Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Jodoh terindah dari Allah


__ADS_3

Seperti pada pagi-pagi biasanya Adit kembali mual, ia hanya ingin di elus-elus oleh Vina. Sekarang ini Adit menghadap perut Vina yang tengah senderan di dinding ranjang, meminta istrinya itu mengelus kepalanya.


"Kak Adit mau makan apa? Biar aku siapin." Tanya Vina sambil mengelus kepala Adit.


Adit menggeleng, ia tidak mau apa-apa, yang ia inginkan hanya di dekat istrinya.


"Terus kak Adit gak mau makan? Berarti aku gak makan juga dong." Vina sengaja mengatakan dirinya tidak ingin makan, supaya suaminya itu perut nya tidak kosong.


Adit mendongak, ia juga duduk mendekatkan wajahnya ke wajah Vina.


"Kamu harus makan sayang, jangan ikuti aku."


"Gak mau kak, pokoknya kalau kak Adit gak mau makan, aku juga gak akan makan."


"Iya, tapi aku makan dikit aja ya?"


"Maksudnya aku banyak? Kalau aku banyak makan, aku yang gemuk terus kak Adit kurus. Namanya gak seimbang kak."


"Tetap seimbang sayang, kamu gemoy lucu. Nah, kalau aku gemuk malah perutnya yang buncit."


"Bagus kak biar kayak papa Anton." Vina tertawa mengingat mertuanya mempunyai perut yang buncit.


"Kamu ngatain mertua kamu buncit? Aku bilangin papa loh ya."

__ADS_1


"Aku gak ada bilang buncit, aku cuma bilang bagus kayak papa."


"Tapi kamu mengarah ke buncit 'kan?" Tanya Adit mentoel hidung Vina.


"Ih bukan kak, aku gak ada bilang pokoknya."


"Iya udah kamu gak ada bilang, sekarang kamu mau makan apa?" Adit mengalihkan agar tidak membuat mood istrinya rusak.


"Aku ikut apa yang kak Adit mau aja, lagian aku suka semua kok."


"Ular juga mau berarti?" Tanya Adit membuat Vina langsung cemberut.


"Ular yang lain sayang." Adit mengedipkan sebelah matanya, Vina yang tadinya cemberut tersenyum. Ada saja tingkah Adit yang membuat dirinya tidak marah.


"Ih dasar otak mesum." Vina memukul lengan Adit.


"Ular belut maksud nya, kamu suka kan?"


"Aku gak suka ular apapun."


"Yang bener gak suka?"


"Kak Adit." Adit tertawa sangat suka menggoda istrinya itu, yang mudah sekali malu-malu tapi mau ia lihat.

__ADS_1


...******...


Adit akhirnya memesan lewat online, makanan untuk dirinya dan Vina. Bibi yang biasa membantu membereskan rumah dengan security juga kebagian. Adit tidak pelit untuk berbagi dengan orang lain, ia sangat bersyukur mendapatkan wanita yang sangat di cintainya.


Adit melihat Vina begitu lahap dengan makanan yang di pesannya, ia tersenyum memiliki istri yang tetap sederhana walaupun sudah memiliki segalanya. Bisa saja di luar sana, jika mendapatkan suami seperti dirinya pasti sangat manja, berbeda dengan Vina yang malah memanjakan Adit.


"Kenapa kak Adit lihatin aku makan? Makanannya gak enak?" Tanya Vina yang sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Adit tersenyum menggeleng, "Aku hanya sangat-sangat berterima kasih kepada Allah, karena sudah memberikan jodoh yang sebaik dan secantik se-semuanya ada pada diri kamu."


"Makan deh kak, lagi makan memang dilarang melamun gini jadinya ngelantur lebay. Aku suapin ya?"


"Bukan sayang, kamu makan aja lagi. Aku serius dengan kata-kata ku, kalau kamu memang jodoh terindah yang paling ter the best." Adit mengacungkan kedua jempol tangan nya, mengatakan bahwa Vina adalah jodoh ter best nya.


"Pandai sekali berkata-kata, semoga kamu mirip ibu nak." Vina mengelus perutnya.


"Tetap gen dari papa kamu ini yang paling kuat." Adit menepuk dadanya, membuat Vina mencebikkan bibirnya.


Mereka melanjutkan makannya sampai tak tersisa, Vina yang paling banyak menghabiskan makan karena Adit sedikit kurang nafsu makan.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2