
"Gue kasi waktu buat mereka berdua Vin," ujarnya.
"Tapi Raka, Adit masih gamon dari Vina, walaupun mereka udah putus, tapi lu tau kan Adit playboy," ucap Alvin.
Namun Raka pergi dari depan kantin, setelah melihatku, di susul oleh kak Alvin yang mengejar nya.
"Yah malah ditinggal gue, Raka tungguin woy," teriak kak Alvin mengejar Raka.
"Raka barusan disini nay," ucap Nina.
"Mana?" tanya Naya mencari keberadaan Raka.
"Udah pergi sama kak Alvin," jawab Nina.
"Berarti-" Naya memainkan telunjuknya menunjuk pintu kantin dan ke arah ku bergantian.
Nina mengangguk (bunyi ak ek ak ek) apaan dah.
"Kak, Vina ada kelas lagi, makasih kak makanannya."
"Cahaya, makasih juga ya," ucapnya
Aku mengangguk tersenyum.
"Vina duluan ya kak." Di balas anggukan oleh kak Adit.
Aku berjalan diikuti Naya dan Nina.
"Vina," panggilnya. Membuat aku menoleh.
"Apa nin?" tanyaku
"Kita langsung ke kelas ya."
"Vin tadi aku lihat Raka-
Aku melihat Raka dan temannya, ada kak Devi juga disana. Mereka tertawa bersama, aku lihat Raka begitu dekat dengan kak Devi.
"Itu yang mau kamu bilang," tunjuk ku pada Nina dan Naya.
Nina dan Naya melihat ke arah yang ku tunjuk.
Aku kembali berjalan ke kelas.
'Apa ini yang buat kamu menghindar dari aku' batinku
"Vina tunggu," teriak Nina dan Nay.a
Teriakan mereka terdengar Raka dan temannya.
"Raka, Vina lihat lu dekat sama Devi," ujar kak Alvin.
"Yah emang kenapa? dia gak cemburuan kok, lagian kan dia tau gue sama Devi temenan," jawab Raka.
"Tapi bisa saja dia berubah sekarang, jadi cemburuan," ucap kak Alvin.
"Apa, iya?" tanya Raka.
"Lah malah tanya gue," ucap kak Alvin.
"Kan lu yang ngomong Vin."
"Bukannya tadi Vina bareng Adit?" ucap Devi.
"Iya mereka makan," jawab Raka.
"Terus lu gak cemburu?" tanya Devi.
"Kan mereka cuma makan, bukan macem-macem."
__ADS_1
"Tapi kan Adit mantannya Vina, playboy lagi. Bisa jadi dia dekatin Vina buat dijadiin pacarnya lagi, tadi aja jalan ke kantin gandengan tangan."
"kompor banget sih lu Dev," celetuk Alvin.
"Kan gue bilang bisa jadi, keliatan nya Vina masih suka tuh sama Adit."
"Ember banget deh."
"Udah-udah kalian kenapa coba, kan ini masalah gue sama Vina."
"Iya juga sih, tapi gue gak terima kalau Vina balik sama Adit, Vina udah cocok sama lu," ucap Alvin.
"Tapi gak juga, Vina sama Adit juga cocok," ucap Devi.
"Jadi menurut lu, Vina gak cocok sama Raka? terus yang cocok sama Raka siapa? lu?" balas Alvin.
"Pusing gue denger kalian, gue ke kelas duluan, hati-hati kalian berdua jodoh loh," ucap Raka tertawa meninggalkan kak Alvin dan kak Devi.
"Ih gak mau gue jodoh sama Alvin."
"Emang gue mau sama lu dev? gak. Gue tampan kek gini banyak cewek cantik, dimana-mana yang ngejar-ngejar gue. Tapi gue doain lu suka sama gue," ucap Alvin juga pergi berbeda arah.
Raka ke depan kelas ku, melambaikan tangan nya. Aku hanya melihat sekilas tanpa berniat menghampiri nya.
"Vina," teriaknya.
Semua mahasiswa dan dosen melihat kearah Raka, lalu menatap ku.
"Vina, di panggil Raka noh," bisik Nina.
"Biarin aja," jawabku.
"Kamu cari siapa?" tanya dosen mendekati Raka.
"Saya ada perlu penting sama Vina pak, apa boleh izin bawa Vina keluar?" tanya Raka dan di angguki dosen.
"Tapi ini kan baru masuk mata kuliah bapak."
"Tidak apa, nanti bisa minjam punya teman kamu."
'Ngapain coba Raka'
"Aku keluar dulu ya nay, nin," ucapku diangguki oleh mereka.
Aku berjalan mendekati Raka yang masih di pintu kelas.
"Apa?" tanya ku.
"Jangan disini, di taman kampus aja."
"Makasih ya pak. Silahkan lanjutkan, maaf mengganggu sebentar," ucap Raka pada dosen.
Dosen itu tersenyum.
Aku langsung berjalan ke taman, tanpa menunggu Raka yang di belakang.
"Vina," panggil nya.
Aku tetap tidak menoleh nya. "Tunggu bentar Vin."
"Katanya ngomong di taman, ini belum sampai."
"Iya bareng Vin, kenapa kek orang musuhan gini."
"Kamu yang kenapa? kenapa selalu menghindar dari Vina, apa udah bosan sekarang?"
"Vina, bukan gitu, kamu salah paham."
"Apa yang salah paham? lihat kamu sama kak Devi?"
__ADS_1
"Vina, aku juga lihat kamu sama Adit loh, aku biasa aja. Kamu kan tau aku sama Devi temenan."
Aku dan Raka di taman kampus, aku duduk dan menunduk.
"Vina, kamu kenapa? aku minta maaf kalau akhir-akhir ini gak bareng kamu."
Aku menangis. "Tuh kan, kenapa queen nya Raka nangis?"
"Hiks aku tadi manggil kamu, tapi kamu gak noleh juga, padahal kamu sama kak Alvin pasti denger kan? hiks apa sengaja ngehindarin aku?"
"My queen don't cry, okay. Aku gak suka lihat kamu sedih," ucap Raka memegang tangan ku.
Bukannya berhenti malah makin sesenggukan.
'Makin di lembutin biar gak nangis lagi, malah makin kuat,' batin Raka.
"Hiks terus kenapa kamu gitu? pelan-pelan mau jauhin aku?"
"Gak gitu, cuma akhir-akhir ini aku sedikit ada urusan penting."
"Sampai gak bisa noleh?"
'Aduhh'
"Ya bisa sih," ucapnya garuk-garuk kepala.
"Alasan yang sangat klasik."
"Modern kok," jawabnya.
"Raka kamu ish," aku memukul lengan nya.
Raka tertawa melihat aku cemberut dan berhenti menangis.
Raka mengelap air mataku, "jangan nangis lagi ya cantik," ucapnya tersenyum.
"Janji dulu gak gitu lagi," aku mengacungkan jari kelingking sebagai tanda janji.
"Iya janji," Raka mengaitkan jari kelingkingnya.
Aku tersenyum. "Gitu kan cantik" ucap Raka mengelus kepalaku.
"Aku mau masuk lagi ke kelas," ucapku berdiri.
"Gimana kalau kita keluar?"
"Aku gak mau, aku ada kelas."
"Aku gak nanya kok."
"Lah tadi-
"Ya emang kamu mau ke kelas begini?" tanya Raka
Aku habis nangis pasti mata aku jelek banget pikirku.
"Ayo" ucapnya menarik ku keluar area kampus.
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
.
__ADS_1