
Vina belum menoleh saat orang yang ia kenal suaranya itu mendekat.
"Siapa orang yang kamu maksud? Apa aku ini, masuk daftar orang yang membuat kamu bertahan?" Tanya nya sudah di dekat Vina.
Vina hanya diam tanpa menoleh, ia hanya menatap makam Raka di depan nya.
"Cahaya," panggil nya membuat Vina melirik ke samping, yang pertama ia lihat adalah sepatu orang itu.
"Apa kamu tidak merindukan aku? Apa kamu membenciku?"
"Kenapa datang lagi? bukankah sudah menghilang."
"Apa maksud kamu menghilang? Aku tidak kemana-mana, aku tetap menunggu kamu kembali."
"Lalu kenapa tidak memberi kabar? itu sama saja menghilang. Tidak berkunjung kerumah, tidak lagi menunggu kabar ku." Adit juga ikut mendudukkan dirinya di dekat Vina.
"Apa kamu merindukan ku, sampai kamu begitu menunggu kabar ku?" Tanya Adit tersenyum.
"Aku hanya mengira bahwa kak Adit sudah pergi, itu artinya kak Adit sudah bosan dengan ku yang seperti ini."
"Hei, lihat aku! Cahaya." Adit memegang dagu Vina agar menoleh ke arahnya. Wajah yang ia rindukan kini ada di depannya.
Vina menatap lekat wajah Adit. "Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu? "
"Karena kak Adit tidak ada kabar saat aku berjuang dengan penyakit ku disana, aku langsung beranggapan jika kak Adit sudah bosan menunggu wanita lemah sakit-
Adit meletakkan telunjuknya di bibir Vina, ia tidak ingin mendengar Vina melanjutkan ucapannya itu.
"Sejak kapan aku seperti itu? apa pernah selama kamu mengenalku, aku menjauhi kamu?" Tanya Adit yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Vina.
"Malahan kamu yang selalu menghindar, saat kamu bersama Raka. Jangan berkata bahwa kamu wanita lemah yang sakit-sakitan, aku tidak menyukainya. Mengerti!" Vina hanya mengangguk.
"Bagaimana kak Adit tahu, aku disini?"
__ADS_1
"Feeling, aku merasa tempat pertama yang kamu datangi pasti disini. Sekalian untuk meminta izin pada Raka." Ucapnya memandang makam Raka, membuat Vina menaikkan satu alisnya.
"Maksud kak Adit, meminta izin pada Raka?" Vina menatap wajah yang ia rindukan selama di luar negeri.
"Meminta izin untuk melamar kamu menjadi istri ku." Adit menatap wajah Vina yang terkejut.
"Apa maksud dari ucapan kak Adit?" Tanya Vina dengan wajah terkejut nya.
Adit memegang tangan Vina dan mereka saling bertatapan.
"Aku Adit Raymond. Di depan makam Raka ini, aku melamar kamu menjadi istriku Devina cahaya." Vina melotot mendengar ucapan Adit.
"A-apa yang kak Adit lakukan? a-ku sudah pernah mengatakan, bahwa aku-
"Mama sama kedua papa kamu menyetujui nya, dan terakhir jawaban kamu."
"APA..? Mama sama papa setuju?" Belum selesai dengan keterkejutan nya saat Adit melamar, ditambah terkejut dengan perkataan Adit yang mengatakan jika orang tuanya sudah setuju.
"Kenapa mereka menyetujui nya?"
"Karena aku calon menantu idaman mereka." Vina memukul lengan nya, masih saja bercanda saat di tanya serius.
"Kenapa dipukul? aku kan serius cahaya."
"Aku bertanya kenapa malah bercanda."
"Siapa yang bercanda, aku memang calon menantu sekaligus calon suami idaman."
"Aku hanya heran, bagaimana bisa mereka menyetujui jika kita menikah. Sedangkan-
Vina menatap wajah Adit sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Sedangkan agama kita berbeda? itu yang ingin kamu katakan?" Tanya Adit yang di angguki oleh Vina.
__ADS_1
"Aku sudah lama mempelajari agama islam, aku mulai memperdalam pengetahuan baru itu semenjak aku berpacaran dengan mu, empat tahun lalu."
"Lalu, apa hubungannya orang tuaku yang menyetujui kita menikah dengan kak Adit mempelajari agama islam?" Tanya Vina yang bingung dengan jawaban ambigu dari Adit.
"Orang tua kamu menyetujui kita menikah, karena aku sudah mualaf." Vina kembali membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka.
"Jadi-
Adit mengangguk, seakan tahu apa yang akan di katakan Vina.
"Kenapa kak Adit pindah? bagaimana tanggapan orang tua kak Adit?"
"Mama sama papa tidak mempermasalahkan ini. Menurut mereka tuhan kita sama, hanya cara menyembahnya yang berbeda."
"Lalu, kenapa kak Adit memutuskan untuk menjadi mualaf? apakah karena terpaksa?" Adit menggeleng kan kepalanya.
"Aku tidak terpaksa sama sekali. Menurut ku selama empat tahun ini aku belajar agama, merasa lebih tenang saat aku berada di dalam masjid dari pada saat berada di gereja. Aku menghilang berapa minggu ini, karena belajar mengaji di masjid tempat aku melafazkan dua kalimat syahadat."
Vina meneteskan air matanya terharu dengan Adit.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Adit.
"Aku hanya terharu, tidak ada lagi perbedaan keyakinan diantara kita."
"Lalu?" Tanya Adit menaik turunkan alisnya.
"Apaan?"
"Apakah tuan putri ini, menerima lamaran pangeran tampan ini?" Tanya nya tersenyum.
Vina yang tadinya tersenyum, saat Adit kembali bertanya senyuman di wajahnya menghilang.
Adit yang melihat itu juga menatap serius ke arah Vina. Ia sangat berharap, walaupun akhirnya menyakitkan dan dirinya kembali kecewa. Tidak akan mengubah keteguhan hatinya untuk tetap menjadi seorang mualaf.
__ADS_1