
Aku baru sadar disana aku memeluk kak Hendri kuat, sampai banyak pasang mata yang melihat.
"Maaf kak, saking senengnya dapat boneka."
"Gak apa kok Vin, aku juga senang kalau kamu suka," jawabnya tersenyum padaku.
Kak Hendri yang membawakan boneka nya.
"Kita pulang aja ya kak."
"Kamu gak mau makan dulu?" tanyanya.
"Tadi udah makan dirumah kak," jawabku.
"Yaudah, ayo pulang."
Kita ke parkiran dan kak Hendri melajukan motornya pelan.
"Makasih ya kak bonekanya," ucapku tersenyum ketika telah sampai dirumah.
Kak Hendri tersenyum, "Iya, sama-sama Vin."
"Vin, aku mau ngomong sesuatu boleh?" ucapnya menatap ku.
Aku mengernyitkan dahi, karena bingung dengan yang diucapkan kak Hendri.
Ia mengambil boneka itu dari pangkuan ku, lalu memegang kedua tangan ku.
"Vin, mungkin ini buru-buru buat kamu, tapi aku tetap akan mengatakan nya sama kamu," ucapnya.
"Aku suka sama kamu dari awal kita ketemu, saat kamu tidak diperbolehkan masuk oleh Dea, Vin."
"Aku mau kamu jadi pacar aku Vin, apa kamu mau?" ucapnya.
Aku tertegun mendengar nya, apa yang harus aku jawab pikirku.
"Kamu gak perlu jawab sekarang Vin, aku akan tunggu kamu menjawab nya nanti. Aku pulang dulu ya, selamat malam." Kak Hendri mencium keningku, lalu kembali ke motor nya untuk segera pulang.
Astaghfirullah berdosakah diriku?
Kak Hendri sudah pergi dengan motornya, aku masih mematung memegang keningku, dengan apa yang terjadi barusan.
Setelah sadar aku masuk ke kamar.
"Aku harus jawab apa?" tanya ku pada diri sendiri.
Karena sudah malam, aku ke kamar mandi, lalu sholat isya' dulu sebelum tidur.
__ADS_1
Kini di sekolah sudah berkumpul, siapa saja yang akan ikut ke sekolah sebelah. Karena tim voli dan cadangan aja yang dibawa, akhirnya semuanya bersiap berangkat dengan motor masing-masing.
"Kak Hendri aku nebeng ya, soalnya tadi aku bawa mobil," ucap Dea.
"Alasan aja kamu de, kan ada Lisa sama Nia," ucap Naya.
"Sirik banget sih nay," ucapnya.
"Gak bisa de, guru sudah tugasin aku bareng Vina," ucap kak Hendri menatap ku.
Dea menatap ku tajam, dan pergi keluar.
"Ayo Vin! kamu sama aku aja, motor kamu aman disini," ucap Hendri.
"Tapi Dea kak?" tanya ku.
"Biar aja, dia kan temennya juga bawa motor," ucap Hendri.
Akhirnya setelah bersiap, kita berangkat bersama-sama ke sekolah sebelah.
Ternyata kami telah di sambut, oleh siswa siswi dan guru-guru disana.
"Wah bagus juga," ucapku.
"Kamu mau pindah sekolah vin?" tanya nya.
Setelah disambut, main voli pun di mulai. Sebenarnya bukan pertandingan, karena tidak dapat hadian. Tapi hanya melatih skill dan kemampuan siswa siswi.
Aku sebagai smashser, Naya sebagai toser, Nina Libero dan yang lainnya juga, Dea dan temannya sebagai cadangan.
Siswi disana cukup kuat, namun pertandingan pertama mendapatkan skor 25:22 beda tipis.
Jika di sekolah kami memenangkan pertandingan sekali lagi, maka kitalah pemenangnya.
Bermain dengan santai adalah trik, karena emosi dengan lawan main akan membuat semakin berantakan.
2x permainan dimenangkan oleh sekolah ku, skor akhir 25:24 sudah terkejar namun tetap kami yang memenangkan.
Setelah putri gantian dengan putra.
Permainan telah usai, aku ke toilet sebentar.
"Hei," ucap seseorang membuat ku kaget.
"Astaghfirullah," ucapku kaget.
"Maaf, aku mengagetkan kamu. Kenalin, aku Adit Raymond," ucap orang itu dari sekolah SMA bawari.
__ADS_1
"Aku, Devina cahaya kak," ucapku menerima uluran tangan nya.
"Aku kesana ya kak, takut dicariin," ucapku.
"Eh cahaya."
"Panggil Vina aja kak." Aku langsung pergi meninggalkan kak adit.
Ia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kamu dari mana aja Vin?" ucap Naya dan Nina.
"Dari toilet," jawabku.
Setelah berkumpul, tidak lama disana kita kembali ke sekolah.
Di jalan
"Vin," ucap kak Hendri.
"Apa kak?" teriakku karena tidak terdengar.
"Apa jawaban kamu vin?" tanya nya.
"Maaf, Vina gak bisa kak," ucapku.
"Gak apa kok Vin, aku ngerti perasaan gak bisa dipaksakan."
Kak Hendri menghentikan motornya, dan menoleh ke arah ku.
"Jika aku tak bisa diatas sana terbang bersamamu, maka aku akan berada dibawah sini, sebagai tempat lembut untuk kau jatuh saat sayapmu terluka," ucapnya.
Aku sedikit mengerti dengan maksud nya.
"Kita tetap temenan kan?" ucapnya.
"Iya kak, kita tetap temenan."
Alhamdulillah, kak Hendri masih mau berteman walaupun aku menolak.
Tapi aku merasa ia pasti sedih, namun aku tidak bisa memaksakan perasaan ku untuk kak Hendri, takutnya nanti malah ia tersakiti dengan perasaan palsu.
.
.
.
__ADS_1
bersambung 💃💃💃