
Beberapa hari berlalu tak terasa begitu cepat. Segala persiapan untuk pembukaan perusahaan dengan 'wajah baru' pun telah rampung dilakukan. Namun keriuhan terjadi di salah satu kamar milik sang pemimpin perusahaan itu, tidak lain adalah kamar milik Nila dan Fatan.
Pasangan itu tengah berebut kamar mandi karena keduanya bangun disaat yang bersamaan.
"Sayang, aku dulu ya? Kan aku mandinya cepet," bujuk Fatan yang sudah berdiri di ambang pintu guna menghalangi jalan Nila untuk masuk juga ke kamar mandi.
"Gak bisa! Aku udah turun dari tempat tidur duluan, Mas. Aku dulu!" Nila bersikukuh. Namun Fatan tidak menghiraukan istrinya. Lelaki itu segera berbalik badan dan masuk ke dalam. Nila pun mengdengus kesal. "Mas!" teriaknya saat Fatan hendak menutup pintu.
Akan tetapi, sebuah ide konyol pun terlintas dipikiran Nila "Awww! Issshhh!" keluhnya sengaja mengencangkan suara.
Fatan yang mendengar itu langsung membuka pintunya kembali.
"Yes! Berhasil!" Nila bersorak kegirangan dalam hati. Manik matanya pun melirik ke arah sang suami yang sudah terlihat panik.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Fatan keluar lagi dari kamar mandi.
"Hmmm .... " Nila melihat ada kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam. Dengan cepat ia melesat masuk ke kamar mandi dan segera menutup pintu serta menguncinya.
Fatan syok sekaligus tidak percaya melihat tingkah Nila yang pandai sekali menyalip dirinya. "Astaga!" Lelaki itu menepuk kening. "Lihat aja loh nanti!" ancamnya merasa geram. Dia mengempaskan napas kasar lalu memilih duduk di sofa seraya meraih ponsel yang terletak di atas meja, kemudian menyalakannya.
Sementara di dalam kamar mandi, Nila bahagia akhirnya dia bisa mandi lebih dulu ketimbang suaminya. Perempuan itu mulai memilih perawatan tubuh yang ada di laci wastafel kamar mandi. Lantas, Nila pun segera menyelesaikan mandi paginya itu sebelum Fatan mengeluarkan tanduk.
Beberapa menit berlalu, Nila keluar dari kamar mandi hanya memakai lilitan handuk dari bagian dada hingga pangkal paha saja. Namun saat Nila mencari keberadaan suaminya, ternyata Fatan tengah tertidur di sofa.
"Perasaan aku mandi gak lama deh! Kok dia sampai ketiduran sih?" pikir Nila merasa heran seraya menghela napas. Akhirnya ia menghampiri sang suami untuk dibangunkan.
__ADS_1
"Mas, bangun ... Nanti kita kesiangan loh." Nila menggoyang-goyangkan bahu Fatan supaya dia bangun. Tidak butuh kerja keras membangunkan Fatan, lelaki itupun terbangun juga.
"Sayang!" pekik Fatan saat langsung melebarkan matanya. Sontak Nila pun terkejut dan reflek menjauhinya.
"Ada apa?" tanya Nila semakin heran. Fatan berhasil membuat jantung Nila hampir lepas dari tempatnya karena saking dibuat terkejut di pagi ini.
"Kenapa kamu cuma pakai handuk aja? Please, Sayang ... Jangan pancing aku. Aku gak mau punya cap pempimpin buruk karena telat datang di hari pertama." Nila mengempaskan napas kasar saat mendengarkan celotehan suaminya itu. Fatan langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi.
"Siapa juga yang mau mancing kamu? Aku kan cuma mau bangunin kamu sekalian kasih tahu aja, kalau aku udah selesai mandi," balas Nila merasa kesal lalu berjalan sambil menghentakkan kedua kakinya pergi ke ruang ganti pakaian. Entah kenapa ia begitu tersinggung akan ucapan suaminya itu.
Namun karena Fatan terburu-buru, dia bahkan menghiraukan ucapan sang istri. Jadilah Nila semakin geram. Perempuan itu lekas bersiap lalu keluar kamar lebih dulu tanpa menunggu Fatan.
Nila menuruni anak tangga dengan hati yang masih kesal hingga membuat kepalanya terasa berdenyut menjadi pusing. Sesekali ia menarik napas sangat dalam supaya mampu menyalurkan oksigen ke dalam otaknya.
