
Subuh aku terbangun, dan segera meraba sekitar bantal mencari keberadaan ponselku.
Ternyata aku dan Raka masih dengan panggilan video call dari tadi malam.
"Raka," aku memanggil Raka.
"Raka, bangun! udah subuh," panggilku. Namun masih tak ada jawaban dari Raka.
"Raka, bangun ih! udah subuh loh."
"Hm apa sayang? pagi-pagi udah teriak."
"Lagian, Vina panggil gak jawab sih," balasku.
"Iya, ini udah dijawab."
"Yaudah sholat yuk, udah subuh! Vina matiin ya."
"Morning kiss dong," pintanya.
"Raka, mulai deh."
Raka tertawa, "bercanda aja sayang, yaudah matiin ya, kita sholat."
Aku dan Raka mematikan panggilan video call nya.
Lalu aku berlalu ke kamar mandi untuk mandi, dan sholat subuh.
...°~°...
Aku dan ila menyiapkan apa yang akan kita bawa ke rumah papa, perlengkapan baju ganti dan bawaan lainnya.
Walaupun gak ada rencana mau menginap, kita juga tidak tau nantinya disana akan berubah atau tetap dengan pendirian kita yang tidak mau menginap. karena mama juga mengatakan, kalau bisa tidak usah menginap di sana.
"Ma, memangnya ila dan kak Vina punya papa berapa?"
Aku mama dan papa saling menatap, karena memang sebelumnya pernah memberi tau. Namun ila tidak mengerti.
Karena papa dan mama sudah seperti keluarga yang utuh menurutnya.
"Papa david itu papa kandung kamu, dan papa yang ini(papa menunjuk dirinya) papa kedua kamu, atau bisa di bilang papa sambung kamu."
''Berarti ila dan kak Vina punya papa 2, Tapi ila tetap lebih sayang sama papa," ucapnya memeluk papa.
Papa nampak berkaca-kaca memeluk ila dan mengusap kepalanya lembut.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Ma, itu sepertinya Raka udah datang deh, Vina bukain pintu dulu ya." Mama dan papa mengangguk, dan aku langsung beranjak mendekati pintu, untuk membukanya.
Cklek...
"Pagi cantik," ucapnya.
Aku tersenyum, "Pagi, ayo masuk!" ajak ku pada Raka.
Kita berjalan masuk bersama kedalam rumah.
Aku melihat ila dan papa nampak bersedih, melihat itu aku dan Raka saling menatap.
"Eh Raka, maaf ya, biasa drama pagi," ucap mama.
"Gak apa tante," jawabnya tersenyum.
"Mana barangnya yang mau dibawa? biar aku bawain ke mobil," tanya Raka.
"Aku udah siapin kok, tinggal bawanya aja, gak banyak sih, dikit aja."
"Itu." Aku menunjuk barang yang akan dibawa. Ada koper, tas ransel, dan tas selempang aku dan ila.
'Ini juga banyak kali , dikit gini? terus kalau banyak nya Vina itu gimana?' batin Raka
"Raka udah sarapan belum? kalau belum bareng sama Vina dan ila," ucap mama.
"Gak apa sana, ajak Raka, Vin." Mama menyuruh ku mengajak Raka sarapan bersama.
"Ayo sarapan dulu!" ajak ku
Aku dan Raka berjalan ke meja makan.
__ADS_1
"Vina, aku tadi udah sarapan loh, aku masih kenyang."
"Yaudah, temenin Vina sarapan sama ila."
"Iya deh aku temenin," ucapnya mengelus kepalaku.
"Woy ila udah gede, jangan uwu-uwu depan ila dong," ucapnya cemberut.
Aku dan Raka tertawa melihat ila. "Kasian mblo" jawabku.
"Sebenarnya ila ada yang nembak, cuma ila tolak, karena masih SMP, nunggu ila SMA aja."
Aku dan Raka saling menatap. "Jangan pacaran dulu kalau bisa il," ucap Raka.
"Kenapa kak? kak Vina sama kak Raka aja dulu pacaran waktu sekolah," balasnya
Membuat aku dan Raka terdiam.
Lanjut makan tanpa menjawab lagi, karena aku dan Raka, memang pernah pacaran waktu sekolah.
Setelah makan aku dan Raka keluar, membawa barang yang akan kita bawa.
"Ma pa, Vina sama ila berangkat ya," ucapku berpamitan pada mama dan papa.
"Iya, hati-hati di jalan kalian! Raka, kamu bawa mobilnya pelan aja ya."
"Iya om, pasti. Apalagi bawa 2 bidadari nya om dan tante."
Aku dan ila tersenyum. "Yaudah, berangkat kalian sekarang! nanti keburu siang."
"Kalau bisa jangan nginep ya!" ucap mama
Aku dan ila saling menatap.
