
Sekarang aku sudah kelas XII IPS, Raka sudah kuliah. Kak Hendri dan kak Adit pun sama. Sama seperti sebelumnya, kak Adit tetap mengirim pesan, dan ngajak balikan.
"Vina, Naya, aku mau cerita, aku lagi galau tau," ucap Nina.
"Kamu kenapa nin?" tanya Naya.
"Cowok yang aku ceritain kemarin, sekarang hilang. Dasar cowok sekarang pada suka ghosting," ujarnya.
"Ini sebenarnya bukan cowok itu yang ghosting nin, tapi kamu aja yang berekspektasi terlalu tinggi sama dia, karena prinsip nya, seseorang hanya ingin mengenal dan penasaran. Setelah sudah mengetahui apa yang dia ingin ketahui, yah udah gitu aja pergi tanpa berpamitan."
"Intinya seseorang mencari yang terbaik menurut nya, tanpa mencari tau lagi sisi lain dari orang itu," timpal Naya.
"Aku juga random sih gak pernah ketemu, dia jauh di luar kota," ucap Nina.
"Apalagi jauh nin, dia juga butuh menggenggam tangan seseorang yang nyata, bukan virtual."
"Tapi kata-kata dia, di pesan maupun sedang telpon bikin aku meleyot," balasnya.
"Terus kamu belum ketemu aja udah baper?" tanyaku.
Nina mengangguk.
"Baper kok sama ketikan," balas Naya dengan nada mengejek Nina yang gampang baper.
huaaaaaa ðŸ˜
"Nah kan Nina baperan sih, lain kali kalau dekat sama cowok, kamu biasa aja nin. Sampai dia benar-benar nunjukin kalau dia itu serius sama kamu," ujar naya.
__ADS_1
"Soalnya sebelum aku tidur, dia telpon aku sampai aku ketiduran, lama-kelamaan kok nyaman gitu, tapi terakhir dia memang bilang gini.
"maafin aku Nina, aku memilih mundur, karena kemungkinan nya itu kecil buat kita ketemu," ucap Nina menirukan apa yang cowok itu katakan.
"Nah kan, itu sih bukan ghosting nin, dia udah pamitan sama kamu. Tapi karena kamu sudah baper banget, jadi mengira dia pergi tanpa berpamitan," jawab Naya.
"Tapi sumpah aku udah sayang sama dia, aku sedih dia juga suaranya terdengar seperti menahan tangis," ucap Nina.
Aku tidak ada membalas lagi yang mereka bicarakan, aku hanya diam mengingat aku dan kak Adit, tanpa masalah tapi aku memilih mundur, karena satu alasan kuat.
Tatapan ku kosong, Naya dan Nina saling menyenggol lengannya.
Senggol-senggolan oey bacok-bacokan assekkk..
Eh maaf lanjut.
"Eh vina gak kenapa-napa," jawabku cepat.
Tak lama bel sekolah bunyi, pertanda masuk jam pelajaran.
Setelah belajar mengajar, kita pulang.
Di parkiran
"Bukannya itu kak Adit Vin?" ucap Naya.
"Iya itu kak Adit, tapi sama siapa dia," ujar Nina melihat kak Adit membawa seseorang.
__ADS_1
Aku melihat ke arah kak Adit di parkiran.
'Ngapain dia kesini, bawa cewek segala, apa kak Adit mau manas-manasin aku ya.' batinku
Aku tetap menuju motor, tanpa memperdulikan keduanya.
"CAHAYA..." ucapnya.
Aku melirik sebentar dan menstater motor.
"Naya Nina, Vina pulang duluan ya," ucapku melajukan motor meninggalkan kak Adit yang memanggil ku.
Aku melajukan motor ku, dengan kecepatan sedikit tinggi dari biasanya.
Sambil menangis di jalan, "Kenapa kak Adit selalu muncul di hadapan ku," ucapku.
Tak lama aku menghentikan motor ku, dipinggir jalan, dengan melanjutkan tangisan ku disana. Memukul motor ku sendiri dengan tangan, sampai merah dan terasa sakit.
"Kamu gila ya, melukai tangan kamu seperti ini. Kalau udah bosan hidup, ketengah jalan sana, biar di lindes," ucap seseorang menghentikan tanganku yang sedari tadi memukul motor.
"LEPAS..." Aku meninggikan suara, dan berhenti setelah melihat orang itu siapa.
.
.
.
__ADS_1
bersambung 💃💃💃