
Pernikahan Naya dan Dimas kini sudah waktunya hari yang di tunggu para sahabatnya telah tiba, tapi bukan mereka berdua yang mengharapkan. Mereka hanya mencoba menerima karena sahabat dan orang tua nya yang menyukai pernikahan ini.
Naya berbalut baju pengantin yang sangat elegan, papa dari Dimas ingin menantunya terlihat sangat cantik di hari pernikahan nya itu saat bersanding dengan Dimas.
"Kamu gak merasa deg degan seperti aku nay?" Tanya Nina karena melihat Naya seperti nya biasa saja.
"Kenapa harus degdegan? Aku kan menikah juga karena ingin membantu Reva kemarin." Jawabnya, padahal di dalam dirinya sangat gemetar, namun mampu membuat nya terlihat sangat tenang oleh Nina dan Vina.
"Aku juga begitu kok nay, cuma pas keluar lihat tamu dan kak Adit jadi grogi dan gemetar." Penjelasan Vina menceritakan tentang di hari pernikahan membuat Naya semakin merasa gelisah, itu terlihat oleh Vina. Namun dengan santai Vina mengelus tangan Naya yang sudah dingin.
"Kamu gak apa kan nay?" Vina menatap wajah Naya yang sedikit gelisah.
"Gak apa kok Vin, aku cuma merasa AC disini terlalu dingin." Vina dan Nina merasa AC di ruangan itu tidak dingin, dan malah mereka merasa sedikit gerah. Karena juga sudah make up dan mengenakan pakaian tertutup.
"Apa kamu butuh air hangat, atau apa gitu untuk menghangatkan?" Tanya Vina khawatir sahabatnya butuh yang hangat, karena merasa dingin.
Naya menggelengkan kepalanya, bukan hangat makan atau minuman yang ia butuhkan, tapi rasa gelisah yang ingin di hilangkan.
"Aku gak butuh itu Vin, aku cuma agak sedikit malu kalau nanti keluar. Aku juga sedih ingat papa yang sudah gak ada, papa gak bisa lihat aku menikah." Mata Naya berkaca-kaca. Vina dan Nina khawatir jika sudah begitu akan merusak make up nya, kasihan dengan perias jika harus mengulang lagi.
"Udah jangan sedih sekarang, papa kamu juga pasti lihat kamu dari surga nay. Masih ada mama kamu disini, sekarang hari bahagia kamu dan Dimas, jadi tidak boleh nangis, ini moment." Ucap Vina agar Naya tidak nangis.
"Kalau murid kamu lihat pelatih nya nangis, nanti pada ketawa mereka." Ucap Nina juga menenangkan Naya.
"Memangnya sebagai pelatih gak boleh nangis? Aku juga manusia nin, pasti bisa nangis juga."
"Iya, tapi sebentar lagi akad dan kamu akan bertemu tamu. Lebih malu mana dilihat banyak orang penting papa Dimas juga."
"Iya, aku lupa kalau ada tamu papa Dimas juga. Gimana dong? Aku sebenarnya grogi, aku gemetar."
Vina dan Nina menertawakan Naya, Naya baru mengaku kalau dirinya grogi. Karena sahabat nya menertawakan, Naya mengerucutkan bibirnya.
"Kalian bukannya membantu, malah ngetawain aku."
"Lagian coba bilang aja dari tadi, pakai alasan segala kalau AC terlalu dingin. Makanya aku sama Nina ketawa, kamu itu harus tenang dan coba santai."
"Oke memang gak mudah, soalnya kemaren aku juga gitu. Tapi kita mulai dengan ngobrol santai dulu, supaya lebih tenang nanti ke depan." Nina mencegah Naya saat akan berbicara, Nina sudah tahu kalau Naya pasti akan menjawab tidak gampang untuk bersikap santai disaat seperti ini.
Vina dan Nina memberikan Naya minum supaya lebih rileks, setelah itu mereka mencoba mengobrol lebih santai untuk membuat Naya lebih santai lagi.
Di ruangan lain juga seperti itu, Dimas sekarang yang jadi bahan matengan Hendry. Ia membalas sama seperti saat dirinya akan menikah kemarin.
"Gimana dim, sudah tahu gimana caranya? Sudah cari tahu belum mau gaya apa?" Tanya Hendry meledek Dimas.
"Diam hen, gue lagi grogi nanti gimana kalau di depan penghulu gue malah gak bisa ngomong."
"Sa-saya te-terima nikah-
"Hen, gimana kalau jadi doa?" Ucap nya takut.