"Itu jauh loh ma, 1 jam an dari sini. Kalau mau cepet apa sekalian aja gak usah kesana?" jawab ku.
Memangnya menurut mama, kita gak capek pulang pergi.
"Udah lah ma, gak apa mereka menginap semalam."
"Iya gak apa, kalian hati-hati ya!" ucapnya lagi.
Setelah di perbolehkan untuk menginap, aku Raka dan ila pamitan.
Mereka tidak boleh egois, untuk tidak mempertemukan orang tua dan anak kandungnya.
...°~°...
Di perjalanan di mobil
Aku dan Raka di depan dan ila di kursi penumpang.
"Kak, apa papa kandung kita baik?" tanyanya.
"Baik banget kalau papa mah, waktu kecil kak Vina selalu dimanja."
Namun tersadar karena ila belum pernah merasakan apa yang aku rasakan dulu.
Aku melihat ila, yang langsung menatap pemandangan di luar, dari kaca pintu mobil.
"Ila," panggilku.
"Apa?" jawabnya.
"Maaf ya, kak Vina ngomong gitu." Aku menoleh ke belakang merasa bersalah dengan apa yang aku ucapkan.
"Gak apa kok kak, ila malah penasaran dengan papa kandung ila, seperti apa."
Aku dan Raka tersenyum, karena ila tidak marah sama papa dan mau bertemu.
Di perjalanan menuju ke rumah papa, karena menempuh waktu sekitar 1 setengah jam. Ila tertidur, dan aku masih tetap mengobrol dengan Raka.
"Kamu bawa baju ganti gak?" tanyaku
"Aku ada kaos 1," jawabnya.
"Kalau gak ada, nanti bisa pinjam punya sepupu Vina disana."
Raka langsung menoleh ke arah ku, "pinjam punya papa kamu aja," jawabnya.
"Loh kenapa? kan sepupu Vina baik semua apalagi ada yang di bilang mirip banget sama Vina loh," balasku tersenyum.
__ADS_1
"Ganteng berarti?" tanyanya.
"Menurut Raka, Vina cantik gak?" jawab ku dengan tanya balik.
"Cantik banget."
"Nah itu sepupu Vina juga ganteng banget," balasku.
Raka langsung berubah mimik wajahnya. "Tapi, tetep lebih ganteng Raka menurut Vina," aku melanjutkan ucapanku.
Raka langsung tersenyum menatapku, "kamu juga yang paling cantik dimata Raka setelah mama ria," ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Aku membalasnya dengan tersenyum.
Lalu aku juga ikut tertidur seperti ila. "Vina," panggil Raka mengelus pipi ku.
"Hm" jawabku menggeliat menatap Raka.
"Maaf ya, aku bangunin. Soalnya aku lupa tadi alamatnya," ucapnya tersenyum.
Bangun tidur di disuguhkan sama yang manis-manis.
"Gak apa kok, alamat nya jalan prof.A yamin," jawabku.
"Oke sayang, sekarang tidur lagi."
"Gak apa, aku temenin kamu aja ngobrol, kamu gak capek? kalau capek berhenti aja dulu," ujarku menyuruh Raka agar istirahat dulu kalau capek.
"Bentar lagi juga sampai," jawabnya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
...°~°...
Mobil Raka telah terparkir di depan rumah papa.
Aku membangunkan ila agar bangun, "ila bangun! udah sampai," ucapku membangunkan ila.
Ila menggeliat dan melihat sekeliling, "udah sampai kak?" tanyanya aku membalasnya dengan mengangguk.
Tak lama ada seseorang dari dalam rumah keluar. "Papa" ucapku.
"Raka, ila, ayo kita turun!" ajakku.
Aku dan Raka turun, dan menghampiri seseorang yang berdiri di depan pintu itu.
Aku sedikit berlari dan memeluknya, "PAPA..." teriakku dan menangis melihat sosok seseorang yang aku rindui selama 13 tahun ini.
Papa membalas pelukanku dan menangis.
Lalu aku melepasnya, "Papa apa kabar?" tanyaku.
"Baik nak," jawabnya sambil melirik ke arah ila dan Raka di belakangku.
"Oh iya Vina lupa, coba papa tebak ini siapa?" ucapku menunjuk ke arah ila.
"Ila," ucapnya berkaca-kaca.
Papa mengetahui nama ila, karena pernah menanyakan nama nya pada mama.
"Papa," ucap ila juga terharu karena baru pertama kali nya bertemu dengan papa kandung.
"Sini nak," ucap papa agar ila mendekat dan memeluknya.
Ila mendekat dan memeluknya erat, ila dan papa menangis disana.
Sampai ada beberapa tetangga yang datang, untuk melihat siapa yang datang kerumah papa.
Papa dan ila melepas pelukannya, menangis sampai tersedu-sedu dan beralih menatap ke arah Raka.
"Pa, kenalin-
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
__ADS_1
.