina tersenyum menggapai tangannya, namun tante Ria menepis nya.
"Pembunuh ini mau mencium tangan ku," ucap nya sedikit meninggikan suaranya sambil tersenyum. Banyak orang disana yang menonton nya.
"Kalian lihat wajah sok polos ini, dia adalah orang yang membunuh anak saya." Vina menggelengkan kepalanya menatap orang-orang yang ada disana.
"Tante, ini tidak benar. Jangan percaya! Vina bukan pembunuh, tante."
"Kalau bukan pembunuh, bagaimana Raka bisa meninggal?"
"Anak anda meninggal, bukan karena menantu saya. Anak anda mengidap penyakit kanker stadium akhir, tidak ada hubungannya dengan menantu saya."
"Ibu Christia," ucap banyak orang yang mengenal mama dari Adit itu. Mama Tia juga sering mampir ke toko kue itu bisa di bilang sudah langganan tetap, walaupun tidak tiap hari membelinya.
"Masa iya pembunuh?"
"Saya juga tahu tentang Raka dari anak saya Adit, mereka juga berteman walau tidak terlalu dekat. Tapi disini anda sudah menyalahkan menantu saya, saya tentu tidak terima. Menantu saya memang sempat bertunangan dengan anak anda, ibu Ria. Tapi tuhan lebih dulu memanggilnya, bukan menantu saya yang membunuhnya, tapi itu atas penyakit yang di derita anak ibu sendiri."
Tante Ria hanya terdiam mendengar mama Tia.
"Sayang, kamu mau beli kue yang mana? Ambil aja, setelah itu keluar dari toko ini."
"Vina mau beli cheese cake untuk kak Adit ma."
"Kamu mau ke kantor?" Tanya mama Tia di depan banyak orang.
"Iya ma, mau kasi kue nya ke kak Adit."
__ADS_1
"Tolong di bungkus cheese cake untuk menantu saya dan saya seperti biasa. Biar saya yang bayar."
"Vina punya uang sendiri ma," ucap Vina.
"Simpan uang kamu sayang, kali ini mama yang bayar." Mama tia mengedipkan satu matanya pada Vina.
Setelah mendapatkan kue nya, Vina dan mama Tia keluar dari toko kue itu. Namun sebelumnya memperingati tante Ria, agar tidak lagi mengganggu apalagi menuduh.
"Kamu hati-hati ya, mama parkir mobil disana soalnya. Mama mau langsung pulang."
"Iya ma, mama juga hati-hati."
...******...
Vina sudah sampai di kantor Adit, baru kali ini dirinya datang. Vina melihat-lihat gedung tinggi itu, ia bingung masuknya.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya security yang bertugas, karena melihat Vina celingak-celinguk.
"Maaf, saya ingin masuk untuk menemui suami saya, tapi saya bingung dimana."
"Suami mbak nya di bagian apa?"
"Waduh, saya lupa lagi pak di bagian apa." Vina yang menjawab itu membuat security juga bingung.
"Vina," panggil seseorang membuat Vina dan security tadi menoleh.
Ah siapa sih thor?
Security nya pak mamat.
Au ah gelap terang.
Betul sekali, habis gelap memang terbitlah terang.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.