
Sudah tiba waktunya masuk sekolah, penerimaan siswa baru, di sekolah yang baru juga.
Aku berangkat dari rumah menggunakan motor yang papa sambung ku beliin.
Baru tiba di depan sekolah yang baru, namun aku belum tau dimana kelas ku, aku menghampiri 2 gadis sebaya ku di dekat sekolah.
"Permisi, boleh nanya gak? kelas 1 jurusan IPS dimana ya?" tanya ku.
"Kamu anak baru, disekolah ini ya?" tanya nya.
"Iya, aku baru masuk hari ini," jawab ku tersenyum.
"Bareng kita aja ke kelas, kebetulan juga kita satu kelas." Mereka mengajakku untuk masuk bersama.
"Boleh, aku Vina," ucapku mengulurkan tangan.
"Aku Naya."
"Aku Nina," ucapnya bergantian.
'*N*amanya Naya, tapi ini yang versi baik' batinku
Setelah berkenalan, kita sama-sama ke kelas.
Banyak dari anak disana melihat ku, aku melihat baju dan rok ku tidak ada yang salah.
Apalagi 3 orang perempuan, yang menatap ku tidak suka.
"Vina, kamu santai aja, mereka memang gitu kalau ada murid baru," ucap Naya.
"Iya, kita kan sekarang teman," ucap Nina.
Aku tersenyum, "makasih ya, kalian udah mau temenan sama aku."
Kita bertiga menuju ke kelas, melewati geng cewek-cewek yang menatap kita tidak suka.
"Anak baru ya lo?" tanya nya mencegah kita masuk.
"Kita mau masuk de," ucap Naya.
"Gue gak ngomong sama lo (menunjuk Naya), gue ngomong sama dia," ucapnya menunjukku.
"Iya, aku anak baru, kenalin aku Vina," ucapku mengulurkan tangan.
Tidak ada yang menerima uluran tanganku, aku menariknya kembali.
"Tangan lo kotor juga, gue gak tau, atau seluruh badan lo kuman semua." Mereka memandang ku dari atas ke bawah.
"Lo kurang ajar banget ya dea," ucap Naya yang sudah sedikit emosi.
"Minggir, kita mau masuk," tambah Nina.
"Kalian boleh masuk, tapi tidak dengan dia," ucapnya menunjuk ku lagi.
Naya dan Nina tetap di sampingku, mereka tidak mau masuk kalau tidak bersamaku.
"Kak Hendri...." teriak Naya.
Entah siapa yang ia panggil, aku tidak mengenalnya
Lalu, orang itu menghampiri kita.
"Apa nay?" tanya nya.
"Ini kak, Dea gak bolehin Vina masuk, karena Vina anak baru."
Orang itu menatap ku, aku menundukkan kepalaku.
"Kalian masuk aja, Dea Lisa dan Nia ikut ke ruang OSIS, sekarang." Perintahnya.
"Tapi kak-
__ADS_1
"Ayo ikut, atau aku suruh kepala sekolah, panggil orang tua kamu," ucapnya menatap Dea tajam.
Dea dan temannya mengikuti langkah cowok itu, aku pikir mungkin dia OSIS.
"Vin kamu lihat, tadi yang bantuin kita?" tanya Naya.
"Iya lihat lah nay masa gak, emang kak Hendri transparan?" ucap Nina.
"Ih kamu ya nin, maksud aku tuh lihat tidak kegantengan kak Hendri?" ucap Naya.
Aku melihat nya sekilas, lumayan tampan sih.
"WOY.. Vin" ucapnya mengagetkan ku.
"Eh gak," jawabku terkejut.
"Gak apa hayooo?" ucap Nina.
"Gak apa sih."
"Jangan-jangan Vina suka sama kak Hendri, tapi dia memang cakep sih, apalagi ketos yang mainnya basket dan voly," ucap Naya.
"Kamu ada-ada aja deh nay, aku kan gak kenal juga," jawab ku.
Mereka menertawai ku.
Tak lama bel sekolah berbunyi, tanda nya masuk jam pelajaran.
