
"Kenapa kamu kesini?" tanyaku.
"Ini kan kantin, siapa aja bisa kesini" jawabnya.
Aku hanya memanyunkan bibirku.
Raka dan teman-temannya duduk dimeja yang sama, nina datang membawa makanan.
"Gak usah gitu deh wajahnya, aku gemes tau. Ya aku kesini, mau makan sama kamu lah."
"Kenapa cuma Nina dan Naya yang pesan?"
"Vina bilang mau nyicip aja punya kita," jawab Nina.
Raka beralih menatap ku. "Vina malas makan, tapi ini mau nebeng kok."
"Nebeng? emangnya Raka gak mampu beliin kamu makan? aku pesan dulu."
"Eh Raka gak usah! Vina gak mau makan," aku menahan tangan Raka.
"Kalian pesan sendiri ya! gue mau pesan makanan punya gue dan Vina," ucap Raka
Temannya mengangguk lalu pergi.
'Biasa nya juga aku pesan sendiri' batin teman Raka
"Raka, Vina gak mau makan! nanti mubadzir loh."
"Kalau gak mau makan, Raka aja yang habisin," ujarnya menyusul temannya memesan makanan.
"Raka mah kalau udah iya harus iya."
"Kamu kenapa sih Vin? agak kurusan juga."
"Vina gak apa kok, cuma sering pusing aja."
"Kamu udah periksa?" tanya Naya
"Vina cuma pusing biasa kok," ucapku tersenyum sambil memijit pelipis.
Tak lama Raka dan temannya datang membawa makanan.
Aku sedikit terkejut dengan makanan yang mereka bawa.
"Kalian makan sebanyak ini?" tanyaku.
"Ini makanan di nampan gue, bukan punya gue semua, tapi punya lo." Aku beralih menatap Raka.
"Kenapa banyak banget coba, Vina gak mau maka, Raka." Aku memelas karena sangat tidak selera untuk makan.
"Kalau malas tangan kamu bergerak, biar aku yang suapi."
"Tapi-
"Gak ada tapi, kamu agak kurusan sekarang, my queen nanti gak gemoy lagi," ucap nya mencubit pipi ku.
Teman-teman Raka tersedak mendengar penuturan nya dan perlakuan Raka.
Aku langsung diam sambil menatap temannya yang menatap ku dan Raka.
Mereka semua memakan makanannya, aku hanya memijit pelipisku.
Raka melirikku, karena aku tidak sama sekali menyentuh makanan di depanku yang di pesan Raka.
"Vina, ayo makan! apa mau aku suapi?" tanyanya.
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Raka, Vina ke toilet bentar ya," aku beranjak dari tempat duduk.
"Aku antar kamu sampai toilet," Raka ikut berdiri.
"Gak usah Vina bisa sendiri," aku memegangi kepalaku yang sedikit pusing dan hampir terjatuh.
Namun Raka cepat menahannya.
"Vina, kamu kenapa? pucat banget."
"Gak apa, Vina ke toilet dulu."
"Ayo, Raka antar!"
"Raka-
"Ayo! coba deh sekali aja gak membantah."
Aku ke toilet diantar Raka.
"Gaya banget sih Vina, ke toilet aja di antar cowoknya."
"Iya, biasa lah manja."
"kek gak tau Vina aja, apa jangan-jangan mereka udah," langsung tertawa.
Aku berkaca-kaca mendengar yang diucapkan mahasiswi yang sedang membicarakan aku dan Raka.
"Kalian, sekali lagi ngatain Vina, awas Lo pada," ucap Raka mengancam menunjuk mereka.
Mereka langsung pergi meninggalkan toilet.
Aku mengangguk. "Ya udah sana, aku tungguin."
Aku masuk ke toilet, rasanya pusing sekali kepalaku, aku memuntahkan isi perutku disana.
Perutku sangat sakit.
"Siapa sih di toilet sebelah? hamil kali ya."
"Seperti nya kebablasan."
'Ya Allah, engkau yang maha melihat dan yang mendengar segalanya, tabahkanlah hati ini ya Allah' batin ku
Aku keluar dengan wajah pucat, dan memegangi perut.
"Vina, kamu gak apa kan?" tanya nya khawatir.
Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku.
"Aku antar kamu pulang ya?"
"Kita makan dulu," ucapku karena Raka tadi belum menghabiskan makanannya.
Aku dan Raka berjalan ke arah meja, dan duduk.
"Aku suapi ya."
"Vina gak mau, kamu aja! perut Vina sakit."
"Lo hamil?" tanya teman Raka.
"Ngomong hamil sekali lagi gue tonjok, mau?" Raka tidak terima aku di bilang hamil.
__ADS_1
"Terus kenapa? kalau bukan hamil?"
"kamu mau dapet Vin?" tanya Naya
"Gak tau, sakit banget."
Raka mengehentikan lagi makannya.
"Kita kerumah sakit ya." Aku sekarang pasrah karena sangat sakit.
"Ayo!"
"Raka, Vina gak bisa jalan, perut nya sakit banget."
Raka langsung menggendong ku, dan membawa ku keluar.
Nina Naya dan juga teman Raka juga ikut.
"Raka, Vina malu," aku mengalungkan tanganku di leher Raka.
"Diam!"
Teman Raka membukakan pintu mobil,dan aku masuk.
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara teman nya membawa mobil nya sendiri.
Hingga setelah lama di perjalanan, kita telah sampai.
Aku kesakitan memegangi perutku.
"Ambil kursi roda aja yah, aku gak mau gendong."
Raka mengambil kursi roda dan membantu ku ke kursi roda, di bantu Naya dan Nina.
Kita semua masuk untuk mendaftar, dan sebelum di periksa, aku di suruh tes urine. Aku masuk ke dalam toilet, dengan pelan di bantu Raka di luar, kembali memuntahkan isi perutku disana.
Setelah selesai aku kembali menunggu, tak lama menunggu namaku di panggil.
"Bisa naik ke brankar kan?" tanya dokter nya.
"Bisa dok," jawabku karena seperti nya masih bisa sambil memegangi perut.
"Sekarang saya periksa ya, nanti bilang yang mana yang sakit." Aku mengangguk.
Dokter wanita itu menyentuh perutku, "ini sakit?" tanya nya menunjuk sebelah kiri.
"Yang ini dok," aku menunjuk perutku yang sakit.
"Saya dokter, biar saya saja yang cari tau." Aku langsung terdiam.
Setelah di periksa aku kembali ke kursi roda, memanggil Raka masuk ke dalam.
"Dari hasil urine tadi dan pemeriksaan saya-
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
.
__ADS_1