Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Peluk


__ADS_3

Sudah tiga hari aku dirumah sakit, Raka benar-benar sering ke rumah sakit. Bahkan bukan hanya sering, tapi menginap untuk menemani ku.


Aku tidak tega melihatnya, Raka sepertinya sangat lelah. Namun ia tetap tersenyum, tidak mau memperlihatkan kalau dirinya sedang lelah.


"Apa sekarang kamu lebih baik?" tanya nya.


Aku hanya mengangguk tersenyum.


"Vina mau pulang, Vina bosan di rumah sakit terus," ucapku.


"Tapi kamu belum sembuh Vin," jawab Raka.


Aku memanyunkan bibirku dan mulai berkaca-kaca.


"Tuh kan, aku gak lagi marah loh. Aku cuma bilang, belum sembuh, jadi belum boleh pulang." Raka memegang tangan ku.


Aku makin jadi mengeluarkan air mata.


"My queen, kenapa makin cengeng gini, udah ya! aku gak marah kok," ucapnya dengan nada lembut.


"Hiks kenapa kamu mau sama gadis cengeng kayak Vina, dan penyakitan ini? kayak anak kecil juga."


"Mulai deh, aku gak suka loh kamu ngomong gini."


"Ya kan Vina cuma nanya, kenapa mau sama gadis ceng-


Raka menempelkan jari telunjuk nya di bibirku.


"Udah ya, cantik. Aku suka, sayang, bahkan cintaaaaaa banget sama kamu, apa adanya. Titik gak pake koma," ucap nya memegang tangan ku.


"Aku gak bisa ninggalin kamu dalam keadaan sedih gini, aku gak mau kamu jadi gadis cengeng. Kamu harus semangat! dan kuat!" lanjutnya.


"Kamu mau tinggalin Vina?" tanyaku.


Raka gelagapan mau jawab apa.


"A- aku bukan itu maksud nya," Raka garuk-garuk kepala bingung jawabnya.


"Jadi kamu buat Vina nyaman sama kamu, tapi ada rencana mau tinggalin Vina?" aku memiringkan tubuhku agar tidak menatap Raka.


"Hey sayang, bukan gitu maksud aku loh," Raka memegang tangan ku agar menoleh ke arah nya.


"Hiks kamu pulang aja!" ucapku.


"Vina, aku minta maaf."

__ADS_1


Aku makin menangis, aku merasa Raka selalu berkata seperti itu, aku takut di tinggalkan oleh orang-orang yang aku sayangi.


"Vina, lihat aku coba!" aku menggelengkan kepalaku menangis.


"Aku minta maaf, kalau ucapan aku salah. Aku ngomong gitu ya bukan karena mau ninggalin kamu dengan wanita lain, tapi kita juga gak ada yang tau umur kita sampai kapan? entah besok atau bahkan malam ini."


"hiks kalau kamu pergi, Vina mau ikut hiks," aku menoleh ke arah Raka.


Raka menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "aku memang ingin selalu sama-sama kamu terus Vin, tapi kalau aku yang pergi duluan, aku berharap kamu bahagia disini," ucapnya membuat ku makin menangis.


"Kenapa ucapan kamu, seakan-akan beneran mau tinggalin Vina, hiks."


Raka memelukku, ia juga menangis.


'Aku minta maaf Vina' batinnya


Tok tok...


Raka melepas pelukannya, aku dan Raka menoleh ke arah pintu masuk.


"Boleh kak Farhan masuk?" tanya kak Farhan kakaknya Raka.


"Boleh kak, kenapa bisa disini?" tanya Raka.


"Jenguk teman sakit, dan kebetulan ingat Vina di rawat disini, eh liat orang pelukan," sambil masuk mendekati ku dan Raka


"Adek gak ngapa-ngapain kok."


"Kalian ngapain pelukan sambil nangis gitu? drama banget."


"Kepo sekali anda," ucap Raka.


"Yah ngapain gitu?"


"Udah tau pelukan masih nanya." Aku menyenggol lengan Raka.


"Kamu di tanyain jawabnya gitu, kakak tanya Vina aja."


"Kamu ngapain mau di peluk sama ni bocah Vin?"


"Vi-


"Tadi nanya nya gak gitu kak."


"Terus harus gimana?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Kamu ngapain pelukan sama Raka? gitu aja udah," ucap Raka mengajari kak Farhan.


"Kamu ngapain pelukan sama orang itu Vin?" menunjuk Raka.


"Orang siapa kak?"


"Raka," ucapku.


Raka langsung terdiam.


pufffffhh kak Farhan menutup mulutnya. Raka melotot kan mata nya.


"Raka bilang mau ninggalin Vina kak, dan Vina nangis, udah akhirnya pelukan."


"Sedih aja gitu Vina udah sayang sama Raka, tapi dia bilang mau tinggalin Vina sendirian. Misalnya dia pergi, aku mau ikut, tapi gak di bolehin."


Kak Farhan menatap Raka, mereka saling menatap.


"Apa kak Farhan dan Raka nyembunyiin sesuatu dari Vina?" tanya ku penasaran.


"A- aku gak tau apa-apa."


"Bener gak ada apa-apa? kalau beneran ada apa-apa, Vina bakal benci banget sama kak Farhan, terutama kamu Raka," aku melirik Raka.


"Aku juga gak ada nyembunyiin apa-apa," ucap Raka ragu.


"Kak Farhan pamit ya, semoga kamu cepat sembuh Vin," ucap kak Farhan sebelum pergi.


"Iya, makasih kak udah jenguk Vina," aku tersenyum.


"Aku antar kak Farhan keluar," ucap Raka dan aku mengangguk.


Raka dan kak Farhan berjalan ke pintu. "Kak, aku gak bisa terus-terusan bohong gini."


"Kalau kamu jujur, Vina bakal kecewa dek, karena baru kamu kasi tau sekarang."


"Tapi apa tidak sebaiknya memang lebih baik terlambat, daripada menyakitkan untuk Vina nantinya."


"Aku gak tau dek, yang menurut kamu Vina bakal nerima aja sih," ucap kak Farhan membuat Raka bingung.


"Tapi, apa mungkin Raka-


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu (teman) oke 😉

__ADS_1


Annyeong 🤗


__ADS_2