
Aku merasa Raka seperti berubah padaku, akhir-akhir ini juga Raka sering sibuk dengan teman-teman nya. Jarang ketemu juga. Alasannya, udah lama gak ngumpul bareng temen. Tugas kelompok yang setiap minggu. Tapi mungkin ini, aku aja yang terlalu ingin Raka selalu di dekat ku.
Aku mencoba kembali berpikir positif, karena semua alasan nya masih masuk akal, tidak macem-macem dan bisa di mengerti.
Aku merenung diatas motor, di parkiran kampus.
"Cahaya," panggil seseorang.
"Iya," ucapku tersenyum berbalik.
Aku kira Raka, ternyata aku lupa yang selalu memanggil ku dengan sebutan cahaya kan hanya satu orang.
"Apa kabar kamu?" tanya nya.
Aku kira yang memanggil ku Raka. Tapi dilihat lagi tumben gak sama wanita-wanita yang berganti tiap minggunya.
"Baik kak, Vina duluan ya," ucapku ingin menghindari kak Adit.
"Cahaya tunggu," ujarnya menghentikan ku.
Aku berbalik, "kenapa kak?"
"Kita masuknya bareng ya," ucapnya aku tidak menjawab dan tetap berjalan, kak Adit juga sudah berjalan di samping ku.
Orang-orang di kampus, menatap ke arah ku dan kak Adit. Karena sebagian dari mereka, tau aku dan Raka, kak Adit juga mantanku. Apalagi sekarang kak Adit di kenal playboy di kampus.
Banyak bisik-bisik dari temen kampus.
"Cocok ya mereka."
"Iya serasi."
"Kenapa mereka putus sih."
"Lebih cocok sama Adit."
Blablablabla.....
"Cahaya," kak Adit mencolek bahuku.
"Oh iya kak," ucapku terkejut.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya kak Adit.
"Gak apa kak," jawabku tersenyum.
"Apa karena bisikan mereka yang bilang kita serasi?" ucapnya menatapku.
"Gak kok kak."
"Kamu masih sama kayak dulu ya, aku selalu mengingat masa kita pacaran dulu," ucapnya
Aku hanya mendengar dan sesekali melirik.
"Apa saat ini kamu bahagia?" tanya nya.
"Kenapa nanya nya gitu kak?"
"Iya, kalau kamu tidak merasa bahagia dengan tunangan kamu, biar aku yang akan bahagiain kamu, cahaya."
"Vina bahagia kok kak, makasih ya kak, masih peduli sama Vina," ucapku tersenyum.
"Aku kangen banget sama kamu cahaya, apalagi senyum yang selalu menghiasi malam ku, menghantui, aku kira dengan jadi playboy gini, bisa lupain kamu. Tapi aku salah, dan malah makin gagal untuk move on dari kamu, cahaya."
"Kak Adit harus bisa move on dari Vina, masih banyak juga yang lebih baik dan lebih cantik. Kak Adit kan sukanya juga yang pakaian nya mini, (ucapku sambil tertawa kecil, takut menyinggung). Masa iya disamain sama Vina yang modelan nya begini. Penampilan seadanya dengan celana jeans, kemeja, kerudungan pula."
"Vina-
"VINA..." panggil Nina dan Naya.
'Alhamdulillah aman, untung cepat kalian' batinku.
Nina dan Naya berlari ke arah ku dan kak Adit.
"Kita nyariin kamu Vin, ternyata disini," ucap Nina melirik kak Adit sambil ngos-ngosan.
Aku ngasi kode ke mereka agar cepat ajak aku pergi, dengan mengedipkan mata.
"Mata kamu kenapa vin?" tanya Nina.
"Kamu kenapa?" tanya kak Adit juga.
"Gak apa tadi sakit, kayak ada bulu mata nya."
__ADS_1
"Coba aku lihat sini," ucap nya memegang wajahku.
"Gak usah kak, makasih," aku menolak kak Adit membantu.
Karena memang tidak ada apa-apa di mataku.
"Ayo Vin kita ke kelas," ajak Naya.
"Iya ayo."
"Aku ke kelas ya kak," ucapku
Kak Adit mengangguk.
Aku langsung berjalan menjauh dari kak Adit. "Untung kalian cepat datang."
"Kenapa emang Vin?" tanya Nina.
"Kamu tuh juga nin, kalau aku kedip-kedip gitu berarti ngasi kode," ucapku memberi tau bahwa yang tadi adalah kode.
"Ya kan aku gak tau Vin, makanya aku tanya."
"Iya gak apa."
"Emang kenapa Vin? harus ngasi kode?" tanya Naya
Aku langsung bercerita soal tadi dari parkiran sampai dalam kampus.
"Berarti Adit masih cinta sama kamu Vin, dia gamon."
"Coba aja kak Adit mau sama Nina," ucap Nina.
"Kak Adit itu masih berharap Vina yang jadi pacar nya nin, bukan kamu."
"Yakali gitu jadi bucin sama aku," ucap Nina.
Kita tertawa bersama dan masuk ke kelas.
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
__ADS_1
Annyeong 🤗