Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Tidur bareng


__ADS_3

"Vin, papa kamu tadi telpon," ucap mama memberi tau kalau papa kandung ku telpon.


"Terus papa ngomong apa?" Aku melirik papa yang hanya diam saja.


"Papa kamu nyuruh, kamu dan ila ke rumah nya."


"Emang boleh ma?" Tanyaku karena mama dulu pernah melarang, takut aku dan ila di ambil.


Egois menurut orang, tapi menurut mama ini harus, karena hak asuh anak harusnya memang di mama.


"Papa David tetap papa kamu vin, mama kamu juga tidak boleh melarang kamu untuk tidak menemuinya."


Aku yakin papa juga takut hal itu, karena sudah menganggap ku dan ila anak kandungnya.


"Kamu boleh pergi, tapi sama Raka," ucap mama tidak memperbolehkan aku pergi sendiri.


"Tapi, kalau Raka sibuk gimana ma?"


"Minta jemput sepupu kamu, yang jelas tidak boleh berangkat sendiri."


"Iya, nanti Vina tanya Raka."


"Yaudah sekarang tidur Vin, udah malam." Aku mengangguk dan masuk ke kamar.


"Gimana kalau David mantan kamu, ambil Vina dan ila?" ucap papa takut kalau aku dan ila diambil papa David.


"Mama gak tau pa, tapi gak mungkin mereka diambil," Mama sebenarnya juga takut.


Karena papa juga yang membiayai sekolah kita dari SD, dan menyayangi kita layaknya anak kandung.


Sedangkan papa kandung kita tidak pernah menjenguk ku dan ila. Dari lahir sampai ila sudah berusia 13 tahun, SMP kelas 2 dan sekarang aku kuliah.


...°~°...


Dikamar


"Telpon Raka gak ya?(berpikir) telpon deh." Aku menelpon Raka dan langsung di angkat.


"Halo Vin," ucapnya seperti serak.


"Halo Raka, kamu dimana?


"E aku dirumah, kenapa?"


"Kamu kenapa? kenapa suara kamu beda?"


"Aku gak apa kok, cuma baru bangun tidur. Kamu kenapa? tumben nelpon duluan?"


"Gak jadi deh, kamu sakit yah?" tanyaku karena suara Raka beda.


"Gak cantik, kamu mau ngomong apa hm?"


"Kan gini-


"Eh tunggu bentar kita video call, tapi yang kelihatan wajah kamu aja."


"Gak adil banget, masa kamu bisa lihat aku, tapi aku gak."


"Gak apa dong, boleh ya?"


"Iya deh gak apa," ucapku dan kita beralih ke panggilan video call.


"Gelap banget Raka, kamu dimana sih?"


"Di rumah, kan udah aku bilang. Kamu mau ngomong apa?"


"Gini ceritanya-

__ADS_1


"Oh" Raka memotong ucapan ku.


"Ih Raka, Vina belum ngomong loh," ucapku cemberut.


"Hehe maaf tuan putri, iya lanjut lagi, mau ngomong apa tadi?"


"Tau lah gak jadi aja, aku matiin" ucapku mau mematikan sambungan telepon nya.


"Eh cantik jangan marah dong," ucapnya dan aku tidak jadi mematikan.


"Coba ngomong yah, aku dengerin," ujarnya lembut.


"Bener, dengerin ya," ucapku memanyunkan bibir.


"Ih gemes, jangan gitu dong aku pengen cubit."


"Ih kan besok aja nyubitnya, Vina mau cerita Raka."


"Iya-iya maaf cantik, oke aku dengerin."


"Jadi, papa Vina telpon nyuruh Vina sama ila kerumahnya."


"Kan papa kamu di situ," jawab Raka.


"Papa kandung Vina, Raka."


"Oh iya lupa," ujarnya.


"Vina jadi kek bikin video aja deh, cuma keliatan wajah sendiri."


