
Masa kelulusan wisuda telah selesai, Vina hanya melihat foto Adit wisuda dengan teman-temannya. Tidak ada postingan Adit yang di unggah di akun miliknya.
Vina, mama Dira dan papa Gilang bersiap-siap untuk pulang ke indonesia, kini mereka sudah di bandara menunggu keberangkatan.
"Vin, kamu gak pa-pa kan?" tanya mama Dira yang melihat Vina hanya melamun.
"Vina gak apa ma." Membuat mama Dira dan papa Gilang saling pandang.
"Kalau ada yang kamu pikirkan, cerita sama mama dan papa."
"Vina baik-baik saja kok pa, Vina hanya ingin cepat sampai di rumah." Jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan terlalu banyak pikiran dulu nak, kamu baru saja pulih."
Vina hanya membalas nya dengan tersenyum, "Iya pa."
"Apa lagi yang Vina pikirkan?" Batin papa dan mama.
Mereka sudah ada di dalam pesawat, Vina hanya memikirkan dirinya sudah akan sampai dimana banyak kenangan yang akan kembali ia ingat. Kenangan bahagia dan sedih nya, saat bersama Raka. Namun yang paling terdepan di ingatan nya kali ini adalah Adit, bagaimana secepat itu orang yang selama ini sulit melupakannya tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar.
"Apa sudah lupa dengan cahaya mu ini kak?"
Vina hanya menatap awan yang indah itu dari dalam pesawat.
Pesawat telah mendarat di bandara, menunggu keberangkatan pesawat kedua menuju kota dimana Vina tinggal.
"Vina, kamu lelah nak?" tanya papa
__ADS_1
"Pa, Vina ini sudah sembuh, tidak perlu lagi di khawatirkan."
"Papa tahu, kamu sudah sembuh dan kuat sekarang. Tapi kamu tetap butuh istirahat."
"Istirahat nanti di rumah pa, Vina ingin cepat sampai dirumah."
"Sudah kabari ila, kalau kita akan segera tiba? biar kita langsung pulang tanpa harus menunggu lagi."
"Sudah ma, papa sudah mengabari ila agar menjemputnya dengan bang David." Mama Dira mengangguk.
...******...
Mereka sudah sampai di bandara kota dimana mereka tinggal. Vina di iringi oleh papa dan mama nya berjalan menuju keluar.
"Kak Vina..." Teriak ila saat melihat kakaknya sudah pulih seperti sebelumnya.
Vina tersenyum menatap adiknya itu berlari ke arah nya.
"Kenapa cengeng sekali, kakak sudah kembali."
"Biarin."
"Mama sama papa gak di peluk?" tanya papa
"Nanti aja, yang tua ngalah. Ila lagi kangen banget sama kak Vina."
"Kakak gak kangen sama kamu."
__ADS_1
"Lalu, sama siapa?" tanya ila melepas pelukannya.
"Kakak kangen nya sama papa lah, kan papa yang jarang kakak lihat."
"Aku kan juga jarang dilihat kak Vina."
"Jarang apaan ya? orang mau tidur aja video call sampe ketiduran, kakak bosen lihat kamu ileran."
"Kak Vina," rengek ila memanyunkan bibirnya.
Semua yang melihat itu hanya tertawa dengan ila.
"Ayo cepat pulang, katanya mau langsung pulang. Ini malah kangen-kangenan disini."
"Ila gak jadi kangen kak Vina, ila kangen mama sama papa aja." Papa Gilang mengelus lembut rambut ila.
"Ini kenapa rambutnya makin kebakar aja sih?" tanya mama.
"Ini di warnai ma, bukan kebakar. Papa," adunya mendekati papa Gilang.
"Kenapa? rambut kamu bagus kok. Cuma jangan di tambah lagi yah? Nanti rusak kalau sering diwarnai."
"Iya pa, sudah ila kasi vitamin kok biar gak rusak."
"Iya, sesuka kamu aja yang penting kamu senang."
Melihat itu papa David tersenyum, ia melihat papa Gilang begitu menyayangi ila seperti anaknya sendiri. Papa yang orang tuanya sendiri, anaknya tidak sedekat itu dengannya.
__ADS_1
Vina melihat itu berjalan mendekati papa nya, ia memeluk lengan papanya dan tersenyum. Papa David tersenyum dan mengelus tangan Vina lembut.
🌻 Sejatinya, orang tua tidak ada yang tidak menyayangi anaknya, hanya saja masalah dari lingkungan dan keharusan yang meninggalkan.