"Huh! Pagi-pagi gini kok rasanya perasaanku sensitif sekali," keluh Nila dalam hati. Ia terus berjalan menuju ruang makan, dimana di sana pasti sudah ada para anggota keluarga lainnya.
"Tante, boleh gak kamivdisuapin sama Tante. Soalnya, kami gak mau sama mamih ... " Nila menautkan kedua alisnya kemudian menatap Elisa yang duduk tidak jauh darinya itu tampak acuh pada kedua anaknya. Salah satu dari mereka memberi kode supaya wajah Nila mendekat padanya. Ternyata dia mau berbisik. "Soalnya mamih galak," sambungnya membuat Nila mengulum senyum.
Tidak di sangka Elisa pun masih mendengarnya langsung menatap kedua anaknya itu dengan tajam. "Mamih gak bakal galak ya kalau kalian gak nakal!" kecamnya dengan kedua mata yang kian melebar.
"Hayo, kalian nakal kenapa? Kok mamih kalian bisa bilang begitu kalau kalian gak nakal?" Pertanyaan Nila hanya direspon dengan kedua mata mereka yang saling melirik tanpa ada yang berani menjawab. "Sekarang jujur sama Tante, apa yang udah kalian lakuin? Hm?" tanya Nila lagi. Kali ini mereka saling menyenggol kedua siku.
"Tadi ... Kami gak sengaja rusakin peralatan make up punya mamih. Jadi ... mamih marah .... Huaaaaa."
"Aycel ! Gina!" teriak Elisa tiba-tiba. Kedua anaknya langsung bersembunyi dibalik punggung Nila.
__ADS_1
"Kak Aycel ... Adek Gina, mending sekarang minta maaf sama mamih kalian terus duduk di kursi kalian. Tuh lihat ... Opa udah duduk di kursinya," bujuk Nila dengan suara yang lembut sekali. Namun mereka menggelengkan kepala, tidak mau keluar dari persembunyiannya.
"Aycel ... Gina ... Duduk!" perintah Elisa sambil melebarkan matanya. Melihat dirinya yang sudah seperti itu, mereka pun perlahan maju dan mendekatinya.
Nila mengembangkan senyum tipis. "Aku tahu, saat ini gak mudah bagi kak Elisa untuk menjalani kehidupannya. Ya ... Aku berharap semua akan baik-baik aja dan bisa lekas sembuh dari setiap luka yang tertoreh atas kejadian kemarin," ucapnya dalam hati.
"Nila, Fatan mana? Kok belum keluar kamar?" tanya Lalisa membuat Nila tersentak lalu menoleh ke arahnya.
"Oh, mas Fatan tadi masih mandi. Jadi Nila duluan turun," jawab perempuan itu.
Tak lama kemudian, Fatan muncul dari balik pintu lift yang terbuka. Nila yang melihat keberadaan suaminya, langsung memberitahu Lalisa.
"Nah itu mas Fatan, Bun!" seru Nila dan Lalisa pun mengikuti arah pandangnya lalu menganggukkan kepala.
"Pagi semua," sapa Fatan saat sudah sampai di ruang makan.
"Pagi!" seru semua yang ada di sana.
Tujuan utama Fatan yaitu menghampiri sang istri. Tanpa Nila tahu, Fatan sebenarnya sangat geram sekali. Pasalnya Nila tidak menyiapkan pakaian yang akan dipakainya pada hari pertama masuk ke perusahaan. Tetapi, rasa marahnya masih bisa ditahan dan memilih mencium kening Nila sangat penuh kasih sayang.
Eits! Tunggu dulu. Setelah itu, Fatan berbisik di telinga sang istri. "Siap-siap hari ini kamu akan resmi menjadi sekertarisku!" Antara penyambutan atau ancaman bagi Nila. Akan tetapi Nila sendiri tidak merasa takut, ia bahkan langsung tersenyum seringai walau pandangannya mengarah ke depan.
Para anggota keluarga di rumah mewah itupun langsung menyantap sarapan pagi bersama. Tanpa sadar, Nila yang sebelumnya merasa kesal dengan Fatan seketika sirna. Hal itu akibat ucapan yang disampaikan oleh Fatan padanya, membuat perempuan itu menjadi tertantang.
...****************...
__ADS_1