Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
pak baskara menemui Naya


__ADS_3

"Karena sekarang Reva sudah menikah, jadi aku tidak lagi ada hubungan dengan Dimas." Ucap Naya pada kedua sahabatnya.


"Kata siapa? Dimas sudah mengatakan pada papa nya, kalau calon istrinya akan segera menemui nya."


"Hah? Katanya kan hanya bantu Reva dan anaknya. Kenapa sekarang jadi beneran."


"Memangnya ada kita bilang bohongan? Kamu kan sama Dimas memang akan menikah nay."


"Tuh kan, kemarin bilang nya gak gitu."


Sekarang ini mereka sedang berada di rumah Adit dan Vina. Adit sedang menjemput sahabat-sahabat nya.


"Assalamu'alaikum," ucap Adit dari luar, langsung masuk.


"Wa'alaikum salam." Jawab yang ada di dalam.


Adit ternyata membawa Hendry, Dimas, dan juga pak baskara.


"Oh maaf, ternyata ada bapak."


"Kita tidak sedang ada di kantor, panggil saja saya om." Jawabnya tersenyum sambil melirik Nina dan Naya.


"Hm baiklah."


"Sayang, bibi mana? Biar aku yang bilang." Adit mencium baby Dev yang sedang di sebelah Vina berbaring.


"Ada di dapur."


"Calon mantu saya yang mana? Tapi biar saya tebak?" Ucapnya sendiri sambil terus menatap Nina dan Naya.


"Dimas menyukai wanita yang lembut, pemalu, dan juga baik. Menurut saya yang itu." Ucapnya menunjuk Naya. Tepat.


"Kalau papa tahu, yang papa tunjuk itu memang benar yang akan menikah dengan Dimas. Tapi tidak lembut sama sekali." Batin Dimas.


"Tepat sekali om, memang itu calon istri Dimas. Namanya Naya om." Ucap Vina memberitahu pak baskara bahwa Naya adalah nama calon menantu nya.


"Nama yang bagus, cantik juga seperti orang nya." Naya tersenyum kaku, Nina yang di sebelahnya menggoda Naya. Namun Naya hanya diam saja tanpa mau membalas Nina ataupun marah. Karena sedang ada calon mertua dan calon suami, jaga image dikit lah.


"Naya kerja dimana?" Tanya pak baskara.

__ADS_1


"Saya kerja di kantor agama om."


"Wah hebat Naya, tidak bergabung dengan temannya di kantor pak Adit."


"Yang tidak melanjutkan bekerja hanya Vina om, Vina mengurus bocil ini." Ucap Vina mengelus baby Dev.


"Naya nanti setelah menikah dan punya anak juga akan seperti kamu, Vina. Hanya mengurus suami dan anak dirumah." Pak baskara tersenyum, di balas senyuman oleh Naya.


Dimas yang mendengar ucapan papa nya tidak enak pada Naya. Naya seperti di paksa oleh teman-temannya, jadi Dimas juga tidak akan memaksa untuk segera mencintainya, apalagi mempunyai anak dari Dimas secepatnya.


"Jadi, kapan rencana pernikahan kalian?" Pertanyaan pak baskara membuat Dimas dan Naya melototkan matanya.


"Secepatnya om, kita akan membantu menyiapkan gedung, wo, undangan dan lainnya. Tapi kita akan musyawarah lagi kalau ada yang belum."


"Tidak perlu terburu-buru, Dimas dan Naya juga masih senang dengan pekerjaan dan tinggal di rumah masing-masing. Iya kan nay?"


"Iya om. Naya masih senang dengan pekerjaan dan tinggal dengan mama di rumah."


"Memang nya om melarang kamu untuk tidak bekerja atau tidak tinggal di rumah kamu setelah menikah? Yang terpenting kalian menikah dulu dan setelahnya kalian mau tinggal di rumah Dimas atau Naya itu terserah." Naya menatap Dimas meminta agar memohon untuk mengundur waktu pada Dimas. Dimas hanya menggelengkan kepalanya, bahwa Dimas juga tidak bisa untuk membantu Naya.


