Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Tim sepupu penyakit


__ADS_3

"Pa, kenalin dia Raka," ucapku mengenalkan Raka.


"Oh ini yang namanya Raka," jawab papa.


"Iya saya Raka om, emangnya om tau saya."


"Iya, kan papa baru ketemu Raka sekarang."


Aku dan Raka bingung, karena papa juga baru kali ini ketemu Raka.


Papa hanya tertawa, "ayo kita masuk dulu, kita bicara di dalam," ajaknya.


Aku Raka dan ila diajak masuk ke dalam.


Di dalam setelah aku ikut masuk. "Papa tinggal sendiri disini?" tanyaku sambil melihat sekeliling.


Ada foto-foto ku waktu kecil dan ila, namun ada foto anak kecil cowok juga disitu.


"Papa tinggal sama Reno adik kamu," ucap papa.


Aku dan ila saling menatap, "Adik?" tanyaku.


"Papa pernah menikah lagi, namun umur pernikahan papa juga tidak panjang," jawabnya.


"Oh gitu, terus sekarang dimana pa? Evan sama Dani juga?" tanyaku.


"Vina kangen sama mereka," ucapku lagi dilirik oleh Raka.


Aku pura-pura tidak melihatnya.


"Evan, Ali, Dani sering kesini, bentar lagi mungkin, soalnya mereka kuliah hari ini," jawab papa.


"Nah iya ali, yang di mirip-miripin sama Vina, tengil banget."


"Iya masih mirip sama kamu Vin," ucap papa melirik Raka yang menatap ku.


"Oh iya, Vina sama ila ke kamar yang itu aja," ucapnya menunjuk kamar.


"Raka dimana pa?" tanyaku karena takut tidak ada tempat untuk Raka.


"Raka biar sama sepupu-sepupu kamu aja, masa iya tidur bareng kamu, belum juga nikah," ucap papa.


"Papa udah tau?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh papa.


"Vina sama ila ke kamar dulu ya," aku melirik Raka yang juga menatapku.


Papa dan Raka mengangguk, lalu aku dan ila masuk ke kamar.


"Raka, kamu kuliah?" tanya papa pada Raka setelah kepergian ku dan ila.


"Iya om, satu kampus sama Vina," jawab Raka gugup, dan itu terlihat jelas oleh papa.


"Jangan takut sama om, santai aja," ujar papa pada Raka dengan menepuk bahunya.


Raka tersenyum.


'Ternyata papa Vina, gak se serem apa yang aku bayangin' batin Raka


"Assalamu'alaikum," ucap orang dari luar.


"Wa'alaikum salam," jawab Raka dan papa.


Ada 3 orang disana langsung masuk, tanpa menunggu tuan rumah membukakan pintu.


"Gue duluan."


"Gue duluan, van."


"Gue li," ucap mereka bertiga berebut untuk masuk.


"Apaan kalian ini?" tegur papa.


"Ini kan Ali dulu yang masuk om."

__ADS_1


"Ini kan Evan duluan yang masuk om."


"Iya, tapi dani duluan."


Tak henti-hentinya mereka berebut untuk masuk.


"STOP....." Teriak papa


Mereka langsung berhenti. "Kalian ngapain kesini?" tanya papa lagi.


"Ketemu tengil," jawab Ali.


"Ketemu Vina."


"Ketemu Vina," ucap mereka bersamaan.


Papa mengusap kepalanya kasar, "kalian duduk dulu, disini ada tamu loh," mereka langsung beralih menatap Raka.


"Dia siapa om?" tanyanya.


"Dia Raka, tunangan Vina." Papa memberi tau kalau Raka tunangan ku.


"Hah?" kagetnya.


"APA..?" Mereka terkejut dengan ucapan papa.


"Kenapa? Kaget kalian?"


"Yah, udah punya pawang aja si tengil," ujar Ali yang terlihat jelas wajah sedihnya.


