
"Ibu sakit Kak ... Ini aku lagi di rumah sakit. Ibu masih gak sadar."
Bibir Nila seketika bergetar, refleks sebelah tangannya menutup mulut. Dalam sekejap hatinya luluh lantah dengan kenyataan yang ada di depannya saat ini.
"Tiva, kamu cepetan share lokasi rumah sakitnya ... Kakak akan pulang ke Jakarta sekarang!" Rasanya Nila ingin segera memeluk ibunya saat ini juga. Meluapkan segenap perasaan sambil menangis di dalam kehangatan kasih sayang ibunya.
"Iya Kak. Kakak hati-hati ya."
Saat sambungan telepon terputus. Nila langsung menghubungi kantor bagian kepegawaian.
"Halo Titik?" sapa Nila saat sambungan telepon itu sudah dijawab.
"Iya? Bu Nila, benar kan?"
"Iya benar ... Titik, saya minta tolong untuk izin tidak masuk kantor mulai hari ini dan tiga hari ke depan ya. Ibu saya sakit dan harus pulang ke Jakarta sekarang juga."
"Oh iya Bu, baik. Tapi apa Pak Fatan tahu soal ini?"
Nila seketika terdiam. Ia masih enggan menghubungi laki-laki satu itu. Mendengar namanya saja, sudah sangat menyebalkan bagi Nila. Ups! Apa mungkin karena Nila terbawa omongan Fatan tadi? Tetapi memang wajar sih Nila sakit hati, toh siapa juga yang bisa menyalahi orang yang jatuh cinta bukan?
"Nanti beliau akan saya hubungi. Ya udah, Titik ... Itu aja yang mau saya sampaikan. Terima kasih ya."
"Baik Bu, sama-sama. Hati-hati di jalan ya Bu Nila ... Semoga ibunya cepat sembuh."
"Aamiin, terima kasih Titik atas doanya. Selamat pagi."
"Sama-sama ... Pagi, Bu."
Nila mengempaskan napasnya sedikit kasar sambil menggelengkan kepala. Tidak ingin terlalu lama di sana, Nila segera memesan tiket pesawat melalui aplikasi online.
Setelah verifikasi berhasil, Nila pun segera pergi dari unit apartemennya dan hanya membawa barang berharga saja tanpa sempat mengganti pakaiannya.
Sebuah taksi telah berhasil mengantarkan Nila sampai dengan selamat di bandara. Sopir taksi itu sengaja menghentikan mobilnya di depan lobby pintu keberangkatan.
Setelah turun, Nila bergegas untuk check in. Namun saat sudah ikut antrean panjang, saat tiba di depan layar monitor dan hendak men-scan barcode, tiketnya tidak bisa digunakan. Nila berusaha berulang kali melakukan hal yang sama tapi tetap tidak bisa.
Orang-orang yang mengantre di belakangnya pun terdengar saling mengumpat karena Nila terlalu lama serta panik.
"Aduh, ayo dong bisa!" gumamnya.
Lantas seorang perempuan dibalik meja yang ada di depannya berdiri beserta seorang satpam menghampiri Nila.
__ADS_1
"Bisa saya lihat tiketnya?" tanya satpam itu dengan nada tegas, suara yang nge-bass, serta memiliki tubuh tinggi dan berisi.
Nila menoleh lalu menyodorkan layar ponselnya pada satpam itu. "Ini Pak."
"Hm ... " Satpam itu melihat dengan teliti. "Bu, Ibu salah antrean .... " Seorang laki-laki yang tepat berada di belakang Nila terdengar mengeluh. Namun Nila hiraukan.
"Salah antrean gimana Pak?" tanya Nila memastikan, lalu satpam itu memberikan kembali ponsel miliknya.
"Ibu membeli tiket kelas VIP, sedangkan sekarang Ibu malah mengantre di kelas ekonomi," jelas satpam itu. Tidak ada raut kemarahan padanya. Mungkin karena menyadari kalau Nila sedang panik.
Nila mengecek kembali, dan ternyata benar apa yang diberitahu oleh satpam itu.
"Ya ampun, iya! Saya yang salah ternyata. Maaf ya semuanya." Dengan rasa malu, Nila lekas pergi dari antrean itu sambil menundukkan wajahnya. Ia pun pergi ke counter khusus VIP yang ternyata sepi.
