
Satu tahun kemudian.
Suasana pagi di pusat kota Palembang masih seperti biasanya. Hiruk pikuk keramaian kota di pagi hari, selalu menghiasi hari-hari Nila saat akan berangkat ke kantor.
Anehnya ketika sore tiba, sepanjang perjalanan pulang ke apartemen tidaklah seramai pagi. Padahal sudah satu tahun Nila tinggal di kota ini, tetap saja tidak ada perubahan sama sekali.
Seperti halnya sore ini, Fatan meminta Nila untuk menjemputnya di bandara. Laki-laki itu sudah satu bulan meninggalkan kantor dikarenakan ada agenda perjalanan bisnis yang panjang ke berbagai negara.
Awalnya Fatan akan dijemput oleh sopir dari perusahaan, tapi entah kenapa laki-laki itu ingin sekali Nila yang menjemputnya. Ya mau tidak mau sebagai sekertaris yang baik, Nila pun menyetujuinya.
Terlebih setelah kepulangan Farhan dan bergabung kembali di perusahaan, Nila akan bernapas lega karena tidak lagi dikejar-kejar oleh segudang pekerjaan yang seharusnya dilakukan berdua ataupun sebagian besar memang tugas Fatan.
Usai membereskan meja kerjanya, Nila langsung menuju halaman parkir. Namun saat dirinya baru saja melajukan mobil, poselnya berdering. Sebelah tangannya membuka tas lalu merogoh mencari keberadaan ponsel tersebut. Saat sudah didapat, ia melihat nama Fatan tertera pada panggilan itu.
"Halo Pak?" sapa Nila sambil menyalakan mode loudspeakernya. Karena tergesa-gesa, perempuan itu sampai tidak sempat untuk memakai earphone.
"Kamu dimana?" tanya laki-laki itu. Nila masih mendengar suara informasi yang biasa ada di bandara.
"Saya masih di jalan Pak, baru aja masuk tol. Pak Fatan baru sampai kah?"
"Iya, Um ... " Tiba-tiba Nila mendengar suara perempuan sedang menyapa Fatan.
"Hai Fatan. Kamu baru sampai?"
"Iya." Lantas terdengar bunyi kecupan, hal itu membuat Nila merinding. Ingin rasanya ia mengakhiri panggilan dari atasannya itu sekarang juga.
Namun Fatan pun tersadar kalau ponselnya masih terhubung dengan sekertarisnya. "Nila sorry, saya mau bicara terlebih dahulu dengan Charma. Nanti saya telepon lagi. Bye."
Tanpa menunggu jawaban dari Nila, Fatan langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Perempuan itu hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
Setibanya di bandara, Nila menaruh mobilnya di halaman parkir yang tersedia disana. Setelah itu baru lah ia turun dan lekas pergi ke area pintu keluar kedatangan. Tak lupa tas dan ponsel pun dibawa olehnya.
Akan tetapi saat Nila sampai, tidak ada orang sama sekali yang keluar dari pintu kedatangan itu. Ia menoleh ke sekeliling, tapi ternyata nihil.
"Kemana perginya Pak Fatan? Tadi siang aja ribut minta dijemput. Sekarang udah dijemput orangnya malah gak ada," keluhnya lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk menghubungi Fatan.
Tak lama terhubung, laki-laki itu menjawabnya.
"Astaga Nila maaf, saya baru ngabarin ... " Nila memutar malas bola matanya, karena sejujurnya dia sangat lelah.
"Pak Fatan dimana ya? Saya udah di depan pintu kedatangan tapi gak ada siapa-siapa." Manik matanya masih terus mencari keberadaan laki-laki itu di sekitarnya.
"Nila saya minta maaf banget. Saya lagi di hotel sama Charma soalnya ada hal yang harus kami bahas. Kamu pulang lagi aja ya, gak usah nungguin saya disana."
Sontak Nila pun tercengang lalu mengumpat dalam hati. "Siapa sih sebenarmya Charma itu? Selama satu tahun lebih jadi sekertarisnya Pak Fatan, aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Apa jangan-jangan memang benar perempuan yang bernama Charma itu calon istrinya Pak Fatan?"
"Baik Pak, kalau gitu saya pulang dulu. Selamat sore." Tanpa berlama-lama lagi, Nila mengakhiri panggilan itu lalu segera pergi ke mobil.
...----------------...