Guru masuk Dea pun dan temannya sudah kembali ke kelas.
"Kamu murid baru ya?" tanya guru itu.
"Iya buk, saya murid baru," ucapku.
"Maju kesini, perkenalkan diri kamu." Guru menyuruh ku untuk memperkenalkan diri.
Aku maju ke depan, dan mulai memperkenalkan diri.
"Hai Vina"
"Hai Vina"
Begitulah mereka menyapaku, tapi tidak dengan 3 perempuan yang tadi ikut ke ruang OSIS.
"Sudah, silahkan duduk!"
Setelah memperkenalkan diri, kita mulai belajar dan mengajar.
Pelajaran pun telah selesai, aku diajak Naya dan Nina ke kantin.
"Vin kamu mau pesan apa?" tanya mereka.
"Samain aja deh," ucap ku.
"Oke! kamu tunggu sini, biar aku sama Nina yang pesan," ucap Naya.
Aku mengangguk dan mereka memesan makanan.
Sambil menunggu mereka datang, aku tiduran bertumpu tangan di atas meja.
"Boleh duduk disini?" Suara seseorang mengagetkan ku.
"Astaghfirullah," ucapku memegang dada.
Ia hanya tersenyum menatap ku terkejut.
"Maaf ya, kamu jadi kaget aku datang tiba-tiba," ucapnya.
"Em gak apa kok," jawabku.
"Boleh kan aku duduk?" ucapnya lagi, padahal ia sudah duduk.
__ADS_1
'masa iya aku larang, dia aja udah duduk' batinku
Aku hanya mengangguk.
"Aku Hendri Dwicahyo," ucapnya mengulurkan tangannya.
"Aku Devina cahaya, panggil Vina aja kak," ucap ku tersenyum sembari menerima uluran tangannya.
"Hampir mirip nama belakang aku ya nama kamu," ucapnya.
"Beda lah kak, kan aku Vina kalau kakak kan Dwicahyo," ucapku.
Ehem ehem...
Naya dan Nina datang membawa nampan berisi makanan yang di pesan.
"Eh ada kak Hendri, mau gabung sama kita kak?" tanya Naya.
"Gak kok, aku cuma kenalan sama murid baru, biar tau nanti kalau ada masalah namanya tinggal di catat, iya kan Vina?" jawabnya
"Hah? iya kak" jawabku.
"Aku kesana dulu ya," ucapnya.
Lalu pergi kembali ke meja temannya.
Aku melihat Dea menatap ke arah ku, seperti mau keluar bola matanya.
"Vin tadi ngomong apaan sama kak Hendri?" tanya Naya kepo.
"Kek nya kak Hendri cinta pada pandangan pertama deh," ucap Nina.
"Seperti nya enak nih baksonya, makan yuk!" ucap ku mengalihkan pembicaraan.
"Yeh ni anak, ditanya juga."
"Aku lapar tau, emang kalian gak?"
"Lapar banget," ucap mereka.
Tawa nya (hahahhahahah).
Kita bertiga langsung memakan bakso yang sudah di pesan tadi, sambil makan, kita mengobrol.
Gak sengaja aku menoleh ke arah meja kak Hendri, ia tersenyum padaku, aku langsung menunduk, kembali memakan bakso.
"Aku udah selesai, cepat ke kelas yuk," ajak ku.
"Cepat amat Vin, bentar lagi ngabisin kuahnya," ucap Nina.
"Baru juga punya ku masuk Vin," jawab Naya.
Aku beranjak dari kursi, "Yaudah, aku tunggu di kelas ya."
"Eh kita ikut Vin," ucap mereka mengikuti ku.
"Kamu kenapa sih Vin, mau cepat-cepat ke kelas, kurang menikmati makanan tau," ucap Nina mengerucutkan bibirnya.
"Kamu mah, mangkok nya aja yang gak di makan nin," goda Naya.
"Aku-
Chingguya annyeong 🤗
.
.
.
__ADS_1
bersambung 💃💃💃