
Sore hari nya, Nina dan Vina menunggu semuanya datang ke rumah nya. Karena Naya hanya saat istirahat dan langsung kembali ke kantor.
"Baby Devan sama aku ya, mau belajar pegang bayi." Ucap Nina pada Vina ingin memegang Devan.
"Dari dulu gak mau belajar, sekarang anak aku udah besar nin bukan bayi lagi."
"Ya gak pa-pa, yang penting masih bisa gue gendong." Nina tetap kekeh akan menggendong baby Devan.
"Iya, terserah kamu aja. Awas nangis anak aku! Aku titip Devan ya? Soalnya aku mau siapin baju dan handuk kak Adit di kamar."
"Siap." Nina tersenyum, hanya menjaga Devan saja Nina pasti bisa menurutnya.
Vina meninggalkan mereka berdua disana, tinggal Nina dan baby Devan.
"Devan sama aunty ya? Sebentar lagi Devan punya teman, karena aunty sedang hamil." Tunjuk Nina pada perutnya. Devan hanya mengangguk mengerti sambil tersenyum. Anak yang sangat kalem seperti ibunya pikir Nina.
"Devan coba panggil aunty Nina." Nina menyuruh Devan untuk memanggil dirinya.
"Aunty Nina." Dengan suara bocah-bocah kecil menggemaskan.
"Ululu ponakan aunty yang lucu, panggil seperti itu terus ya kalau bertemu aunty Nina." Nina gemas dengan wajah gembul Devan, ia mencubit pelan wajah Devan. Ingin sekali dirinya menggigit wajah bakpao itu.
Namun beberapa saat Devan berkaca-kaca, ia tidak suka wajahnya di cubit. Walaupun itu hanya pura-pura. Padahal ia suka jika ada yang memuji dirinya, namun bertepatan dengan datangnya Hendry dan Adit masuk ke dalam rumah, jadi kesempatan untuk Devan berpura-pura kesakitan.
"Cup cup sayang, aunty hanya gemas sama kamu bukan nyakitin kamu." Nina mencoba menenangkan Devan, tapi Devan tetap saja berkaca-kaca.
"Kamu apain anak orang yang?" Tanya Hendry yang baru datang bersama Adit, Naya juga baru sampai menyusul di belakangnya.
"Ayah," panggil nya pada Adit. Nina menoleh mendengar suara suaminya, ia bahkan hanya mencubit lembut wajah anak sahabatnya. Biasanya juga tidak masalah, tapi kenapa sekarang malah menangis pikirnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Adit dan Hendry.
"Wa'alaikum salam."
"Aku gak apa-apain Devan kak, sumpah. Aku cuma nyubit pipinya karena gemas, itupun juga pelan aja seperti biasanya." Terang Nina pada suami dan Adit.
"Sakit, ayah." Ucapnya di dalam pelukan Adit sambil memegang wajahnya.
"Aunty Nina cuma gemas, bukan nyakitin kamu nak."
"Aunty minta maaf yah, aunty gak sengaja nyakitin kamu." Nina meminta maaf, karena memang dirinya hanya gemas.
Naya tahu kalau Devan sedang pura-pura.
"Kasihan sekali aunty Nina, sedang hamil tapi gak dimaafin sama Devan. Dedek bayi nya pasti ikutan sedih." Devan menatapnya, Adit dan Hendry malah menatap Devan yang sedang menatap ke arah Nina.
"Aunty Nina gak salah, Devan hanya belcanda."
"Minta maaf dan peluk aunty Nina." Ucap Vina. Adit menyerahkan nya pada Nina. Nina yang sejak tadi ingin menggendong Devan tersenyum. Namun belum sempat di gendong, Hendry sudah mengambil Devan dari tangan Adit.
"Kamu nakal sama istrinya om Hendry."
"Aku mau di gendong aunty Nina, bukan om Hendly." Masih sangat lucu, dengan lidah cadelnya Devan.
"Eh bocah, istri nya om Hendry sedang hamil, jadi gak boleh gendong kamu yang berat. Satu lagi, nama om bukan Hendly, tapi Hendry." Hendry selalu mengolok Devan yang belum bisa mengatakan huruf r dengan benar.
"Iya om Hendly, tapi Devan gak belat."
"Iya om Hendly, Devan gak belat tapi belut." Semuanya hanya menggelengkan kepalanya mendengar Hendry mengolok Devan, Devan langsung mengerucutkan bibirnya dan bersedekap.
"Assalamu'alaikum. Gue ketinggalan lagi, ada apa nih?" Tanya Dimas yang baru saja tiba.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
"Lo ketinggalan mulu, kerja terus yang lo urus."
Dimas menghampiri mereka, dan berdiri di dekat Naya.
"Semuanya untuk masa depan gue dan keluarga kecil gue nanti." Jawabnya sambil melirik Naya.
"Apa sebentar lagi akan nyusul gue dan Nina?"
"Maksud lo? Gue kan udah nikah." Dimas bingung dengan pertanyaan Hendry.
"Maksud gue bukan nikah lagi dim, atau lo mau nikah lagi ya?" Naya langsung melototkan matanya menatap Hendry lalu pada Dimas.
"Gue mana berani hen, lo jangan ngada-ngada. Istri satu aja sudah cukup." Jawabnya tersenyum melihat Naya. Naya langsung melengos, tapi hatinya bahagia.
"Nyusul nya maksud kak Hendry segera hamil, karena Nina sudah positif hamil." Vina memberitahu Dimas, kalau Nina telah mengandung.
Dimas tersenyum, "selamat ya Hendry, Nina."
"Makasih dimas."
"Kalian tenang aja, aku dan Naya ngambil belakangan aja." Dimas selalu menjaga ucapannya, ia takut membuat Naya tersinggung atau marah dengan yang di ucapkan.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1