Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Menghilangnya Adit


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan ini Adit tidak berkunjung ke rumah Vina, ila menunggu nya di rumah, namun Adit tak kunjung datang.


"Halo ma," ucap ila ketika sudah tersambung dengan mama nya di luar negeri.


"Iya sayang, kenapa telepon mama, jam segini?" tanya mama Dira karena jarang sekali ila telepon setelah pulang sekolah.


"Kak Vina mana ma?" tanya ila mau mengobrol dengan Vina.


"Ini kakak kamu lagi dengerin kita ngomong." Mama Dira menyerahkan ponselnya pada Vina.


"Ada apa cari kakak?"


"Hanya ingin mengobrol saja."


"Apa yang mau di obrolin? kakak sedang sibuk sekarang."


"Elah kak, palingan juga bersantai sibuknya."


"Kakak ada kelas online ya, jangan salah kamu. Bersantai itu juga kesibukan."


"Baiklah-baiklah. Hmm kak Vina," panggilnya lembut.


"Apa?" Tanya Vina sambil mengambil buku catatan.


"Kenapa kak Adit hampir satu bulan ini, gak ada ke rumah ya?" Tanya ila yang langsung membuat Vina berhenti dengan kesibukan nya.


Vina menatap ila yang sedari tadi juga melihat semua yang di lakukan Vina.


"Kenapa kamu tanya kakak?"


"Bukannya biasanya kak Adit itu, selalu menunggu kabar dari kak Vina. Lalu kenapa kenapa sekarang malah menghilang?"


"Mungkin dia lagi sibuk la, wisuda sebentar lagi, terus kerja di kantor papanya."


"Sesibuk-sibuknya kak Adit, selalu menyempatkan waktu datang ke rumah."

__ADS_1


Vina hanya tersenyum menanggapi ucapan ila. "Mungkin kak Adit sudah bosan menunggu wanita yang sakit-sakitan kayak gini."


"Kakak," lirih ila menatap Vina sedih.


Vina terpaksa dengan senyuman nya. "Sudah aku katakan, hanya Raka yang mau menerima kekurangan aku. Maka dari itu aku selalu ingin menyusulnya, tapi sekarang aku belajar ikhlas kehilangan Raka." Mata Vina berkaca-kaca mengingat hanya Raka yang mampu menerima kekurangan nya.


"Jangan berpikir macem-macem dulu vin, papa yakin Adit itu laki-laki yang baik, dan bisa menerima kamu apa adanya."


"Buktinya dia menghilang pa."


"Bukannya sebelumnya kamu berpikir dia sedang sibuk? Biarkan dia menyelesaikan pekerjaan nya nak."


Vina menghembuskan nafas nya pelan, harusnya ia juga selalu berpikir positif dengan Adit. Lagi pula mereka juga bukan pasangan dan pasangan pun juga punya kesibukan nya masing-masing, bukan hanya kita yang harus di perhatikan.


"Iya pa."


"Sekarang tutup telepon nya, kamu jangan banyak kegiatan supaya cepat pulang ke rumah."


"Lah, kenapa jadi papa yang mau matiin, kan ila yang nelpon kak Vina."


"Vina tutup ya pa?" Tanya Vina tersenyum membuat papa David mengangguk.


Sambungan telepon sudah berakhir, ila melirik papa David tak suka. "Kenapa lihat papa seperti itu?"


"Memangnya kenapa? males sama papa, ila mau masuk." Ila langsung masuk sedangkan papa David hanya menaikkan sebelah alisnya.


Beberapa detik setelahnya ila kembali lagi ke luar.


"Mau ngobrol sama papa yah?"


"Mau ambil hp." Ila hanya mengambilnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Papa David melihat handphone yang di ambil dari tangannya oleh ila, terbengong menatap anaknya yang sudah mulai dewasa namun tetap saja sering merajuk.


...******...

__ADS_1


"Kalian tahu kalau kak Adit masuk kuliah?" tanya Vina sedang video call dengan Naya dan Nina.


"Aku gak tahu Vin, lagian kas dan fakultas kita kan beda sama kak Adit."


"Kenapa nanyain kak Adit? kangen yah?" Tanya Nina


"Gak tahu nin, tapi kata ila sudah hampir satu bulanan gak ke rumah."


"Mungkin sibuk Vin."


"Aku juga gak tahu sih."


"Kamu kapan pulangnya Vin, kita kangen sama kamu." Naya dan Nina merindukan kebersamaan mereka saat kuliah dan belajar bareng.


"Insyaa Allah, kalau kesehatan aku lebih baik. Tapi, aku pengennya gak balik."


"Kenapa vin? apa gara-gara kak Adit?" tanya Naya dan Nina.


Vina menggeleng kan kepalanya, "Aku hanya belum bisa melupakan sosok Raka jika disana, aku masih berusaha disini mengikhlaskan kepergian Raka. Mental aku belum sepenuhnya pulih, jadi kurang lebih aku pulang sekitar dua bulan lagi."


"Kenapa lama sekali? satu hari seperti satu tahun bagiku." Nina memang sangat lebay jika berbicara.


"Kok kamu jadi kayak udah di akhirat sih nin."


"Itu tanpa kamu Vin," ucap nya lagi.


"Makin lama bukan makin bagus nih anak, malah makin kurang," balas Naya.


"Sekata-kata ya kamu nay."


Vina dan Naya tertawa melihat wajah cemberut Nina.


Sahabat yang selalu setia dan selalu merindukan kehadiran kita saat bersama, susah untuk di miliki. Yang ada hanya teman yang membicarakan tentang keburukan kita, saat kita tidak ada di dekatnya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


__ADS_2