__ADS_1
"Palingan juga Naya pelototi lo, akhirnya lo lancar karena takut dengan calon istri."
"Memangnya Nina baik? Lo gak takut sama dia?" Tanya Adit pada Hendry.
"Masa iya kita harus takut sama istri, kita sebagai pemimpin rumah tangga harus tegas tapi tetap lembut. Keduanya harus setara, tidak boleh kasar terhadap istri."
"Lo kalau mau belajar sama Hendry aja dim, gue yakin lo bakal aman dari Naya. Atau lo belajar karate juga biar bisa nangkis serangan dari Naya."
"Aman dit, gue pernah kok taekwondo dulu. Semoga aja bisa nangkis pelatih karate." Dimas akan mencoba dengan kemampuannya beladiri taekwondo yang pernah ia latih dulu, semisal istrinya nanti menyerang nya.
"Hebat juga, pernah yang salto itu gak? Ada yang sampai 2 meter."
"Gue gak sampai 2 meter hen, tapi hampir lah. Karena waktu itu gue masih pemula."
"Tapi beda sama Naya dong, kan Naya karate sedangkan lo taekwondo."
"Perbedaan itu yang akan menyatukan gue dan Naya." Jawabnya tersenyum membuat Hendry dan Adit saling menatap.
"Latihan ijab aja dim, nanti disana lo malah gagap."
"Gue bilang jangan ngomong gitu, nanti bisa jadi doa, gimana?"
"Itu kan urusan lo." Jawab nya tertawa sedangkan Adit menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Hendry.
...******...
Akhirnya akad sudah akan di mulai, Adit dan Hendry keluar bersama Dimas. Sedangkan Naya di apit kedua sahabatnya, dan mama nya di depan.
"Sudah siap menikah?" Tanya penghulunya.
"Sudah pak." Jawab Dimas
"Oh sudah siap. Apa kamu tahu doa saat akan melakukan?" Tanya nya lagi
"Lakuin apa pak?" Tanya Dimas polos membuat Hendry dan Adit tersenyum, begitu juga dengan Vina dan Nina. Naya menatap Dimas, ia malu mendengar pertanyaan dari penghulu juga. Jawaban dari calon suami nya membuat dirinya malu untuk menatap banyak tamu.
"Kamu nanya?" Tanya penghulu menirukan yang sedang viral.
"Adegan for adult, masa gak ngerti."
"Iya, ngerti kok pak."
"Tahu doa nya?"
"Tahu pak, mandi wajib nya juga saya tahu dan paham." Jawaban Dimas kembali membuat banyak orang tertawa.
"Coba gimana do'a nya?"
"Bismillahi Allahumma Jannabnassyaitoni wajannabissyaitoni ma razaqtana"
Artinya: Dengan Nama Allah, ya Allah: Jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan setan dari rezeki (bayi) yang engkau anugerahkan pada kami (HR. Bukhari).
__ADS_1
"Sudah hafal, berarti sudah siap menikah?"
"Siap pak, jangan kelamaan. Bapak belum makan juga kan?"
"Kamu perhatian sekali dengan saya." Ucapnya tersenyum.
"Masalahnya saya juga belum makan pak." Kembali membuat orang tertawa mendengar ucapan Dimas.
Bapak penghulu menjabat tangan Dimas, ia akan segera menikah kan Dimas dan Naya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Dimas baskara bin baskara dengan Naya delaney Yusuf binti almarhum Husein Yusuf dengan maskawin berupa emas logam mulia 10 gram dan uang tunai sebesar 350.000.00 beserta saham perusahaan 10 persen dibayar tunai." Papa Naya ingin menantunya juga dapat walaupun hanya sedikit, yang terpenting menantunya dapat merasakan juga hasil nya.
"Sa-saya te-te- terima
"Katanya sudah siap, tapi malah gagap."
Dimas menatap Naya dan langsung di pelototi oleh Naya.
"Bisa pak, tadi grogi karena belum makan."
"Baiklah sekali lagi atau kamu mau makan dulu."
"Lanjutkan saja dulu, sebelum saya makan pak."
Penghulu mengajarkan Dimas, lalu kembali mengulang nya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Naya delaney Yusuf dengan maskawin tersebut tunai."
"Sah?"
"Sah."
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
"Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir"
Artinya, “Semoga Allah memberikan berkah untukmu, semoga Allah memberi berkah padamu dan menghimpun kalian berdua (sebagai suami istri) dalam kebaikan.”
Naya dan Dimas telah sah menjadi sepasang suami istri.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1