
Seperti yang mama Dira ucapkan semalam, mereka bersiap untuk pulang setelah shalat subuh.
"Vina, kalau ada apa-apa langsung telepon mama, jangan ada yang kalian sembunyikan." Ucap mama sebelum pulang, ia mengatakan pada anak menantunya jika ada sesuatu yang selalu membuatnya khawatir harus segera menghubunginya.
"Tidak ada yang kita sembunyikan ma, buktinya kak Adit memberi tahu mama soal keadaan Vina." Vina melirik Adit, dirinya tidak ingin merepotkan orang lain dengan mendatanginya.
"Suami kamu ini, bukan menghubungi mama. Tapi mertua kamu, baru setelah itu mama dan papa diajak mertua kamu kesini." Adit melirik istrinya, ada rasa bersalah tidak lebih dulu menghubungi mertuanya. Tapi sebenarnya Vina tidak masalah jika Adit tidak memberitahu siapa-siapa, karena dirinya juga bisa tenang tanpa membuat orang lain khawatir.
"Mama dan papa akan pulang, kalau ada waktu kamu main kerumah. Adik kamu pasti takut, cuma pura-pura berani aja dia kalau ada kita." Ucap mama Dira mengatakan bahwa ila takut jika sendirian dirumah.
"Iya pasti ma, ayo Vina antar ke depan." Vina mengantarkan mama nya itu ke depan rumahnya, sambil berbincang.
"Adit, papa titip anak tertua papa sama kamu. Kalau kamu tidak mampu menjaganya, papa akan membantu kamu." Ucapan papa Gilang membuat Adit menatapnya. Apa maksud dari ucapan papa Gilang? Adit langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak pa, Adit mampu menjaga istri Adit sendiri. Papa tidak usah khawatir dengan anak papa." Tentu saja Adit mampu menjaganya sendiri pikirnya.
"Papa percaya sama kamu," ucap papa Gilang sambil menepuk bahu Adit kuat dan sedikit menekan nya.
"Iya pa." Adit merasa sakit dengan tepukan sang mertua.
"Kamu kenapa? Papa begini saja kamu sudah merasa kesakitan, apalagi menjaga Vina. Papa jadi ragu sama kamu" Ucap papa Gilang menatap Adit tajam. Siapa yang tidak mengkhawatirkan anak perempuannya, walaupun sudah memiliki pasangan, tetap saja ia lebih percaya dirinya sendiri yang mampu menjaga. Papa Gilang begitu menyayangi Vina dan ila, walaupun mereka bukan anak kandungnya.
"Ayo cepat pulang pa, ila pasti belum bangun." Mama memanggil nya dari luar. Karena anaknya pasti belum shalat subuh
"Iya ma." Jawabnya mengiyakan, tapi tetap saja tidak beralih tatapan nya tetap tertuju pada menantunya.
"Ingat! Apa yang papa ucapkan, kamu harus bisa menjaga Vina. Mengerti kamu?" Tanya papa Gilang sekali lagi memastikan menantunya itu sudah mengerti atau belum.
"Mengerti pa, Adit akan selalu menjaga istri Adit tanpa papa suruh pun, karena Cahaya istri Adit." Meyakinkan papa mertuanya dengan wajah seriusnya.
"Ingat sekali lagi, ISTRI kamu! Devina cahaya." Adit rasanya ingin tertawa, kenapa mertuanya itu malah seperti berpikir bahwa dirinya sedang amnesia.
"Adit belum amnesia pa, Adit masih ingat nama lengkap istri Adit itu Devina cahaya."
"Papa hanya takut kamu lupa, bahwa ISTRI kamu Devina cahaya." Papa Gilang kembali menekankan kata istri.
__ADS_1
"Iya pa, Adit tidak akan melupakan itu."
"PAPA...." Pekik mama Dira dari luar.
"Iya iya." Papa Gilang berlari keluar, bisa-bisa istrinya menaikkan satu oktaf dan akan membangunkan seluruh penghuni komplek.
"Kenapa lama sekali, apa yang di bicarakan?"
"Hanya pembicaraan laki-laki. Bukan begitu dit?"
"Iya pa." Adit selalu mengiyakan saja apa yang di ucapkan mertuanya.
