
Hari-hari Vina setelah pulang kuliah, ia hanya ke pemakaman Raka.
Vina hanya mendoakan Raka disana dan bercerita, setelah itu ia menangis.
"Raka, kamu tau gak sih kalau Vina kangen banget sama kamu?"
"Terus aku pengen banget meluk kamu, tapi aku sekarang hanya bisa meluk batu nisan ini."
"Kamu pernah ngerasa bosan gak sih selama sama aku? aku tebak pasti iya kan, soalnya aku sedikit ngeselin, tapi kamu sekarang tenang kan? gak ada aku di dalam sana."
"Aku yang gak senang disini, di keramaian aku merasa sendirian Raka, tanpa kamu. Aku belum sempat minta maaf sama kamu."
Vina terus berbicara sendiri hingga langit mendung, seperti nya tanda akan turunnya hujan.
Gerimis sudah mulai membasahi tubuhnya yang terus berbicara di samping kuburan Raka.
Tanah yang mulai menyiprat ke pakaian nya, ia juga tidak menyadari bahwa dirinya tengah mimisan.
"Cahaya," panggil seseorang dari belakang nya.
Vina menoleh pada orang itu. "Ayo pulang, nanti kamu sakit, Cahaya."
"Kak Adit, ngapain kesini kak? aku mau nemenin Raka."
"Cahaya sadar kamu nyakitin diri kamu, Raka akan marah kalau kamu seperti ini," Adit sangat tau Raka mencintai Vina tulus.
Saat Raka akan masuk rumah sakit, Raka sempat menemui Adit, untuk selalu menjaga Vina.
__ADS_1
Adit bingung apa maksud Raka, namun setelah Raka mengatakan bahwa dirinya ada penyakit parah, ia mengerti.
"Aku memang sering buat Raka marah kak, jadi biarkan aku disini hiks," Vina mulai menangis mengiringi air hujan yang mulai mengalir deras di pipinya.
Adit memberikan jaketnya lalu memeluk Vina, ia memang telah lama merindukan Vina.
"Ayo kita pulang, nanti mama papa kamu khawatir." Vina baru menyadari pasti orang tuanya itu khawatir padanya.
"Raka, Vina pulang dulu ya, besok Vina kesini lagi. Vina mimisan lagi, tapi tenang gak akan Vina pencet," ucapnya mencium batu nisan Raka.
"Ayo," ajak Adit dan Vina mengangguk.
...******...
Papa dan mama Vina serta ila ada di teras rumah seperti nya memang menunggu Vina pulang.
"Astaghfirullah, Vina."
"Vina gak apa kok ma," ucapnya tersenyum dengan hidung nya yang masih mengeluarkan darah.
"Nak Adit terima kasih telah mengantar Vina," ucap papa yang melihat mama Dira membawa masuk Vina.
"Sama-sama om, cahaya kan teman Adit, jadi membantu teman itu wajar," ucapnya terpaksa tersenyum saat mengatakan teman
Papa disitu mengerti dengan Adit.
"Ayo masuk dulu nak, kamu basah begini pinjam baju om dulu, ada beberapa yang belum pernah om pakai," mengajak Adit untuk masuk.
__ADS_1
"Tidak perlu om, nanti Adit sering main kesini aja."
"Yasudah kalau tidak mau."
"Adit permisi dulu ya om," Adit tidak enak berlama-lama di rumah Vina.
"Baiklah, hati-hati dijalan nak."
"Seperti lagunya tulus om, hati-hati di jalan."
"Om suka itu, lagu nya sedih juga karena menceritakan pasangan yang tidak bisa bersatu."
"Seperti cerita Adit om," ungkap nya mengingat dirinya dan Vina yang tidak bisa bersatu.
"Om ngerti itu Adit, kamu harus bisa ikhlas menerima dengan keadaan yang membuat kamu tidak dapat bersatu."
"Adit udah mulai menerima itu om, walaupun masih sulit untuk Adit melupakan semuanya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga dengan melepas yang menurut kamu baik, akan menemukan yang lebih baik lagi."
"Terima kasih om, Adit pulang dulu permisi," jawabnya tersenyum.
Sangat menyakitkan saat seseorang yang menurut kita sudah sangat cocok, namun tidak dapat bersatu seperti Adit ini.
Apalagi dinding tinggi yang sulit di terjangnya, karena ini bukan hanya sepele namun masalah agama.
Menyakitkan tapi tak kurasakan, karena Adit dan Vina yang merasa itu huhu.
__ADS_1
Annyeong love