Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Pertunangan Dimas dan Naya


__ADS_3

Hari pertunangan Dimas dan Naya sudah akan dilaksanakan malam ini, teman-teman mereka sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Padahal ini hanya acara pertunangan, bukan acara pernikahan. Tapi mereka membuat nya begitu mewah.


"Dimas, Naya dimana? Acaranya akan segera dimulai." Tanya pak baskara.


"Dimas gak tahu pa, tadi kan kita berangkat gak bareng."


"Iya, mungkin Naya bareng teman-teman nya. Kita tunggu dulu aja, lagian tamu belum datang semua." Pak baskara menyuruh Dimas kembali menunggu, padahal dirinya yang begitu tidak sabar memberi tahu teman kantornya bahwa calon mantunya wanita yang cantik.


"Assalamu'alaikum pak," ucap mama Naya menyapa pak baskara.


"Wa'alaikum salam bu."


"Naya sedang di ruangan, dia sedang di rapikan lagi riasan nya. Saya bingung dengan sahabat Naya, semuanya terlalu berlebihan. Karena menurut saya ini hanya hari pertunangan, bukan hari pernikahan."


"Sahabat Naya sangat baik, mereka ingin yang mengesankan dan tidak terlupakan walaupun hanya hari pertunangan Dimas dan Naya."


"Iya pak, Naya beruntung memiliki sahabat yang sangat baik seperti mereka." Pak baskara tersenyum dan mengangguk.


Naya sudah dibawa keluar oleh Nina dan Vina, baby Dev di gendong Adit. Orang tua Adit dan Vina juga datang ke acara pertunangan Dimas dan Naya. Mereka juga diundang malam ini.


Naya terlihat sangat cantik dan anggun dengan tampilan sederhana nya, namun sangat elegan dengan kerudung juga yang di lilit kan ke belakang. Banyak tamu yang memuji kecantikan Naya dan juga sahabat nya yang membawa Naya keluar. Mereka jadi sorotan para tamu undangan, tampilan sederhana namun sangat mempesona.


Adit segera pasang badan, jika ada yang ingin mendekati istrinya. Begitu juga dengan Hendry, ia tidak mau Nina di ambil orang lain. Padahal Nina dan Vina sangat setia, tapi tetap saja mereka tidak mau jika ada yang mendekat.


Tiba saatnya pertukaran cincin pertunangan Dimas dan Naya, mereka berada di atas panggung.


"Sekarang kalian berdua saling tukar cincin." Ucap pak baskara diserahkan oleh mama Naya cincin yang sudah disediakan.


"Kamu aja dulu nay."


"Kamu lah dim, kenapa jadi aku yang duluan."


"Kamu aja, biar beda."


"Kamu dim."


Mereka saling menyodorkan cincin pertunangan nya, tidak mau ada yang mau lebih dulu memasangkan di jari masing-masing.


"Dimas, Naya. Kalian mau tunangan atau bermain?"

__ADS_1


"Bermain. Eh maksudnya tunangan pa." Pak baskara dan mama nya Naya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya.


"Kalau Dimas gak mau, biar Hendry aja om."


Dimas yang takut Naya keduluan Hendry langsung dipasangkan cincin di jarinya. Padahal maksud Hendry bukan mau mengambil cincin dan pasangan nya, tapi mengalihkan waktu nya agar Hendry saja yang lebih dulu. Tapi Dimas salah paham dan langsung cepat memasangkan cincin di jari Naya.


Karena di malam ini, ada Hendry yang juga ingin menebeng di acara pak baskara. Di acara ini Hendry ingin melamar kekasihnya Nina. Hendry tidak mau rugi, jadi mumpung ada acara besar ia juga sekalian ingin melamar Nina di depan orang tuanya juga.


Semua orang bertepuk tangan saat Dimas sudah memasangkan cincin di jari Naya, sekarang giliran Naya memasangkan cincin di jari Dimas.


"Ayo pasang nay, banyak orang yang lihat. Aku gak mau jadi sorotan."


Naya cepat memasangkan cincin di jari Dimas, karena Dimas tidak mau dilihat banyak orang. Naya tersenyum saat sudah terpasang di jari masing-masing.