"Kalian kenapa? Mau ngomong ya ngomong aja, malu ada pak baskara?" Ucap Hendry menggoda Dimas dan Naya, yang sama-sama memberi kode untuk saling mengatakan pada pak baskara agar di undur lagi waktu pernikahan nya.


"Dimas-" ucapnya melirik Naya sambil menaik turunkan alisnya.


"Kenapa menatap Naya?"


"Anu pa, e gak pa." Naya menghela nafas berat, harusnya Dimas langsung bilang kalau minta diundur.


"Neng, makanan nya sudah siap."


"Makasih bi."


"Pak baskara, semuanya mari makan dulu. Makanan nya sudah siap."


"Iya mari pak, saya mau bawa baby Dev ke kamar nya dulu." Adit membawa baby Dev yang baru saja tertidur ke dalam kamar.


"Kalian repot sekali, padahal saya kesini hanya ingin mengunjungi rumah kalian. Sekalian menemui Naya."


"Tidak repot, hanya makan saja. Nanti kita kalau ada kesempatan pasti berkunjung ke rumah pak baskara beserta mama nya Naya."

__ADS_1


"Iya nanti sekalian bawa mama nya Naya ke rumah. Dimas pasti belum menemuinya. Dimas hanya kenal dengan anaknya, belum mengenal baik orang tua Naya."


"Tidak masalah om, lagian saya pernah menceritakan Dimas." Naya melirik Dimas.


"Benarkah?" Tanya pak baskara yang juga di lihat oleh Dimas.


"Benar. Naya pernah menceritakan nya pada mama, kalau Dimas teman Naya."


"Jadi, kamu hanya menceritakan nya pada mama kamu sebagai teman? Bukan sebagai calon suami kamu?" Tanya pak baskara menatap anaknya yang mungkin kecewa Naya memperkenalkan pada mama nya hanya sebagai teman. Padahal Dimas untung-untung Naya masih mau mengenalkan pada mamanya.


"Maksud Naya teman hidup om." Di barengi tawa, Naya sambil melirik Dimas yang ikut tersenyum. Naya ingin marah karena melihatnya tersenyum, namun dirinya juga ikut tersenyum dengan melihat senyuman manis Dimas.


Nina, Vina dan juga pasangan mereka masing-masing senang, sahabat mereka sudah mau menerima pernikahan yang terbilang sangat tiba-tiba dan tidak terduga. Tidak juga di paksa walaupun sedikit terpaksa karena harus membantu Reva.


Setelah makan mereka mengobrol lagi, kapan akan di langsungkan acara pertunangan mereka.


"Kalian mau acara pertunangan yang seperti apa?" Tanya pak baskara melihat Dimas dan Naya.


Dimas menatap Naya, ia hanya ingin mengikuti apa yang Naya mau.


"Naya terserah Dimas saja om."


"Dimas, kamu mau dimana?"


"Dimas juga terserah Naya, pa."


"Kalau sama-sama terserah apa kita saja yang menentukan om?" Ucap Hendry.


"Mungkin mereka butuh ngobrol berdua hen, lagian betul kata mereka jangan terlalu terburu-buru, nanti hasilnya kurang memuaskan." Adit memberi masukan pada pak baskara.


"Iya, benar pak Adit. Saya juga tidak ingin terlalu terburu-buru, yang penting pasti saja mereka akan menikah tahun ini, dan pernikahan nya tidak jauh jaraknya dari bulan pernikahan. Kalau bisa sekitar dua bulan pertunangan mereka harus segera menikah." Pak baskara menyetujui ucapan Adit. Mereka memang rekan bisnis yang cocok.


Dimas dan Naya juga setuju saja jika yang di ucapkan Adit dan pak baskara itu benar adanya. Mereka akan mengikuti apa yang menurut mereka juga baik. Sekarang Naya dan Dimas hanya akan mengikuti saja arahan dari teman nya dan juga papa Dimas, karena mereka mencoba menolak atau meminta undur sampai tahun depan pun percuma.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2