
Vina dan Adit keluar dari ruangan meeting, dilihatnya oleh Dimas tangan yang melingkar di pinggang Vina. Hendri dan juga teman-teman Vina mengetahui tatapan mata mendamba dari Dimas. Mereka ikut keluar dan menyusul ke ruangan Adit.
"Apa Dimas tadi yang mengantarmu ke kampus?" Tanya Adit setelah di ruangannya.
Vina mengangguk, ia masih bingung dengan yang ia ketahui. "Kamu kenapa, sayang?"
"Aku gak apa kak."
"Sepertinya, laki-laki itu menyukai kamu."
"Kak Adit ada-ada saja, harusnya mencintai yang berpakaian seksi bukan yang hanya pakai celana dan kemeja, apalagi berhijab." Vina tertawa menanggapi ucapan Adit.
"Tapi, gue lihat memang anak pak baskara suka sama Vina." Ucap Hendri yang baru saja masuk bersama dua teman Vina.
"Gue juga pikir begitu, orang bukan melihat dari penampilan saja, tapi paras dan juga sikap."
"Siapa yang gak tertarik sama kamu? Hendri aja lebih dulu daripada aku." Vina melirik Hendri tidak enak karena pernah menolak, begitu juga Hendri yang langsung salah tingkah saat Adit membuka cerita lama.
"Tapi aku sama Dimas hanya berteman kak, mana mungkin Dimas suka sama aku. Tadi itu mungkin Dimas mau nyapa, cuma gak enak lagi banyak orang."
"Cahaya, aku ini laki-laki, jadi ngerti arti tatapan Dimas tadi sama kamu. Kamu tidak lihat tadi dia mengepal tangannya saat aku memperkenalkan kamu istri aku yang sedang mengandung."
"Itu hanya perasaan kak Adit, dia dulu kan kerja di mini market dekat rumah. Lagian kita juga bisa menggenggam tangan seperti mengepal, bisa aja sedang lelah untuk merilekskan otot tangan."
Adit yang mendengar itu beranjak dari duduknya, dan duduk di kursi nya sendiri. Rasanya ingin marah saat istrinya tidak mempercayai yang ia lihat, tapi ia tahan, karena Adit sangat menyayangi Vina, apalagi istrinya sedang mengandung. Adit tidak mau membuat Vina membencinya, biar saja dirinya yang akan mencari tahu sendiri tentang Dimas, dan menunjukkan nya pada Vina, bahwa Dimas menyukainya.
Vina menatap suaminya yang duduk menjauh darinya, ia merasa bersalah, ia menatap Hendri dan kedua sahabatnya. Meminta jawaban apa benar yang di katakan Adit.
"Aku hanya ingin bilang sama kamu vin, jangan terlalu dekat dengan Dimas. Walaupun menurut kamu hanya berteman, tapi itu bisa membuat Dimas semakin mendapat banyak peluang kesempatan bisa berdekatan dengan kamu." Hendri tahu sahabatnya marah, namun karena tidak ingin memarahi istrinya, sahabatnya itu memilih menjauh dan tidak mau berdebat yang akan memperbesar masalah.
"Aku juga melihat nya vin, tatapan nya sama kamu berbeda dengan saat dia menatapku." Ucap Nina membuat semuanya menoleh kearahnya.
"Emm kenapa semuanya menatapku? Bukannya benar apa yang aku katakan? Kalau tatapan nya sama dengan dia menatap Vina, bukankah itu tanda nya dia juga menyukai ku?" Tanya Nina. Tapi ada benarnya juga menurut mereka, kalau seseorang menyukainya, pasti tatapan nya berbeda dengan cara nya menatap orang lain.
__ADS_1
"Tumben juga sahabat aku yang ini encer pikirannya, dan ucapannya bisa masuk akal." Timpal Naya.
"Keluar aja sendiri tiba-tiba, mungkin setelahnya tertutup lagi." Mereka tertawa mendengar ucapan Nina, ada-ada saja pikir mereka. Hanya Adit yang hanya menatap kosong laptop di depannya.
Hendri memberi kode Vina, bahwa dirinya dan kedua sahabatnya akan keluar, supaya Vina bisa mengobrol berdua dengan Adit.
"Kak Adit," ucap Vina setelah temannya keluar.
