Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Ungkapan


__ADS_3

"Vina, gue suka sama lu," ucapnya mengejutkan ku.


"Becanda mulu ni anak, demam ya li?" tanyaku menyentuh dahinya.


Ali memegang tangan ku, namun aku cepat melepas nya.


"Vin, gue beneran suka sama lu," ucapnya lagi.


"Vi- Vina bingung mau jawab apa." Tiba-tiba aku jadi bingung sendiri, dengan apa yang mau aku jawab.


Tiba-tiba juga aku mimisan, dan pusing.


"Vin, lu kenapa?" Tanya nya khawatir.


"Vina gak apa kok, Vina masuk dulu ya," ucapku sambil memegang kepalaku.


Ali langsung memegang bahuku untuk membantu kedalam.


"Udah li gak usah, Vina bisa sendiri," ku menolak untuk di bantu Ali.


"Tapi vin-


Aku sudah tak bisa untuk berjalan dan lemas disitu terjatuh.


Ali langsung menggendong ku masuk ke dalam rumah.


"Om tolong! Vina," ucap Ali menggendong ku.


Semuanya berlari untuk membantu Ali membawa ku masuk.


"Vina kenapa li?" Tanya papa khawatir.


"Vina," ucap Raka tak kalah khawatir.


"Gak tau om, tiba-tiba mimisan," jawabnya.


"Ya tuhan, papa lupa, Vina kan alergi dingin."


"Vina," panggil Raka mendekat.


"Cepat bawa masuk ke kamar," ujar papa.


Aku sudah ada di kamar. "Ila, kamu temani kak Vina disini ya?" Ucap papa.


"Iya pa," jawab ila.


"Aku boleh temani Vina juga om?" Tanya Raka.


"Iya gak apa, temani dulu."

__ADS_1


Mereka keluar, dan hanya aku ila dan Raka di kamar.


"Vina kenapa keluar tanpa pakai jaket?" ucapnya sambil mengelap mimisan ku yang mengalir di hidung.


"Udah Raka, Vina gak apa kok," jawab ku tersenyum lemah, dan seperti tidak terlihat sedang tersenyum.


"Begini, masih bilang gak apa?" ucapnya serius.


Aku tersenyum pada Raka.


Ila hanya menatap aku dan Raka.


Di luar.


"Lu apain Vina li?" Tanya Dani.


"Lu gak ngapa-ngapain Vina kan li?" Evan juga tak kalah menyelidik.


"Gu- gue-


"Vina memang punya alergi, dan itu bikin dia lemah, kalian jangan nyalahin Ali," ucap papa yang baru menyusul mereka keluar.


"Udah malam om, Ali pulang dulu ya, ada tugas."


"Assalamu'alaikum," lanjutnya dan pergi.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka.


'Apa ini juga Ali yang buat Vina gini' batin Evan.


"Mungkin Ali capek, dan gak ada lagi yang mau di jahilin" ujar papa.


Evan dan Dani saling menatap.


"Om David, Evan sama Dani juga pulang ya, lupa kita juga ada tugas," ucap Evan.


"Van-


Evan menutup mulut Dani, "Assalamu'alaikum om," ucapnya menarik Dani keluar.


"Wa'alaikum salam"


"Anak muda sekarang, pada aneh," ucap papa menggeleng gelengkan kepalanya.


Lalu papa berjalan menuju kamarku, "Vin, udah mendingan?" tanya papa di pintu.


"Udah kok pa, nih udah gak ngalir," ucapku sambil memencet hidung.


Raka dengan cepat memegang tangan ku, agar aku melepas nya, "kan aku bilang jangan di pencet, nanti sakit."

__ADS_1


"Ih Raka, Vina kan cuma mastiin," jawabku cemberut.


"Tapi nanti sakit loh," balasnya.


Aku tak menjawab lagi.


Papa tersenyum menatap ku, "Raka, ayo kita keluar!" ajak papa.


"Iya om." Papa langsung keluar menunggu Raka di kursi ruang tamu.


"Kamu jangan cemberut gitu dong," ucapnya mengelus kepalaku.


"hm" jawabku.


Raka mencubit pipi ku, "jangan ngambek! aku keluar dulu ya. Ila jagain kakak kamu, kak Raka keluar," ucapnya tetap menatap ku dan beranjak keluar.


Aku meliriknya, namun Raka juga menatap ku. 'Ketahuan deh curi-curi pandang' batin ku


Raka tersenyum sambil menutup pintu.


"Kak Raka perhatian banget sama kak Vina," ucap ila.


Aku hanya tersenyum, dan mengingat kembali tadi di luar rumah.


'Kenapa Ali bisa suka sama Vina?' lirihku dalam hati


...°~°...


Di luar.


"Raka, duduk sini," ucap papa David.


"Iya om," Raka duduk di dekat papa.


"Raka, om mau ngomong sesuatu," ujarnya serius.


'Jangan bilang mau jodohin Ali sama Vina, aku gak setuju'


"Mau ngomong apa om?" tanya Raka takut.


"Om hanya ingin kamu me-


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu (teman) oke 😉


Annyeong 🤗


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2