
Setelah aku lulus SMP, sebelum melanjutkan SMA, di bulan ramadhan aku bekerja di sebuah toko baju. Karena, setiap ramadhan sekolah ku di tutup.
Dimana saat itu aku belum mengerti cara berdagang, menawarkan barang pada orang. Sedikit ragu namun aku mencoba memberanikan diri, untuk berdagang.
Aku yang sebelumnya jarang sekali bertemu dengan banyak orang, setelah terjun ke dunia kerja pasar ini, yang setiap harinya harus berhadapan dengan orang yang berbeda beda, akhirnya aku bisa juga beradaptasi walaupun belum tau cara menawarkan yang benar.
Awalnya aku bingung cara izin ke mama itu bagaimana? takut beliau tersinggung, karena beliau masih bisa membiayai sekolah.
"Ma, vina mau ngomong boleh?" tanyaku di depan mama dan papa sambung ku.
"Tumben vin mau ngomong apa?" tanya mama yang kini menatap ke arah ku.
"Vina mau kerja sebulan ramadhan ini, lumayan kan buat biaya daftar ulang apa boleh?"
Mama menghela nafas(Huffhhh), lalu melihat ke arah papa.
"Maafin mama vin, sebenarnya kamu hanya perlu belajar saja, mama sama papa masih bisa biayain sekolah kamu, tapi kalau itu bisa membuat kamu mandiri dan belajar untuk kamu kedepannya, gak apa."
Mama mungkin tidak tega melihat ku, apalagi harus kerja di pasar.
"Papa tidak akan menyuruh atau melarang kamu vin, semuanya terserah sama kamu, tapi kerja sama orang itu gak gampang loh, apalagi umur kamu masih 15 tahun."
Papa juga khawatir, dengan umurku yang masih sangat remaja.
"Papa sama mama doain Vina aja ya, pokoknya Vina yakin, doa orang tua lah yang akan membuat Vina sukses nantinya," ucap ku meyakinkan.
Papa sama mama mengangguk dan tersenyum.
Keesokan harinya.
"Ma pa, Vina berangkat ya, la jangan nakal lo kamu," ucap ku pamit pada orang tua dan adikku.
"Kamu hati hati vin, apa mau papa antar?" tanya papa.
Aku tersenyum, "gak usah lah pa, Vina pakai sepeda aja nih ke pasar."
"Kamu yakin Vin, mau kerja?" ucap mama lagi.
"Mama meremehkan Vina nih?" ucapku menaik turunkan alis.
Hahahhahaha
Mereka tertawa padaku, dan aku pun berpamitan mencium punggung tangan mereka dan tak lupa mencium adikku.
Aku bersepeda ke pasar untuk bekerja jualan baju, bukan milik Vina tapi milik Cece cantik.
"Pagi ce," sapaku.
Aku sudah berkenalan dengannya, karena sebelum masuk kerja, aku menemuinya terlebih dahulu.
"Pagi Vina,kamu udah datang?" tanya nya.
"Iya ce, Vina mulai kerja ya," ucapku.
Cece tersenyum, "kamu udah sarapan vin?"
Aku membalas senyuman nya, "Vina puasa ce." Karena bulan ini bulan ramadhan, jadi sebagai umat muslim aku berpuasa.
"Oh maaf, Cece kira gak puasa," ucap nya meminta maaf.
__ADS_1
"Gak apa ce," ucapku sambil mengangkat baju untuk di pajang.
"Vina, itu ada orang lewat sambil di tawarin ya."
"Vina harus gimana ce?" tanyaku menggaruk kepala, karena memang tidak pernah jualan.
Cece itu tersenyum padaku, kenapa juga mempekerjakan orang yang belum berpengalaman, mungkin pikirnya.
"Tawarin aja masuk. Kak mau cari apa? baju atasan, gamis, celana, sarung juga ada atau kerudung juga, gitu vin." Cece sangat sabar mengajariku.
Aku hanya manggut-manggut, karena aku sangat malu menawarkan nya.
Akhirnya ada orang yang mencari baju.
"Dek, ada gamis terbaru gak?" tanya nya.
"Ada kak, yang ini masih baru dan baru datang juga sih," ucap ku menunjukkan baju.
"Carinya itu yang bagus dek." Padahal menurut ku, yang aku tawarkan juga bagus.
"Ada juga kok kak, masuk aja di dalam banyak pilihan," jawab ku mengajak nya ke dalam.
