Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Melepas


__ADS_3

"CAHAYA." Kak Adit berlari dan memelukku erat sambil menangis.


"Gue tunggu di luar," ucap kak Hendri dan aku mengangguk.


"Kak Adit," aku melepas pelukannya.


"Kak Adit, kenapa cengeng gini sekarang?" tanya ku.


"Cahaya, aku sayang sama kamu," ucapnya memegang kedua tanganku.


Aku menatap manik mata milik kak Adit.


Aku sangat ingin mengatakan kalau aku masih sayang sama kak Adit. Tapi kalau aku mengatakan lagi perasaan ku, akan makin sulit untuk ku dan kak Adit saling melupakan.


"Cahaya kenapa diam aja," ujarnya


Aku mengelap sisa air mata yang masih mengalir di pipinya.


"Kak, Vina harus jawab apa?" tanyaku.


"Bilang kalau kamu masih sayang sama aku!" ucapnya.


'yatuhan apa yang harus aku jawab'


"Cahaya ayo ngomong," ucapnya menggoyang goyangkan tanganku.


"Kak Adit, kita hanya di takdirkan untuk berteman kak."


Dia menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kak, Vina udah pernah bilang sama kak Adit, kita sudah gak bisa bersama kak," ucapku.


"Aku mau denger ucapan kamu cahaya!" ujarnya memerintah.

__ADS_1


"Ucapan apa kak?" tanya ku.


"Hiks bilang kalau kamu udah gak sayang lagi sama aku!" ucapnya sambil menangis.


"Kak jangan nangis! vina-


"Jawab cahaya!"


"Vina itu sayang sama kak Adit, tapi sebagai teman," ucapku bertolak belakang bibir dengan isi hati.


'ya Allah, maafkan Vina berbohong'


"Bilang kalau kamu udah gak sayang sama aku, cepat katakan!"


"Tapi Vina sayang kak Adit sebagai teman kak, hiks." Aku juga ikut menangis disitu


arghhhh.....


"Tapi cahaya, apa kita tidak bisa seperti dulu?" tanyanya.


'aku sangat ingin kak, tapi saat ini aku akan buka hati untuk Raka'


"Maaf kak, lupain tentang kita hiks," ucapku pergi meninggalkan kak Adit di kamar nya.


Aku keluar sambil menangis, ternyata diluar kamar sudah ada kak Hendri, Raka, dan tante tia.


"Vina, kamu gak apa?" tanya Raka


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Vina, maafkan Adit. Tante bisa melihat dan merasakan, kalau kamu itu tidak hanya cantik, tapi juga baik," ucapnya.


"Tapi perbedaan ini, tante tidak bisa mendukung kalian bersatu," lanjutnya.

__ADS_1


"Hiks gak apa kok tante, Vina pulang dulu ya," ucapku memegang tangannya.


Dibalas senyum dan anggukan oleh tante tia.


"Ayo Raka, kita pulang," aku mengajak raka agar cepat pulang.


Raka mengangguk, dan berjalan keluar denganku.


Kak Hendri dan tante tia menatap kepergian ku dan Raka.


Aku mendengar suara teriakan dari dalam dan barang yang di lempar.


Aku langsung masuk mobil, sambil menangis tanpa menoleh ke arah Raka.


Raka juga tidak bertanya apapun padaku. Aku menangis sesenggukan, aku memang sudah tidak ada hubungan lagi antara aku dan kak Adit. Tapi rasa sayang yang dulu, masih ada sampai sekarang.


Tidak gampang untuk melupakan seseorang yang pernah mengisi hari-hari kita dengan penuh warna. Namun aku akan mencoba perlahan untuk melupakan nya, karena aku tak ingin membuat Raka sebagai pelarian, pelampiasan, dan masih ada rasa pada orang lain.


Sungguh, saat ini aku menangis bukan karena kita tak bisa bersama. Tapi aku menangis karena sulit bagiku melupakan, cinta yang pernah ada dalam hidup kita.


Seseorang saling mencintai, memang tidak harus bersama. Aku hanya ingin menangis saat ini, mengeluarkan apa yang seharusnya tidak ku bendung.


Meringankan sedikit rasa sakit yang tertahan.


: لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا )


"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2