"Sudahlah, tidak penting juga pembicaraan laki-laki yang ini. Kita langsung pulang aja, kita masih punya anak satu lagi, ingat!"
"Iya ma, Ingat!" Namun mata papa Gilang menatap Adit.
"Sayang, papa pulang ya. Kalau ada suami kamu macam-macam, bilang sama papa."
"Siap pa." Jawabnya memeluk papa Gilang.
Mereka berpamitan setelah selesai dengan pelukan nya, Adit dan Vina mencium tangan orang tuanya lalu bergegas ke mobil karena sudah hampir terang, namun anaknya yang di rumah susah untuk di bangunkan.
"Adit, ingat apa kata papa." Ucap nya sebelum melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah anaknya.
"Iya ingat pa."
Mama yang di dalam mobil bertanya apa yang di ingatkan oleh suaminya, begitu juga Vina yang bertanya apa yang di maksud papa nya. Namun mereka hanya tersenyum, dan melambaikan tangannya sebelum kembali kerumah.
Vina memeluk lengan Adit, sambil masuk ke dalam rumah nya. "Apa yang di bicarakan kak Adit dengan papa?"
"Sejak kapan kamu kepo, sayang?" Ucap Adit mencubit hidung Vina.
"Tidak, hanya ingin tahu apa yang dikatakan papa sama kamu."
"Itu sama saja, berarti kamu kepo." Adit gemas dengan istrinya, sesekali mengacak rambut Vina dan kembali merapikannya.
__ADS_1
"Dari kata nya saja sudah beda, bagaimana bisa disebut sama." Adit hanya tertawa mendengar ocehan istrinya.
Adit mendekatkan wajahnya di depan perut Vina. "Assalamu'alaikum calon anak ayah? Hari ini jangan buat ibu kamu sakit ya nak. Cukup hukum papa saja dengan rasa mual yang kamu berikan, biarkan ibu kamu menikmati hari-harinya dengan tenang."
"Iya ayah," ucap Vina dengan mengecilkan suaranya.
"Tapi, kak Adit yang tersiksa saat bekerja juga harus merasakan mual."
Adit mendongak menatap istrinya, lalu memegang kedua tangan Vina. "Tidak ada yang tersiksa, aku senang bisa merasakan ini. Kamu harus tahu sayang, aku cinta sama kamu melebihi diriku sendiri. Jangan anggap selama ini aku hanya berpura-pura, aku sakit kamu tidak mempercayai ku." Ucap Adit berkaca-kaca. Karena ia sangat-sangat mencintai Vina lebih dari yang Vina ketahui.
"Aku percaya sama kak Adit, tapi-
"Tapi? Kenapa harus ada tapi? Jika kamu sudah percaya sama suami kamu ini."
"Tapi aku tidak percaya dengan mantan kak Adit, aku hanya takut kak Adit yang aku percayai bisa berpaling juga ke wanita lain." Adit menarik Vina ke dalam pelukannya, ia tahu istrinya hanya takut dirinya meninggalkan.
"Kamu harus yakin, bahwa aku begitu menyayangi kamu. Tanpa harus ada wanita atau laki-laki lain di dalam rumah tangga kita." Vina mengangguk sambil menangis, begitu juga Adit.
Setelah tenang, mereka melepaskan pelukannya. "Jangan nangis dong, aku juga ikut nangis." Ucap Adit menyeka air mata istrinya.
"Kak Adit ngapain ikutan nangis? Malah ikutan cengeng." Vina juga mengelap air mata suaminya.
"Semua yang kamu rasakan, aku juga bisa merasakan. Maka dari itu kamu harus selalu bahagia, agar kita sama-sama bahagia."
Vina mengangguk, "Tentu saja aku akan bahagia bersama kak Adit."
"Aku juga bahagia bersama kamu, sayang." Adit mencium dahi Vina dan kembali memeluknya.
🌻Aku mencintai kamu, tanpa harus kamu ketahui sebesar apa cinta nya. Adit🌻
🌻Aku mencintai kamu, hanya saja manusia bisa saja berubah. Vina 🌻
Boleh bergabung di grup TBD semuanya, hehe masih sepi.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
__ADS_1
See you...