"Mau cari apa kak?" tanya Cece.
"Cari gamis yang bagus ce," jawabnya.
Lalu, Cece menunjukkan baju bagus yang ada di dalam.
"Berapaan yang ini ce?" Tanya nya.
"Ini 350ribu kak, bisa kurang" jawab Cece.
"Kakak nawar aja, mau nya berapa? kalau cocok saya kasih, kalau nawarnya berlebihan ya gak akan saya kasih," jawab Cece.
"Di bawah seratus, bisa ce?"
Waduh, jauh amat kak nawar baju gitu amat, tadi minta yang bagus, tapi nawar nya harga mati rugi dong.
Astaghfirullah, lagi puasa saat itu.
"Saya gak bisa kasih kak kalau dibawah seratus, terlalu jauh dari harga yang saya tawarkan." Cece tidak memperbolehkan, barangnya di tawar sangat murah.
"Pas nya berapa ce?" tanya nya.
"Saya kasih pas nya 300 aja."
"Mahal banget sih ce."
"Bahannya bagus loh kak, ini yang lebih murah ada juga sih yang didepan itu 200 an aja," Cece menunjuk baju yang di luar.
"Saya mau yang ini, tapi 200 deal," balas nya.
Cece tetap menggeleng kepala nya.
"Maaf kak, jauh harga nya. Cari aja sampai keliling pasar ini, kalau ada yang kasi harga segitu, silahkan beli."
Aku yang kurang tau, menawarkan atau menjawab orang yang nawar hanya diam saja.
"Gak jadi deh kak, kemahalan soalnya." Orang itu keluar dari toko untuk pergi.
__ADS_1
"Eh kak, tambah dikit lah, tadi kan udah nawar juga." Cece mengejar orang itu.
"Gak kak, aku gak mau aja deh terlalu mahal disini," ucapnya pergi.
"Ya ampun, bulan puasa gini banyak cobaan," ucap cece dengan gaya bicaranya yang khas.
Aku tertawa mendengarnya, padahal Cece gak puasa.
Aku dan Cece melanjutkan pekerjaan, aku diluar sambil melayani orang disana, sedangkan Cece di dalam, mengecek barang yang sudah habis.
Waktu makan siang.
"Dek, kamu beli makan lah buat makan siang," ucap nya agar aku membeli makanan.
"Maaf ce, Vina kan lagi puasa," jawabku.
"Astaga, maaf Cece lupa, yaudah duduk aja disini istirahat sebentar!"
"Iya ce, sambil lihat orang di depan," jawab ku.
Saat Cece sedang makan, aku mendekati nya,
"makan apa ce? kok gak pakai nasi?" tanyaku melihat di kotak makannya, tidak ada nasi.
"Cece pakai kok dikit, cuma lebih banyak sayur, seperti sawi ini."
"Kalau Vina gak suka makan sawi atau sayur hijau lainnya ce, menurut Vina pahit gak enak." Aku tidak suka sama sekali dengan sayur.
"Enak loh vin, sehat dan bagus untuk tubuh nih, maaf loh ini Cece makan, karena gak kuat kalau seharian, Cece bisanya cuma setengah hari."
"Gak apa ce, Vina santai. Pantesan badan Cece bagus, ternyata makannya sehat."
"iya harus dirawat vin, kan Cece juga udah punya anak," ucapnya.
Aku terkejut, "Cece punya anak berapa? kok masih cantik banget."
Cece tertawa(hahahhaha), "kamu ini vin lucu banget, Cece udah punya anak 2 yang besar udah kuliah, adeknya masih SMA," jawabnya.
Yah bagaimana aku gak kaget, rambutnya yang dipotong seleher, kulit bersih, badan hampir mirip gitar spanyol, tentu saja membuat ku terkejut.
Cece sangat baik padaku, pernah saat itu aku tidur siang di toko ada pembeli, namun Cece tidak membangunkan ku, ia sendiri yang melayani nya.
"Kenapa gak dibangunkan karyawan nya kak?" tanya pembeli.
"Gak apa buk dia mungkin capek, biarkan saja dia tidur siang lagi puasa juga," ucapnya tersenyum melirikku.
"Baik banget sih cece," ucap nya.
"Baik pada sesama manusia buk tidak masalah, dapat pahala apalagi bulan ramadhan," jawabnya lagi.
Alhamdulillah, aku mendapat kan bos yang baik seperti Cece.
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1