Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Gak mau


__ADS_3

"Kita mau kemana?" tanyaku saat di mobil.


"Temenin aku ya?"


"Hah? apaan kemana?" tanyaku lagi.


"Temenin aku pengen-


"Aku gak mau," ucapku cepat memotong ucapan Raka.


Raka mengernyit kan dahinya, "kamu gak mau temenin aku?"


"Ih apaan coba, gak mau."


"Terus kamu mau pulang? gak mau temenin aku mau potong rambut?"


"Oh potong rambut," ucapku lega mengetahui Raka ingin mengajak ku potong rambut.


"Emang kamu pikir aku ajak kemana?"


"Ya gak tau," jawabku tidak enak pada Raka karena sudah suudzan.


"Hayo apaan? kamu pasti mikir nya aku minta temenin yang aneh-aneh ya?"


Aku hanya cengengesan. "Lucu banget sih cantiknya Raka," ucapnya mencubit pipi ku.


"Kenapa mau di potong rambut nya, udah bagus gitu aja cocok."


"Yah biar penampilan nya lebih keren gitu, lebih ganteng," ucapnya mengedipkan matanya.


"Siapa yang bilang kamu ganteng?"


"Cewek-cewek di kampus, pada bilang aku ganteng"


"Oh jadi kamu mau potong rambut, cuma buat cewek-cewek di kampus? biar keren juga?"


"Iya dong."


"Idih males," ucapku cemberut dan mengalihkan pandangan ke kaca pintu mobil.


"Tapi kan cantiknya Raka tetap DEVINA CAHAYA, wanita tercantik kedua menurut Raka setelah mama."


"Halah, gak bisa di percaya kalau gini omongan nya."


"Ya elah sayang ku yang cantik, manis, sampai semut pun takut untuk mendekati karena kemanisan. Denger ya, aku setia loh orang nya."


"Masa?"


"Kamu perlu bukti apa?"


"Gak perlu deh."


"Berarti percaya kan sama Raka?"


"Enggak!"


"Kenapa gak percaya?"


"Iya gak percaya aja, emang perlu alasan juga."


"Yah kirain karena Raka ganteng gitu," ucapnya menatap ku.


"Idih" aku memalingkan wajahku.


Raka tertawa melihat ku.

__ADS_1


Kembali fokus pada jalan, menuju barber shop.


Tak lama kita sampai.


"Ayo Vina" ajaknya.


"Vina disini aja lah."


"Kenapa disini, ayo ikut masuk. Kamu duduk di kursi tunggu, di belakang aku gunting rambut nanti."


Aku menghela nafas berat, "iya deh"


"Di sana temen aku kok," ucapnya aku mengangguk.


Aku dan Raka turun, Raka menggandeng tangan ku masuk ke barber shop.


"Wihh lihat siapa yang datang do," ucap teman Raka.


"Kenapa gak bilang mau kesini, kan gue siapin red karpet buat lu sama cewek lu," sambung teman satunya.


"Kenalin ini Vina, tunangan gue, dan Vina ini pandu dan Aldo teman SMA aku," ucapnya memperkenalkan temannya.


Teman Raka menjulurkan tangannya, aku tersenyum menerima nya.


"Mantap lu ya, sarjana nanti langsung married," ucap Aldo.


"Cantik lagi, pakai hijab."


"Makasih," ucapku tersenyum.


"Iya doakan aja yang terbaik," jawab Raka melirik ku.


"Lu mau potong rambut kan?"


"Yakali numpang makan."


"Aku duduk situ ya," ucapku pada Raka dan di balas anggukan.


"Lu udah lama gak bareng kita nongkrong ka, ternyata udah ada tunangan."


"Gue sibuk tau, banyak tugas juga."


"Ya udah, lu mau potong gimana rambutnya?" tanya pandu.


Raka membisikkan sesuatu ke pandu. "Oke kan?"


Pandu hanya mengangguk, sedikit ramai di tempat ini, dan semuanya cowok.


"Vina?" panggil seseorang.


Aku menoleh, "siapa ya?


"Aku Dimas, yang ketemu kamu di mini market."


Aku mengingat siapa Dimas, "Oh Dimas, maaf ya aku pelupa orang nya, pelupa akut."


"Pelupa aja akut ya Vin," ucapnya tertawa.


"Aku boleh duduk disini?" ucapnya.


"Oh boleh, kamu apa kabar?"


"Baik Vin, kamu gunting rambut disini?" sambil mendudukkan dirinya di kursi.


"Gak, bukan aku. Tapi dia," aku menunjuk Raka.

__ADS_1


Ternyata Raka melihat ku dari kaca.


"Oh pacar kamu yang dulu jemput di minimarket bukan?"


Aku mengangguk tersenyum.


"Kamu sama siapa kesini? dan ngapain?" tanyaku.


"Aku kesini sendiri, mau beli sayur"


"Oh gitu."


"Lah percaya dia, aku becanda kali Vin, yakali beli sayur di barber shop."


"Ya Vina kan gak tau, gimana kalau masnya sambil jualan sayur."


"Iya juga sih, tapi aku kesini mau gunting rambut juga," Aku tersenyum setengah tertawa.


Gimana tuh ya? kagak tau gue. Okay.


Aku memainkan ponselku di dekat Dimas.


"Vina."


"Iya," aku menatap Raka memakai topi.


'Kayanya tadi gak pakek topi deh'


"Kamu udah?"


"Iya udah selesai."


"Dimas, aku duluan ya."


"Gue duluan ya bro," ucap Raka menepuk bahu Dimas lalu pergi.


Dimas mengangguk, "gak salah tuh orang, dulu aja kek kulkas berjalan, apa sekarang bucin? jadi begitu."


"Kenapa bang?" tanya Aldo juga ikut menatap kepergian ku dan Raka.


"Ya itu Vina sama pacarnya, dulu aja pacarnya itu kek kulkas, marah karena dekat gue di minimarket, eh sekarang malah sopan juga," ucap Dimas.


"Iya, dia teman saya bang," ucap Aldo.


"Oh" ucap Dimas menoleh dan kaget melihat Aldo di dekatnya.


"Maaf bang, gak tau kalau ada orang," ucap Dimas.


"Gak masalah bang, ayo kalau mau gunting leher."


"Astaghfirullah"


"Eh salah bang, gunting rambut," ucap Aldo tertawa dan pergi mempersiapkan peralatan.


"Aduh ngeri kali, teman nya ternyata lebih mengerikan," ucap Dimas bergidik.


Namun tetap mendekati, karena ingin potong rambut.


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu (teman) oke 😉


Annyeong 🤗


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2