"Hehe gak apa wajah kamu cantik, udah lanjut lagi."


"Tadi sampai mana ya? oh iya sampai aku sama ila mau ke rumah papa David."


"Terus?"


"Vina mau tanya boleh?" tanyaku.


"Raka besok sibuk gak?"


"Sibuk gak yaaaa?" memegang dagunya.


"Kalau sibuk gak apa, aku minta jemput sama sepupu aja disana, ganteng-ganteng juga, lumayan," ucapku mau manas-manasin Raka.


"Aku gak sibuk, bisa kok antar kamu ketemu camer," jawabnya.


'kan terpancing hahhaha' batinku


"Gak apa kalau gak bisa, aku cepet telpon sekarang sama sepupu."


"Gak kok Raka bisa, gak perlu telpon sepupu kamu."


"Deal yah, besok antar Vina sama ila kesana?"


"Iya cantik, apa sih yang gak buat kamu."


"Bayar berapa ya, bapak Raka?" tanyaku.


"Tidak perlu ibu Vina, untuk anda semuanya gratis," jawabnya.


Lalu aku dan Raka tertawa.


"Sekarang tidur ya! besok biar gak ngantuk ketemu papa kamu," Raka menyuruh ku agar tidur.


"Tapi baru jam 08:00pm." Karena aku masih mau baca dan nonton.


"Aku tau kamu mau nonton kan apa baca?"

__ADS_1


'kok ketebak sih'


"Kamu tidur ya! aku temenin."


"Tapi Raka, bentar ya setengah jam lagi."


"Vina, nanti kamu sakit loh."


"Iya Vina mau tidur, matiin aja gak perlu di temenin," ucapku agar bisa berpura-pura tidur.


"Ya udah, kan kamu udah ada yang nemenin di atas lemari," ucapnya menakut-nakuti.


Aku langsung menarik selimut, dan menutupi seluruh tubuh.


"Raka, Vina gak suka becanda gini ih."


hahahhaha Raka hanya tertawa disana, suka sekali mengerjai.


"Hiks Raka," ucapku takut.


"Iya gak ada apa-apa kok, maaf deh. Sekarang tidur ya, aku temenin."


"Jangan matiin."


"Iya, aku tungguin sampai besok."


"Gak usah di tungguin, kamu tidur juga, kita tidur bareng ya."


"Kapan ya tidur sekamar?" ucapnya.


Aku tertawa mendengar ucapan Raka, "nanti Raka, selesaikan dulu kuliah nya."


"Iya deh 1 tahun lagi aku selesai dan kita menikah, oke?"


"Gak lah, nunggu Vina selesai juga."


"Lama banget."


"Sabar, bapak Raka."


"Aku kan pengennya kita nikah nanti, pokoknya yang mewah, ngundang teman-teman kita semua, dan berbagi sama orang. Terus yah, nantinya kita punya anak pasti lucu-lucu, bundanya aja cantik dan yang pasti ayahnya ganteng," ucapnya sambil tersenyum.


"Kamu mau anak kita nanti, manggil ayah dan bunda?" tanyaku.


"Iya, lucu kan?" tanyanya.


"Iya," jawabku karena ngobrol lama-lama ngantuk.


Raka terus bercerita, tentang aku dan Raka nantinya saat punya anak.


Aku sudah tidak kuat menahan kantuk, akhirnya aku tertidur.


"Vina, kamu udah tidur" panggil nya karena bisa melihat ku yang tertidur miring.


"Kita tidur bareng ya cantik," ucapnya juga ikut memejamkan mata dan tertidur.


"Suatu hari aku berharap mimpiku menjadi kenyataan dan aku akan bangun di sampingmu. Sampai saat itu, selamat malam!" Raka


"Aku tidaklah mencari seseorang yang terbaik. Namun, aku hanya mencari seseorang yang dapat menjadikan aku lebih baik." Vina


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu oke 😉


annyeong 🤗


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2