
Entah kenapa setelah semalaman tidur selama 6 jam lamanya, Nila masih merasa belum puas. Padahal kalau di apartemennya, dia hanya tidur paling lama 4 jam saja. Itupun rasanya sudah sangat puas dan saat bangun pun sudah tidak ada rasa kantuk lagi. Tetapi sekarang, apa tubuhnya mulai memberikan sinyal padanya untuk lebih diperhatikan lagi?
Pagi ini Nila harus berangkat bersama sang ibu ke kantor polisi. Mereka berharap akan ada titik terang supaya mendiang ayahnya dapat keadilan. Mereka sengaja berangkat lebih pagi, bersamaan dengan Lativa yang akan pergi ke sekolah. Jadi, Nila sekalian mengantar adiknya.
Setibanya di kantor polisi, tidak dapat Nila sangka ternyata Bayu juga ada di sana. Keduanya hanya saling pandang serta memberikan senyum tipis. Namun berbeda dengan ibu-nya Nila. Perempuan paruh baya itu hanya bersikap acuh saat Bayu menyapanya melalui senyum.
Ibu-nya Nila seperti itu karena sudah sangat kecewa pada Bayu. Anak sulungnya ditinggalkan, lantas sekarang kasus yang membuat suaminya menjadi korban itu, masih ada hubungannya dengan Bayu. Semakin kesal lah ia dibuatnya.
Mereka dikumpulkan ke dalam satu ruangan. Mungkin lebih mirip ruang sidang. Namun konsepnya lebih sederhana ketimbang pada umumnya, serta berukuran lebih kecil. Di sana juga ada Winda dan Yunadi yang duduk di depan mereka dengan kedua tangan masing-masing diborgol serta memakai baju tahanan. Wajah keduanya pun hanya menunduk.
Nila dan ibu-nya bersebrangan dengan Bayu. Posisi mereka pun saling berhadapan. Lantas beberapa anggota polisi datang, satu diantara mereka yaitu sebagai pimpinan jalannya proses ini.
"Selamat pagi para Saudara sekalian."
"Pagi."
"Pagi ini akan saya sampaikan perihal tersangka yang menewaskan Saudara Agus berusia empat puluh sembilan tahun karena diduga mengalami tabrak lari ... Dan setelah saya beserta tim mengintrogasi kedua orang yang ada dihadapan hadirin sekalian, kemarin sore." Polisi itu membuka lembar selanjutnya.
"Hasilnya, kedua orang ini mengakui kalau mereka yang melakukan. Menurut keterangan mereka, saat itu korban tengah menyebrang jalan dan posisi mereka berada dalam kecepatan mobil seratus kilometer perjam karena jalanan sedang sepi. Mereka pun katanya gak nyangka kalau korban bisa tewas di tempat. Disini saya menganggap sopir bodoh dan lalai. Di jalan menuju kawasan industri itu, apalagi pas perempatan jalan harusnya bisa mengurangi kecepatan tapi dia nggak. Disini sopir udah kena pasal kelalaian dalam berlalu lintas ditambah sudah menewaskan orang lain, itu akan kena pasal lain walaupun katanya gak disengaja."
Suasana masih tegang dan ibu-nya Nila pun semakin geram dengan kedua pelaku.
"Namun setelah kami kulik lebih dalam dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Sepertinya kami mencium bau-bau ada pelaku lain yang ingin membalas dendam."
__ADS_1
Nila dan ibu-nya seketika terkejut. Tatapan mereka langsung tertuju pada Bayu yang masih tampak santai. Karena pikir lelaki itu, Winda lah yang memang selama ini sangat tidak menyukai Nila. Tetapi Bayu pun tidak habis pikir kalau Winda malah jadi seorang pembunuh.
"Menurut keterangan mereka, ternyata ada orang lain yang memberi perintah. Semakin saya kulik lagi, orang yang menyuruh mereka itu masih kerabat dekat dengan Saudara dan juga pelaku."