Adit menoleh kearah istrinya, mencari keberadaan tiga orang tadi sudah tidak ada.
"Kemana mereka?" Tanya Adit.
"Mereka sudah keluar." Vina berdiri mendekati Adit.
"Apa kak Adit marah dengan ku? Apa kak Adit ragu kalau aku ini sayang sama kak Adit?" Tanya Vina. Adit hanya melirik istrinya tanpa menjawab.
"Aku ini istri kak Adit, aku juga tahu batasan berteman dengan laki-laki kak. Kalau Dimas memang menyukai aku, bukannya itu urusan dia, yang terpenting sekarang itu kak Adit yang suami aku." Lanjutnya. Namun Adit tetap tidak membuka suara.
"Kalau kak Adit tetap tidak ingin berbicara dengan aku disini, lebih baik aku pulang kak." Vina hendak berbalik, tapi Adit sudah lebih dulu memeluknya.
"Apa masih ada yang mau menerima wanita hamil? Lagipula yang aku bingungkan, kenapa baru sekarang Dimas menyukai aku? Bukankah sebelumnya kita juga pernah bertemu?" Adit mendongak melepas pelukannya.
Adit juga nampak berpikir, apa sebenarnya yang di inginkan Dimas? Apakah masalah pekerjaan? Tapi bagaimana bisa mendekati istrinya. Adit yakin ada sesuatu yang di sembunyikan Dimas, kalau sampai benar-benar menyukai istrinya, Adit tidak akan tinggal diam. Ia takut terjadi sesuatu yang akan membahayakan istri dan calon anaknya.
"Kak Adit, kenapa diam?"
"Eh, kamu lapar?"
"Aku udah makan kak, nanti aja lagi dirumah."
"Kamu duduk dulu ya, aku mau selesaikan kerjaan aku sebentar. Setelah itu kita pulang." Vina mengangguk dan Adit mencium perut Vina sambil mengusapnya.
"Jangan sampai seseorang mengacau rumah tanggaku, aku mengharapkan Cahaya sebelum laki-laki itu mengenalnya. Ya Allah, hamba mohon. Tetapkanlah jodoh hamba itu istri hamba sekarang, jangan sampai kami di pisahkan, lindungilah keluarga kecil hamba ini ya Allah." Batin Adit menatap istrinya yang sedang duduk.
__ADS_1
Vina tersenyum menatap Adit, begitu juga Adit yang membalas senyuman istrinya.
...******...
"Kak, aku mau makan diluar seperti kita saat pacaran dulu." Ucap Vina tiba-tiba.
"Seperti saat kita pacaran dulu? Bukannya kita hanya makan di lamongan?"
Vina mengangguk, "aku ingin makan di tempat kita makan dulu."
"Disana kamu akan mengulang lagi makan sambal terasi?"
"Bukan, aku akan mengulangi tersenyum kepada mas nya."
"Sayang, kenapa kamu suka sekali membuat aku cemburu?" Memang itu yang Vina harapkan, ia memang sengaja membuat suaminya itu cemburu.
"Aku juga ingin-
"Ingin apa lagi?"
"Sabar ayah Adit, ibu Vina hanya ingin di bonceng dengan moge yang ada di garasi."
Adit terkejut dengan permintaan istrinya. "Aku gak akan izinkan itu, nanti kamu alergi lagi. Aku gak mau membahayakan kalian berdua."
"Ini namanya ngidam kak, anak kak Adit mau di bonceng ayahnya naik motor gede." Vina menarik tangan Adit agar mengelus perutnya.
"Jangan minta macam-macam ya nak, ayah gak mau buat kalian sakit."
"Aku sama ibu gak sakit kok, kita akan baik-baik saja ayah." Vina menirukan suara anak kecil, bagaimana mungkin Adit menolaknya. Adit selalu gemas dengan istrinya, Adit begitu menyayangi Vina melebihi menyayangi dirinya sendiri.
Akhirnya Adit memenuhi keinginan istrinya dengan menggunakan motor gedenya, tapi syaratnya harus menggunakan jaket tebal, kaos kaki dan juga masker serta kaca helm yang harus di tutup.
Pakaian serba hitam, jadi seperti ninja hihihi.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
See you...