Sesaat setelah berhasil check in, suara pemberitahuan keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Nila pun terdengar. Perempuan itu sedikit berlari pergi ke kabin pesawat.
Dengan napas yang terengah-engah, Nila akhirnya dapat duduk di kursi yang telah ia pesan. Lantas seorang pramugara mendatanginya.
"Selamat Pagi, bisa segera dipasang sabuk pengamannya?"
"Pagi ... Oh iya sebentar. Um, boleh saya minta air minum? Saya haus sekali," pinta Nila yang masih berusaha menormalkan napasnya kembali.
"Bisa, tunggu sebentar ya ...." Pramugara itu tersenyum lalu berdiri, setelah itu pergi dari hadapan Nila. Tak lama kemudian ia membawakan sebotol air mineral untuk perempuan itu.
"Terima kasih banyak," balas Nila tersenyum ramah.
"Sama-sama. Kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya izin permisi ya."
Nila menganggukkan kepala dan pramugara itupun pergi.
Tak terasa pesawat telah mendarat dengan sempurna. Nila pun turun dan lekas keluar dari bandara supaya bisa segera sampai di rumah sakit tempat ibunya berada. Nila menumpangi taksi yang ada di sekitar pintu keluar.
Sesampainya di rumah sakit, Nila pun menghubungi adiknya lewat sambungan telepon.
"Lativa, kamu dimana?" tanyanya sambil terus berjalan ke dalam lobby rumah sakit.
"Aku di ruang rawat inapnya ibu Kak ... Kak Nila dimana?"
"Kakak di lobby. Kamu bisa ke sini sebentar gak?" Nila mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby itu.
"Maaf Kak gak bisa. Aku belum dapat kartu akses lift. Ini aja kaki masih gemeteran habis naik tangga."
__ADS_1
"Astaga Tiva ... Gak biasanya kamu ngeluh begini. Emangnya kamar ibu di lantai berapa sih?" Nila benar-benar merasa heran dengan adiknya.
"Lantai delapan Kak ...."
"Ya udah Kakak minta dulu ke bagian pendaftaran."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Nila pun dapat kartu akses lift. Ia segera pergi ke ruangan dimana ibunya sedang di rawat.
Kreeeik ....
Nila membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati, lalu ia melihat adiknya sedang duduk di sebelah sang ibu.
Cekreiiik ....
"Tiva ..." panggil Nila seraya mendekati adiknya.
"Kak .... "
"Bagaimana keadaan ibu? Sebenarnya ada apa sih Tiva?" cecar Nila dengan suara sepelan mungkin. Sebab ia tidak mau ibunya terbangun karena mendengar suaranya yang terlalu keras.
Namun Lativa tiba-tiba berdiri, "Kak, kita bicara di luar aja ya. Biar ibu istirahat dulu."
Nila menautkan kedua alisnya lalu mengangguk.
Lativa mengajak Nila duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di dalam ruang tunggu khusus keluarga pasien.
"Kak, sebelumnya aku minta maaf." Perempuan berusia enam belas tahun itu menundukkan kepalanya.
"Minta maaf untuk?" Nila masih tidak paham.
"Karena aku lah yang menyebabkan ibu masuk rumah sakit ..." Lativa menghela napasnya.
"Maksud kamu apaan sih Tiva? Coba bicara yang jelas sama kakak!" tegas Nila tidak ingin adiknya terlalu bertele-tele.
"Aku hamil Kak dan sekolah memberi surat pengeluaran tidak terhormat padaku!" Suara Lativa seketika dikeraskan. Jujur, ia pun sedang bingung harus bagaimana sekarang. Terlebih usianya masih sangat muda.
"Ap-Apa?" Nila merasa dirinya semakin terempas ke dalam jurang yang sangat dalam. "Bagaimana bisa? Sebentar lagi kamu lulus, Tiva ... Siapa yang udah ngelakuin hal itu sama kamu, Lativa?" sambungnya, tapi suaranya itu terdengar sangat lembut.
"Mantan pacarku, Kak. Dia jahat banget sama aku! Aku benci sama dia!" Nila langsung memelul adiknya. Melihat Lativa yang sangat terpuruk, ia pun sebagai seorang kakak merasa iba. Dicaci pun ia rasa tidak akan bisa merubah semuanya .
Nila memeluk sang adik dengan penuh kasih sayang. Hatinya ikut bersedih.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa putus sama dia?" tanya Nila.