
Adit akan berangkat ke kantor, ia mencium anak dan istrinya sebelum berangkat.
Adit berpamitan pada istrinya lagi, setelah sekian kali berpamitan. Namun tidak berangkat juga. Sampai Vina mengusir nya dari kamar, dan menyuruh secepatnya berangkat ke kantor.
Vina memberitahu Adit, bahwa atasan itu memberi contoh yang baik dan on time. Bukan yang terlambat dan marah-marah.
"Memangnya aku suka marah-marah?" Tanya nya.
"Gak tahu, tapi mungkin saja kalau lagi gabut pengen marah." Adit menggelengkan kepalanya mendengar ucapan istrinya. Ada-ada saja istrinya itu, mana ada gabut bisa membuat nya marah, yang ada dirinya makin cinta. Cuit cuitt.. buncin, bucin.
Setelah sekian lama, drama suami yang ingin berlama-lama dengan istri. Akhirnya berangkat juga ke kantor setelah mendapatkan pesan di ponselnya dari Hendry.
...******...
"Hendry," ucap Adit tiba-tiba membuat Hendry terkejut dengan kedatangan sahabat nya yang tiba-tiba itu.
"Assalamu'alaikum" ucap Hendry mengelus dadanya.
"Wa'alaikum salam."
"Lu dah islam kan, dit?" Tanya nya tiba-tiba.
"Lu kira gue murtad lagi? Gue lupa kali hen." Jawabnya tersenyum langsung duduk saja di kursi sekretaris nya.
"Ngapain coba pagi-pagi sudah masuk keruangan gue, seperti bos yang kurang kerjaan aja." Omel nya, karena terkejut dan sahabatnya itu seperti santai saja tanpa ingin cepat selesai dengan pekerjaan di ruangannya.
"Lu nyuruh gue cepat berangkat, tapi tanya gitu. Kalau tahu gini mending gue lihat wajah istri gue lama-lama."
"Bosan gue dengar lo bucin gini, cukup cerita lo dan bini lo. Sekarang kita ke ruangan lo aja, gimana?" Usul Hendry. Karena menurutnya jika bercerita di ruangan nya kurang meyakinkan jika tidak ada yang mendengar. Dinding pun dapat berbicara, di tempat yang sedikit terbuka. Menurutnya di ruangan Adit lebih aman dari pada di ruangan nya saat ini.
"Ayo, ke ruangan gue aja!" Ajak Adit langsung beranjak dari kursi, Adit keluar dari ruangan Hendry, diikuti oleh sahabat nya itu dari belakang.
Hendry tersenyum, begitu mudah terlihat sekarang, dinding yang dapat berbicara itu mundur.
Oh, tentu sangat mudah bagi Hendry sekarang. Semuanya sudah ia dapatkan informasi itu, seperti rezeki anak Sholeh bagi Hendry. Karena informasi itu datang dengan sendirinya, saat dirinya nge date bersama Nina pacarnya, tadi malam.
Di ruangan Adit, Hendry menyerahkan sesuatu.
"Apa ini hen?" Tanya nya melihat kertas di atas mejanya.
"Kertas." Jawabnya singkat.
"Yang gak tahu ini kertas, itu cuma anak gue." Mereka sama-sama nyolot, sudah tahu juga di depannya itu kertas.
"Terus lu ngapain tanya lagi, sudah jelas itu kertas dan lu tahu."
"Lama-lama lu ngeselin juga, ya, hen. Tinggal jawab apa isinya, kan gue tahu."
"Lu juga tinggal lihat apa isinya dit, kan jadi tahu."
__ADS_1
"Oh iya juga." Jawabnya tersenyum mengambil kertas di hadapannya. Merasa benar dengan jawaban Hendry.
"Ini apa, hen?" Tanya nya lagi.
"Gue udah bilang, itu ke-
"Maksud gue, ini kan berkas pekerjaan."
"Iya benar, kamu memang pantas jadi bos." Ucap Hendry memberikan dua jempol nya.
"Hen, tolong jangan buat gue naik darah." Ucap Adit cukup sabar meladeni sahabatnya itu.
"Justru gue mau nurunin darah lu, dit. Pekerjaan tetap pekerjaan, walaupun kita ada yang harus di bicarakan."
"Iya juga, tapi ah sudahlah. Sekarang mau bahas apa dulu? Pekerjaan atau yang mau di bicarakan?"
"Menurut lo enak kita ngobrol sambil ngopi, makan atau ngapain ya dit?" Ucapnya sambil melihat sekeliling.
