
Sebelum subuh Nina sudah terbangun dari tidurnya, ia mengikuti saran Vina yang sudah lebih dulu berpengalaman. Nina ke kamar mandi sambil membawa alat test kehamilan nya, ia menunggunya di kamar mandi selama 2-5 menit biasanya atau sesuai yang di anjurkan tertera di tempat testpack.
"Hasilnya apa ya? Kok aku jadi deg-degan gini." Ucap Nina di dalam kamar mandi belum mengangkat testpack nya.
Tak lama Nina mencoba mengambil alat itu, sambil memejamkan matanya. Setelah sudah ada di depan matanya, ia mencoba membuka matanya dengan perlahan.
"Kok gak ada garisnya? Apa kurang lama ya?" Nina melihat nya dengan bingung.
"Eh ternyata terbalik, bodoh kali aku ini." Nina tertawa sendiri lalu berhenti sejenak, dan mulai meneteskan air matanya saat melihat garis nya ada dua sambil menutup mulutnya.
Nina menenangkan dirinya, setelah tenang mencuci wajahnya dan keluar duduk di tepi ranjang menunggu Hendry bangun tidur untuk shalat subuh.
Beberapa menit menunggu Hendry, Nina mendengar suara adzan. Nina tetap berada disisi Hendry untuk memberitahu pada suaminya, bahwa dirinya telah mengandung walaupun belum ia periksakan hanya ia lihat dari hasil tes kehamilan.
Tak berapa lama dari adzan subuh berkumandang, Hendry menggeliat dan perlahan membuka matanya. Ia terkejut istrinya menatap dirinya sedang duduk di tepi ranjang.
"Kamu ngapain duduk disitu, lihatin aku seperti itu?" Tanya Hendry mengucek matanya sambil duduk menatap Nina.
"Aku nungguin kak Hendry dari tadi."
"Hah? Ngapain nungguin aku? Kenapa gak langsung bangunin aja?" Tanya Hendry.
"Gak apa, aku cuma mau tunjukin sesuatu buat kak Hendry."
__ADS_1
"Apaan? Udah subuh, kita shalat dulu ya." Nina mengangguk menyimpan nya di dalam laci selagi Hendry masuk kamar mandi, akan ia tunjukkan nanti setelah selesai shalat subuh.
Setelah melaksanakan shalat subuh, Hendry berbalik menghadap istrinya. Nina mencium tangan Hendry dan Hendry mengecup kening Nina.
"Sesuatu apa yang mau kamu tunjukin sama aku tadi?" Tanya Hendry.
"Tunggu sebentar!" Nina beranjak untuk mengambil alat kecil itu yang ia simpan di dalam laci.
Hendry menaikkan satu alisnya, ia bingung apa yang akan Nina berikan.
Hendry melihat apa yang ada di tangan Nina, namun tidak terlihat karena sudah Nina masukkan di dalam mukenah.
"Kamu tutup mata dulu!" Ucap Nina tersenyum menyuruh Hendry menutup mata.
"Apa sih yang mau kamu tunjukin? Ribet banget perasaan." Ucap Hendry sambil menutup mata.
"Sayang, udah boleh buka mata belum?" Tanya Hendry.
"Sekarang buka mata kamu."
Hendry membuka nya perlahan, dan yang ia lihat wajah istrinya.
"Mana yang mau kamu tunjukin?" Tanya Hendry lagi.
__ADS_1
"Ini barang nya ada di tangan aku." Hendry melihat ke tangan Nina.
"Ini bukannya alat-
Hendry menatap wajah Nina.
Nina mengangguk, "iya ini alat tes kehamilan."
"Jadi maksudnya, kamu hamil?" Hendry melihat alat itu dan garisnya ada dua.
Nina kembali mengangguk, Hendry tersenyum dan memeluk Nina.
"Tapi belum pasti juga, karena ini alat test kehamilan aja. Belum periksa ke dokter."
"Besok kita periksa ke dokter, aku bakal izin dulu ke Adit mau antar kamu ke rumah sakit."
"Berarti kita jangan bilang dulu ke mama sama papa, takut nya ini hanya alat nya yang salah."
"Kita bilang sama orang tua dan sahabat kita nanti aja, setelah kita periksakan ke dokter." Hendry juga segera menghubungi Adit, karena Hendry tahu sahabat nya itu sangat agamis. Di jam segini sudah pasti sudah bangun dan selesai shalat subuh. Hendry ingin izin untuk mengantar istri nya ke rumah sakit, dan akan telat berangkat ke kantor.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellaahmad98
See you...