
Tidak ada yang tahu seperti apa kehidupan rumah tangga seseorang, tidak pula mengetahui apa saja yang dilalui di dalam banyaknya lika-liku ujian di dalam nya. Namun, setiap pasangan itu sendiri yang bisa menentukan akan seperti apa hubungannya, jika dari keduanya mampu untuk tidak terpengaruh dengan pengganggu atau hama liar yang dapat merusak, pasti akan bisa untuk tetap bersama, berdua dengan orang pertama yang di nikahinya. Tidak ada orang ketiga ataupun orang ke empat dan seterusnya.
Kandungan Vina sudah memasuki bulan keenam, ia menjalani masa kuliah dengan tenang dan bahagia. Dikelilingi oleh orang-orang yang mendukungnya penuh, dari orang tua, suami, juga teman-teman. Sungguh kehidupan yang sangat di syukuri, walaupun tidak mudah kuliah dengan keadaan perut yang membuncit. Namun Vina menjalaninya dengan penuh semangat. Suaminya pernah menyarankannya agar Vina kuliah dari rumah, namun Vina menolak. Vina merasa mampu untuk tetap kuliah dengan perut yang semakin membesar.
Hari ini adalah hari dimana yang sudah lama Vina impikan, atau semua orang kuliah memimpikan hari ini. Vina wisuda bersama kedua temannya. Gelar SH yang ia inginkan akhirnya hari ini tiba. Dimana dirinya kuliah di tempat ini hanya dorongan dari orang tua Raka dulu, agar selalu dekat dan Raka bisa untuk memantaunya. Namun kehidupan, siapa yang tahu kedepannya seperti apa? Seperti yang Vina harapkan dulu bisa terus bersama Raka, namun takdir itu tidak bisa ia ubah, Raka sudah di panggil lebih cepat oleh sang maha kuasa. Vina adalah mahasiswa lulusan terbaik pertama di tahun ini, lalu Naya dan Nina juga tidak kalah menjadi lulusan terbaik juga.
Nina adalah sahabat Vina yang paling kocak dan kadang aneh serta kurang nyambung dengan apa yang di ucapkan sahabatnya. Namun seorang Hendry yang juga seperti Adit yang sedikit pemilih dengan seorang wanita untuk di jadikan pasangan nya, bisa kepincut dengan seorang Nina. Banyak juga yang di lalui Nina, untuk bersama Hendry ia harus mendapatkan serangan kecil dari Sheryl mantan pacar dari Hendri. Bukan Nina namanya jika menyerah begitu saja, demi laki-laki yang ia sukai dari sejak dirinya sekolah dulu.
Naya juga sahabat dari Vina dan Nina yang memiliki rasa penasaran yang cukup kuat level dua setelah Nina, namun sedikit lebih kalem dan tenang seperti Vina. Ia belum memiliki pasangan seperti kedua sahabatnya, namun dirinya tidak merasa iri dengan yang dimiliki oleh sahabatnya.
Setelah selesai semuanya dan juga sesi foto-foto, Vina mengajak Adit ke suatu tempat yang mungkin Adit sudah melupakan tempat itu.
"Kita mau kemana, sayang?" Tanya Adit mengemudi mobilnya, tidak tahu istrinya itu sebenarnya mengajaknya kemana.
"Aku mau kita ke TPU kak, aku mau ke makam Raka. Sudah lama sekali setelah aku hamil tidak pernah lagi menemuinya." Adit tahu jika istrinya sudah mengingat Raka akan merasa sedih, karena akan mengingat semua kenangan nya bersama Raka. Adit tidak merasa iri terhadap Raka, karena sudah memiliki Vina seutuhya.
"Iya, aku juga ingin mengobrol dengannya."
Mobil Adit melaju sedang menuju tempat makam, dimana Raka dikebumikan.
Adit menggandeng tangan Vina saat sudah turun dari mobil, karena saat ini istrinya memakai kebaya dan kain. Walaupun tidak dengan heels, itu Adit yang tidak memperbolehkannya, karena Vina sedang mengandung.
