
Mereka membuka kerudung ku, dan menyiramkan lagi air ke kepala.
"Udah hentikan!" Aku sampai tidak bisa bernafas, karena mereka terus menyiramkan air apalagi tangan ku di pegang.
"Gimana rasanya? enak kan! mau lagi ya?" ucapnya menertawakan ku.
"Hentikan! aku gak nyangka sama kalian, kenapa tega banget sama aku," ucapku pada mereka.
"Sekarang lo tau kan? siapa gue sebenernya."
"Aku ada salah apa sama kalian?" tanyaku.
"Lo nanya ada salah apa? lo itu sudah merebut semua orang yang gue suka!" ucapnya menunjuk wajah ku dengan jarinya dan mendorong.
"Hentikan! aku kedinginan." Aku kedinginan dan mimisan.
"Dingin ya? kasian." Orang itu menyiram ku lagi dan menampar wajah ku.
"Lemah banget jadi cewek, gitu aja mimisan," ujarnya menyunggingkan senyuman.
Di luar
"Buka pintunya, Vina kamu di dalam kan?" Naya dan Nina diluar.
"Dimana Vina?" tanya Raka ia berlari dari luar, baru saja datang. Raka di hubungi oleh Naya dan Nina, dengan menggunakan ponsel ku yang aku tinggal di kelas.
"Raka tolong! Vina di dalam, dia teriak dari tadi," ucap Naya.
"Woy buka pintunya, siapa di dalam?"
"Raka kamu dobrak aja pintunya, cepat!" Nina menyuruh Raka mendobrak pintu nya.
Raka mundur dan mengancang-ancang untuk mendobrak pintu.
1 2 3....
Brakkkkk
Pintu terbuka dan terlihat lah Dea dan teman-temannya di dalam.
"Vina," Raka melihat ku sudah lemah.
Naya dan Nina menghampiri ku, celah bibiku sudah berdarah akibat tamparan Dea, dan mimisan karena kedinginan.
__ADS_1
"Lo apakan Vina, Dea?" tanya Raka
"Raka gue-"
"Lo gak berubah Dea," ucap Raka langsung menghampiri ku yang terduduk lemas.
"Ke-kerudung vi-vina" ucapku lemah
"Vina hei Vina bangun," Raka menepuk-nepuk wajahku, karena aku sudah lemah dan tak sadarkan diri.
"Ayo Raka, cepat bawa Vina! dia kedinginan," ucap Naya.
Raka melepas jaketnya dan memakai kan ke tubuhku.
Lalu menggendongnya, menatap tajam ke arah Dea. dan keluar dari toilet, dengan melewati Dea yang masih mematung di pintu toilet.
"Kenapa kalian gak bilang, kalau Raka kesini," ucapnya pada Lisa dan Nia.
"Lah kita kan di dalam bareng lo, dea. Untuk bantu pegangin Vina tadi," ucap Lisa dan di angguki oleh Nia.
"Gagal lagi gue dapatin Raka," Dea marah.
"Ck" Dea mendecak dan menghentakkan kakinya lalu pergi.
Diikuti kedua temannya, dari belakang.
Di mobil
Naya dan Nina ikut juga, mengantarku kerumah sakit.
"Kalian hubungi tante Dira," pintanya Raka.
"Iya."
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Raka, pelan-pelan bawa mobilnya, kamu mau kita celaka semua," ujar Nina sambil membetulkan kerudung ku.
Raka melihat ku dari kaca. Lalu ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tak lama mobil nya sampai di depan rumah sakit.
Naya dan Nina turun, Raka menggendong ku lagi sampai ke dalam.
__ADS_1
Dia teriak dengan memanggil perawat dan aku di bawa ke UGD.
"Maaf mas, silahkan tunggu di luar," ucap perawat melarang Raka ikut masuk.
Padahal ia sudah tau kalau tidak di perbolehkan, tapi tetap saja ingin masuk.
Akhirnya Raka menunggu di luar dengan Naya dan Nina.
"Kalian tunggu disini, aku keluar sebentar," ucap Raka.
"Mau kemana?" tanya mereka.
"Ada urusan," jawabnya lalu pergi meninggalkan Naya dan Nina.
Raka melajukan lagi mobilnya, ia menuju sekolah. Raka akan mengecek cctv dan akan ia serahkan ke polisi sebagai bukti bullying.
Raka baru sampai di parkiran sekolah.
"Permisi kak," ucap seseorang.
Raka baru keluar dari mobil menoleh ke arah orang itu. Melihat sekeliling, tapi tidak ada orang lagi selain dirinya.
"Iya, siapa ya?" ucap Raka.
"Apa kakak tadi yang kesini, yang gendong kak Vina?" ucapnya.
"Iya kenapa?" tanya Raka.
"Aku mau tunjukkin sesuatu buat kakak," ucapnya.
Raka bingung, orang itu tiba-tiba mau nunjukin sesuatu.
"Nunjukin apa? tapi aku harus cepat, aku mau cek cctv." Raka hendak pergi namun di hentikan orang itu.
"Cctv yang di sana sudah di rusakin Dea kak," ucapnya.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanya Raka menyelidik.
"Karena aku-
.
.
__ADS_1
.
bersambung 💃💃💃