"Masih pagi, memangnya lo tadi di rumah gak sarapan, hen?"
"Udah, cuma maunya dari lo sekarang."
"Nanti gue traktir, yang terpenting sekarang lo kasi tahu gue, apa yang lo tahu." Memang harus di umpan dulu sahabat nya itu. Jika di seriusin kadang suka nge lag dulu, tapi kalau di bercandain kadang serius.
"Jadi kan gini dit."
"Iya gue mau cerita, tapi ambil nafas dulu." Seakan dari tadi tidak bernafas.
"Di simpan dimana, nafasnya?" Tanya nya lagi. Mereka memang cocok bersahabat, saat sudah serius pasti akan kembali dengan pertanyaan yang sedikit tidak jelas.
"Di nafas gue lah, masih nanya aja." Ucapnya memandang Adit. Mereka saling menatap, seperti mau tertawa atau serius dengan wajah mereka masing-masing.
"Oke, sekarang kita serius dulu. Apa yang lo tahu?" Tanya Adit mengajak berbicara serius pada Hendry.
"Sebenarnya dit, lift kemaren bukan macet sendiri."
"Maksud lo, ada seseorang di balik semua itu?" Tanya Adit serius. Karena ini menyangkut nyawa anak dan istrinya.
Hendry mengangguk. "Mesin lift di sabotase oleh seseorang." Jawabnya semakin membuat Adit syok. Bisa-bisanya ada yang seperti itu di kantor nya.
"Siapa pelaku nya hen? Orang itu membuat cahaya dan Devan ketakutan di dalam lift kemaren." Adit mengepal kuat tangannya.
"Tapi, asal lo tahu. Orang yang akan di celakai itu bukan bini dan anak lo."
"Maksud lo apaan hen? Jelas-jelas kemaren cahaya dan Devan yang ketakutan." Adit terlihat marah saat Hendry mengatakan bukan Vina dan baby Dev yang akan di celakai. Tapi buktinya, istri dan anaknya yang sangat ketakutan.
"Lo tenang dulu, dit. Sasaran orang itu memang bukan Vina, tapi Nina." Jawabnya marah. Karena pacarnya yang akan di celakai.
"Ngomong yang jelas hen, apa maksud lo?"
__ADS_1
"Jadi, cctv saat akan masuk lift dan di beberapa tempat di bawah, memang sudah di rusak. Jadi tidak ada bukti yang jelas disana."
Adit menggebrak mejanya, ia terlihat marah dengan yang terjadi di kantor nya.
"Jadi, semua ini sudah di rencanakan? Berarti kita tidak tahu siapa pelakunya, kalau sudah di rusak semua."
"Yang dia rusak itu di bawah, tapi saat menuju ke ruangan ini, tidak ia rusak. Entahlah, mungkin dia lupa."
"Then?"
"Orang itu sudah lama bekerja dengan kita, dan lo sangat mengenalnya."
Adit berpikir siapa yang ia kenal di kantor nya dengan sifat seperti itu.
"Tunggu, lo bilang bekerja dengan kita dan gue mengenalnya? Tapi ia akan mencelakai Nina, bukan bini gue?" Tanya nya masih bingung.
Beberapa detik setelah nya, Adit melotot kan matanya.
"Maksud lo?"
Hendry mengangguk. "Iya, pelaku nya itu Sheryl."
"Kenapa lo tahu kalau itu Sheryl?"
"Karena gue melihat cctv di luar ruangan ini. Dia seperti marah dan mengepal tangannya, mungkin dia merasa gagal mencelakai Nina dan yang lain."
"Tapi bisa aja dia cemburu lihat lo sama Nina."
"Awalnya gue kira juga gitu, dit. Tapi lo ingat kan? Semalam gue bilang mau nge date sama Nina?"
Adit mengangguk, kalau semalam sahabatnya itu mengatakan akan nge date dengan pacarnya.
"Saat gue jalan-jalan sama Nina, gue lihat Sheryl, dia ketemu sama Reva."
Adit mengeryitkan dahinya. Bukannya Reva di restoran, dimana dirinya makan? Tapi kenapa sahabat nya bilang bertemu Sheryl.
"Lo gak usah bingung, gue ngikutin mereka sama Nina diam-diam saat gue mau pulang."
"Jadi di sana makin di perjelas, karena obrolan mereka. Dari awal mereka berbincang tentang kejadian lift, hingga Reva yang memaksa Dimas menikahi nya.
Banyak pertanyaan di otak Adit sekarang. Kenapa Sheryl dengan Reva? Apa hubungan antara mereka berdua?
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1