Vina yang baru melihat makam Raka dari jauh saja sudah berkaca-kaca, ia tidak mampu menahan untuk tidak menangis. Adit mengusap tangan Vina, yang langsung dilirik dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan berdiri di belakang kamu sayang, kamu mengobrol lebih dulu dengan Raka."
"Terima kasih kak." Ucap Vina yang langsung di angguki Adit.
"Assalamu'alaikum Raka, apa kabar kamu?" Vina yang sudah tidak bisa lagi menahan tangis nya langsung terisak saat menanyakan kabar Raka.
"Raka, hiks. Aku sudah wisuda loh, aku jadi mahasiswi lulusan terbaik dengan nilai paling bagus di kampus. Aku senang banget ka, kamu pasti senang juga kan lihat aku sudah wisuda?" Sesak sekali rasanya dada Vina, laki-laki yang akan menikahinya setelah dirinya lulus, saat ini hanya batu nisan yang hanya bisa ia ajak mengobrol.
Adit melihat istrinya dari belakang juga ikut merasakan sesaknya.
"Kamu juga lihat perut aku sekarang, sudah sangat besar walaupun masih berusia enam bulan. Ini ulah teman kamu di belakang aku ini. Tapi selama ini kak Adit memperlakukan aku dengan baik, tidak sekalipun dia membuatku menangis." Ucap Vina tertawa kecil sambil mengelus perutnya.
"Kamu juga harus bahagia disana, aku juga bahagia bersama kak Adit disini. Aku ikhlas Raka, sangat mengikhlaskan kamu. Jangan pikirkan lagi keluarga kamu juga bahagia disini, seperti yang kamu harapkan. Hiks!"
Vina tidak kuat untuk berkata-kata lagi, ia menangis memegang batu nisan itu sambil menunduk.
"Raka, kamu tahu aku sangat-sangat mencintai Cahaya. Aku berjanji disini sama kamu, akan selalu menjaga dan memperlakukannya dengan baik. Aku tidak akan pernah membuatnya bersedih atau sedikitpun mengeluarkan air matanya." Vina menatap Adit, ia selalu percaya dengan apa yang suaminya katakan.
"Bukan hanya disini, aku berjanji pada diriku sendiri akan selalu mencintai istriku." Adit mencium kening Vina, dan ikut meneteskan air matanya melihat istrinya begitu terisak.
...******...
Vina dan Adit sudah sampai di rumahnya, mereka di sambut oleh keluarga nya. Karena kelulusan Vina, mereka akan merayakannya.
__ADS_1
"Mengapa mata kamu bengkak, seperti habis menangis."
Adit melirik istrinya yang memang sangat terlihat jika istrinya itu habis menangis.
"Vina dan kak Adit dari makam Raka." Orang tuanya saling pandang. Pantas saja jika Vina menangis, dan itu mereka maklumi.
"Sekarang kamu pasti lelah, kamu ganti baju dan istirahat. Nanti malam kita baru merayakan nya."
"Iya ma, Vina minta maaf semuanya. Vina merasa sangat lelah hari ini."
"Tidak apa nak, kami mengerti kamu sedang hamil besar. Jadi wajar jika cepat merasakan kelelahan."
"Iya. Kamu tidak perlu khawatir, mama, papa dan juga mertua kamu mengerti dengan keadaan kamu, vin."
"Ayo sayang, kita ke kamar." Adit mengajak Vina untuk ke kamarnya, ia tahu Vina pasti lelah.
"Vina masuk yah, kalian jangan pulang."
"Kami akan disini sampai nanti malam, adik kamu juga akan menyusul kesini, karena tidak bisa hadir di wisuda kamu."
"Kalian masuk saja, kami akan makan sepuasnya disini. Karena banyak sekali makanan."
"Tentu saja boleh, tapi sisakan untuk cucu kalian." Vina mengucapkannya sambil tersenyum mengusap perutnya, agar orang tuanya mengingat bahwa dirinya sedang hamil, dan butuh banyak sekali asupan makanan.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
See you...