Mereka lalu turun setelah di perkenalkan juga oleh pak baskara pada beberapa teman kantornya yang hadir.


Sekarang waktunya Hendry menarik Nina untuk ia melamar diatas panggung menggantikan Dimas dan Naya.


"Selamat malam semuanya," ucap Hendry dengan mic di tangannya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Nina pada Hendry.


"Saya disini Hendry, ingin melamar pacar saya Nina untuk menjadi pendamping hidup saya." Ucapnya langsung bersujud di depan Nina, menyodorkan cincin untuk Nina.


"Sebelum kamu terima, aku akan tetap seperti ini."


"Terima"


"Terima"


"Terima" Semua orang berteriak, menyuruh Nina menerima lamaran Hendry. Membuat Nina tersenyum malu menatap Hendry dan mengangguk.


Hendry yang melihat itu langsung berteriak dan memeluk Nina.


"Turunkan dan lepaskan anak saya! Kamu belum menjadi suaminya. Jangan sembarang main peluk anak saya." Papa Nina menatap tajam Hendry.


"Hehe, iya maaf om. Hendry cuma senang Nina terima lamaran Hendry." Jawab Hendry melepas pelukannya.


"Kak Hendry sih gak lihat tempat, disini kan ada papa sama mama." Nina marah dengan Hendry, karena main peluk saja. Disana saat ini sedang banyak orang, bukan hanya orang tua mereka, tapi orang tua sahabat mereka juga ada disana.

__ADS_1


"Iya, maaf."


Dimas tersenyum melihat Hendry yang dimarahi Nina.


"Kamu juga, kalau lagi ada banyak orang begitu kayak tadi, jangan nyodorin aja. Langsung gitu biar kelihatan keren nya. Malah saling nyodorin cincinnya."


"Iya nay, tadi malu soalnya."


"Tadi malu, habis ini gak malu lagi?"


"Iya tetap malu, tapi mungkin gak seberapa."


"Ini baru acara pertunangan loh, nanti kalau acara pernikahan nya gimana? Kalau aku malu, kamu malu juga, gimana?"


"Iya, namanya malu-malu tapi mau nay." Jawabnya tersenyum melihat Naya. Naya duduk saja tidak lagi menyambung ucapan Dimas. Lama-lama Dimas mirip dengan Adit dan Hendry.


Baby Devan sudah jadi rebutan oma dan opa, serta kakek dan neneknya. Adit dan Vina saat ini tenang duduk santai, karena baby Dev sedang bersama orang tuanya. Mereka hanya melihat dua pasangan yang saling berdebat ringan. Nina dan Naya sedang mengomeli pasangannya masing-masing, karena membuat mereka malu.


"Saya tidak setuju, Nina bersama Hendry." Ucap papa Nina menyeramkan bagi Hendry. Nina langsung melirik Hendry dan menunduk.


"Kenapa om? Apa karena saya tidak miskin? Eh maksud saya apa karena saya ganteng?"


"Kak." Nina memukul lengan Hendry pelan, sahabat nya malah tertawa mendengar ucapan Hendry.


"Karena kamu tidak melamarnya pada saya dan istri saya, padahal saya sudah ada disini. Tapi kamu hanya bertanya pada Nina anak saya."


"Begini om, saya disini hanya nebeng. Maksudnya saya besok langsung kerumah om, ini hanya sebagai pelengkap saja di acara ini Hendry melamar Nina. Besok resminya di rumah om meminta langsung pada om dan tante."


"Oh begitu? Saya kira kamu tidak menghargai saya disini sebagai orang tua Nina."


"Gak mungkin dong om, saya menghargai Nina berarti saya juga menghargai dan menghormati orang tua nya."


"Besok saya akan ikut kerumah bapak dan ibu, untuk melamar kan Nina untuk Hendry anak saya."


Orang tua Nina tersenyum mendengar ucapan orang tua Hendry. Mereka hanya ingin anaknya di lamar sama seperti yang lain. Padahal Naya juga tidak di lamar secara resmi pada orang tuanya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2