"Iya, ada ya yang mau sama dia," timpal Evan.


"Aku yang mau sama Vina, aku menerima Vina apa adanya," ucap Raka serius.


Prok.. prok.. prokkk...


Mereka bertiga bertepuk tangan, "Mantap" mengacungkan jempol nya pada Raka.


"Hati-hati aja, dia mati lampu aja takut, entah lah cengeng banget, dasar tengil."


"Kalian jelek-jelekin Vina di depan Raka yah?" ucapku keluar kamar dan menyender di pintu.


"Vina."


"Tengil."


"Evan, Dani, Ali," aku teriak dan menghampiri mereka.


Lalu kita berempat berpelukan.


Namun di hentikan oleh deheman papa.


Ekhemmm... ekhem...


Lalu kita melepas pelukannya, aku menatap Raka yang tatapannya seperti menahan amarah.


Aku dan ketiga sepupuku duduk di kursi, aku duduk di dekat Raka.


"Kamu mau mandi gak?" tanyaku pada Raka.


Raka menatapku tersenyum, "nanti aja kalau udah mau sholat dzuhur."


Aku pun tersenyum menatap Raka.


"Kapan kita main lagi diluar Vin?" tanya Evan.


"Nanti habis sholat, gimana?" aku usulkan agar nanti setelah sholat dzuhur.


Cklekkkk.....


"Kak Vina," panggil ila sambil mengucek matanya.


"Wow bule," Ucap dani.

__ADS_1


"Wow sapa tuh?" tanya mereka melihat ila yang putih dan rambut yang di warnai, jadi mirip bule kampung ups🤭.


Maaf dek✌️


"Jaga mata kalian, mau om colok," ucap papa.


"Ngeri amat main colok." Mereka bergidik ngeri mendengar ucapan papa.


"Kalian gak tau dia siapa?" tanyaku


Mereka menggelengkan kepalanya.


"Sini ila, duduk dekat papa," panggil papa.


"HAH PAPA...?" terkejut dengan papa yang menyebut dirinya papa dari wanita yang berdiri di ambang pintu.


"Dia itu ila, adik Vina."


"HAH?"


"Hah hoh aja, coba apa kek gitu."


"Kaget aja adik nya cantik, kakak nya yah dibawah standar," ucap Ali.


"Woy tengil, kalau Vina jelek, berarti kamu apa?" ucapku karena wajah kita bagai pinang di belah dua.


"Napa sih wajah gue mirip tengil."


Hahahahhaa


Suara tawa ejekan yang menggelegar dari semuanya untuk Ali.


"Pa, mereka siapa?" tanya ila pada papa.


"Mereka ini yang bisa buat kita bisa sakit perut, dan bisa juga buat kita sakit kepala." ucap papa.


"Berarti mereka penyakit pa?" tanya ila lagi.


Buahahhhahhahah


Sekarang aku yang ngakak sendiri, sampai sakit perut mendengar pertanyaan ila.


Dan aku tersadar, ternyata semuanya pada menatapku.


"Raka, lu harus hati-hati sama dia. Dia takut hantu, tapi dia yang mirip tante kunti," ucap Ali.


Raka tampak menahan tawanya, aku langsung menatapnya tajam.


Raka salah tingkah antara mau ketawa atau tahan saja.


"Papa gak ikutan kalau ini," ucap papa angkat tangan.


Aku cemberut menatap mereka. "Udah keluar jurus sok imut nya," ucap Evan.


"Raka, aku imut kan?"


"Hah? i iya imut kok," jawabnya.


"Tuh kan, wlee🤪"


"Kalau terpaksa bilang ka, jangan di pendam," ucap dani cengengesan.


"Udah jangan jahilin Vina terus, tau sendiri kalau Vina baperan. Kita sholat aja berjamaah," ajak papa.


Lalu semuanya beranjak, untuk ambil wudhu dan bersiap untuk sholat.


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu oke 😉


Annyeong 🤗


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2