Tepat pukul 8 malam, Nila baru tiba di unit apartemennya. Sebab sebelum membelokkan mobil ke halaman apartemen, ia sempat pergi ke food court yang tidak jauh dari sana untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
Melihat suasana apartemennya yang rapi dan nyaman dipandang mata, Nila lekas mandi dan berganti pakaian. Bisa dibilang, aktivitasnya satu bulan terakhir ini sangat menyita waktu istirahat. Bahkan ia juga sempat lembur.
Setelah merasa tubuhnya lebih segar, Nila pergi ke balkon yang terhubung langsung dengan kamarnya. Suasana malam di kota itu sangat indah, walaupun yang dilihatnya dari atas hanya hamparan lampu berwarna-warni. Ditambah angin yang berembus sangat lembut membe*lai bulu halus pada kulitnya.
Nila memejamkan matanya dengan kedua tangan yang berpegangan pada pembatas balkon itu. Perlahan ia merasakan ketenangan serta kedamaian dalam dirinya. Mencoba melepaskan penat yang sangat terasa berat pada kedua bahunya.
"Aku baik-baik saja. Semua orang yang ada disekitarku sangat baik. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena semuanya pun akan baik-baik saja " Ia bicara dalam hatinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian matanya terbuka, menatap kedepan lalu tersenyum. Akan tetapi senyumnya itu harus terpaksa memudar tatkala mendengar suara bel yang berbunyi.
"Siapa ya malam-malam gini yang tekan bel?" gumamnya lalu masuk ke dalam kamar, tak lupa menutup pintunya kembali.
Saat dilihat ternyata Fatan lah pelakunya. Nila menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan, sebelum akhirnya membukakan pintu untuk laki-laki itu dengan raut wajah ramah.
"Malam Nila ... Kamu sedang apa?" sapa Fatan. Jika dilihat dengan seksama, raut wajah lelaki itu masih sama seperti terakhir Nila lihat. Tetap ramah dan bertingkah serampangan.
"Malam Pak. Saya lagi santai aja di dalam ... " Nila menelisik ke pakaian yang Fatan gunakan. Lelaki itu masih lengkap menggunakan setelan baju kantornya. "Omong-omong Pak Fatan baru pulang kah?"
"Iya Nila. Oh iya ini saya bawakan makanan buat kamu sebagai permintaan maaf saya." Fatan menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna putih. Ukurannya besar pula, Nila pun langsung menerka-nerka isi di dalam kantung plastik itu.
"Terima kasih banyak Pak. Anda harusnya gak perlu repot-repot. Saya benar-benar gak masalah kok." Nila menyunggingkan senyum dari kedua sudut bibirnya.
"Saya yang gak enak sama kamu Nila. Sekali lagi saya minta maaf ya, soalnya gak maksud buat ngebatalin gitu aja. Coba saya gak ketemu Charma, pasti saya akan pulang sama kamu." Fatan menunjukkan raut wajah penuh sesal.
"Ya, ya udah Pak gak masalah kok." Nila menerima pemberian Fatan. "Terima kasih Pak."
"Sama-sama ... Um, oh ya Nila ... Mulai besok saya udah gak nempatin apartemen ini lagi. Soalnya saya udah beli rumah yang letaknya gak jauh dari kantor juga. Saya harap kamu bisa baik-baik ya tinggal disini." Fatan tersenyum simpul. Namun bagi Nila entah ini tamparan atau bukan, rasanya perempuan itu tidak rela tinggal berjauhan dengan Fatan.
"Pak Fatan tenang aja, saya bisa jaga diri kok." Nila berusaha untuk bersikap baik-baik saja. "Pak, boleh saya tanya sesuatu?" Ia menatap penuh harap.
"Silahkan tanya aja," jawab Fatan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Apa sebentar lagi Pak Fatan akan menikah?" tanya Nila sangat gugup. Kedua telapak tangannya pun mulai basah karena keringat.
"Tentu, seperti apa yang pernah kamu bilang dulu. Setelah saya pikirkan matang-matang, kalau saya udah benar-benar siap untuk menikah," jawab Fatan jujur.
Berbeda dengan Nila bibirnya langsung mengatup rapat-rapat serta pandangannya pun mulai tidak fokus pada Fatan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kamu tanya seperti itu?" Kali ini Fatan yang bertanya.
"Um ... "