
Lama bercerita dengan papa, aku sedikit lega. Karena sebagian uneg-uneg sudah tersalurkan. Tak lama mama datang, menemui ku dikamar.
"Papa keluar ya," ucap papa.
Aku dan mama mengangguk.
"Mama boleh bicara serius?" tanya mama.
'bicara serius apa nih' aku sudah gemetar takut mama marah.
"Bicara apa ma?" tanya ku.
"Pertama, mama kecewa sama kamu, karena tidak jujur." Tatapan mama memang menunjukkan bahwa beliau kecewa padaku.
"Vina minta maaf ma," aku menyesal.
"Oke, mama ada satu permintaan, mama harap kamu tidak menolaknya," pinta mama.
'apa ya permintaan mama?'
"Mama sudah merencanakan ini, dari awal kita pindah kesini," ucapnya lagi.
Aku hanya menatap, dan terus memasang telinga (biasanya gak lepas ya guys), untuk mendengar apa yang akan mama katakan.
"Mama sama temen mama sudah sepakat, MENJODOHKAN kamu dengan putra bungsu nya," ucapan mama seperti petir menyambar.
deg
Dadaku kembali sesak.
"Ma-
Mama memotong ucapan ku, "tadi mama bilang di awal, mama harap kamu tidak menolaknya," ucapan mama seperti tidak bisa di bantah.
"Vina gak mau dijodohin ma hiks," ucapku menangis.
"Mama cuma mau yang terbaik buat kamu vin," ujarnya.
"Vina bisa cari sendiri ma, gak perlu di jodohin," jawabku menolak.
__ADS_1
"Cari yang seperti kemarin, seperti Adit, iya?" ucap mama.
Aku terdiam mengingat aku salah memilih.
"Vina masih sekolah ma."
"Mama hanya menjodohkan kamu, bukan menyuruh kamu menikah Vin."
"Tapi sama saja ma, nanti nya juga menikah," jawabku.
Aku takut cerita mama, kembali menjadi cerita dalam hidupku. Aku takut perceraian, karena pernikahan yang dijodohkan, tidak saling mengenal.
"Mungkin bisa jadi ini permintaan terakhir mama, kamu pikirkan baik-baik Vin, mama keluar dulu," ucap mama keluar.
Aku tidak tahu harus bagaimana? bingung menjawabnya, apakah harus aku terima? aku saja baru putus dari kak Adit.
"Ya Allah, kenapa ini terjadi padaku," ucapku kembali dengan tangisan yang sama.
Malam ini aku insomnia, menumpahkan masalah satu dan timbullah masalah baru.
Tak berapa lama, larut malam mulai menyusupkan angin-angin nya, entahlah begitu sangat terasa, padahal aku sedang berada di kamar. Mungkin diluar saat ini sedang hujan.
Malam pun telah berganti pagi, bangun untuk melakukan kewajiban ku. Bersujud, meminta, menengadahkan tangan.
Janganlah kamu hanya datang, disaat kesusahan dan butuh saja baru menghadap tuhanmu. Sesungguhnya Allah selalu bersama kita.
"Kak Vina, ini ila bawain sarapan." Ila datang membawa bubur dan juga roti.
"Makasih ya," ucapku mengambil nampannya.
"Kenapa mata kak Vina bengkak?" tanya ila. Memang mataku merah dan membengkak, habis menangis semalaman dibawa tidur.
"Oh ini nonton nangis gitu, jadi bengkak," jawabku.
"Jangan bohong sama ila, ila udah gede loh," ucap anak usia 10 tahun. Karena ia sudah kelas 5 SD jadi menurut nya sudah besar.
"Siapa yang bohong coba," aku mengelak, jelas-jelas memang sedang berbohong.
"Kata mama bohong itu dosa kak," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Iya tau dosa, sana kamu keluar deh il," aku mengusir nya agar keluar.
"Yehh malah diusir."
"Sekolah sana anak kecil," ucapku mengejek.
"Kak Vina itu harus periksa, aku udah mau SMP tau, berarti udah besar," ucapnya menolak dibilang kecil.
"Baru mau kan?" hahahahha aku menertawakan nya.
"Ih mama papa...." teriak ila.
"Nah kan, ini bukti bahwa kamu masih kecil, suka merengek dan mengadu. Lihatlah tinggi badannya saja masih 130 an hahhah," ucapku.
"Emang kak Vina berapa, 200?" tanya nya.
"Gak juga sih, masih 158," jawabku.
"Ila akan lebih tinggi dari kak Vina, karena tiap naik kelas ila akan naik juga tingginya 2cm," ucapnya.
"Yakin, bocil bisa tinggi cepat?"
"Gak tau sih, tapi akan diusahakan. Ila berangkat sekolah dulu bye kak emmuah" ucapnya mencium pipiku dan pergi
saat ini aku tidak ke sekolah, karena masih lemes.
Aku menggeleng gelengkan kepalaku, dipikir pikir lumayan juga punya adik.
Hahahahhah
Alhamdulillah
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1