Saat polisi mengatakan itu, Bayu mulau berpikir keras. Pasalnya bukan ia yang menyuruh mereka. Wajahnya pun tampak tegang.
Disisi lain saat Nila dan ibu-nya melihat ketegangan Bayu. Langsung berpikir kalau Bayu lah otak dari semuanya.
"Satu jam kami suruh mereka jujur, sampai ada kekerasan pada pelaku laki-laki ini sedangkan pelaku perempuan hanya menangis. Akhirnya mereka pun menyerah. Berarti korban ini bukan tabrak lari, melainkan pembunuhan berencana. Sebagaimana menurut keterangan pelaku, hal ini ada kaitannya dengan masalah percintaan, masalah hati yang terhubung antara Saudara dan pelaku. Dan pelaku bernama Yunadi ini sebagai pion yang mengambil keuntungan dalam masalah ini. Mungkin yang dimaksud 'keuntungan' disini gak bisa saya jelasin. Karena sejatinya kita semua sudah dewasa dan mengetahui apa artinya itu."
Mendengar perjelasan itu, entah kenapa Nila kepikiran kepada seseorang. Pasalnya memang sudah lama sekali ia tidak dapat kabar apapun tentang seseorang itu. Namun Nila masih berusaha tenang dan sabar untuk mendengar penjelasan dari pihak polisi karena mereka lah yang berwajib menghakimi pelaku sesuai fakta yang ada.
"Dan pelaku utama sebagai otak dari pembunuhan berencana itu adalah ... Dany Morata. Kedua pelaku ini bilang, bahwasanya Saudara Dany merasa sakit hati karena tidak kunjung mendapat balasan cinta dari Saudari Nila Anastasya. Lantas Saudari Winda yang mengalami hal yang sama dengan Saudara Dany ini awalnya hanya saling bercerita. Kemudian muncul Saudara Yunadi sebagai orang yang kagum kepada Saudari Winda. Nah intinya karena perasaan mereka yang gak sama-sama dibalas denga orang yang mereka suka atau cintai. Tumbuhlah perasaan dendam dan ingin membuat pembalasan ... Dan disini target utamanya adalah Saudari Nila dan keluarganya."
"Apa Ibu atau mendiang Bapak pernah berkata yang membuat Saudara Dany merasa sakit hati?"
"Nggak Pak. Selama ini saya hanya menuruti apa yang diinginkan anak saya. Dia pindah tugas dan kami di rumah diberi amanah untuk gak bilang siapapun termasuk Dany. Terakhir dia ke rumah itu tiga minggu yang lalu. Seperti biasa bawa bucket bunga. Kebetulan ada suami saya juga di sana sedang minum teh. Dia nanya terus, 'Nila ada dimana?' tapi kami gak jawab dan meminta dia untuk pulang aja," jelas ibu-nya Nila apa adanya.
"Kalau Saudara Nila sendiri, kenapa Anda sangat menghindari Saudara Dany? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Nila mende*sah pelan. Ia menegakkan tubuhnya dan kedua tangan diletakkan di atas paha. Ia kemudian menceritakan pertemuan awalnya dengan Dany, lalu tentang hubungannya dengan Bayu.
"Saya udah berusaha menghindari Bayu. Tapi semakin menghindar saya masih juga masuk ke dalam ruang lingkupnya. Itulah kenapa saya berusaha menghindari Dany, karena laki-laki itu berteman baik dengan Bayu," jelas Nila jujur.
__ADS_1
Sementara itu, Bayu terkesima dengan Nila yang mampu bersikap dewasa. Pandangannya pun tak lepas dari Nila. Lantas dalam hatinya seketika menginginkan perempuan itu untuk berada di sisinya lagi.
"Baiklah. Kita semua udah dengar keterangaan dari semua pihak disini. Setelah musyawarah kita selesai, saya dan juga tim akan mencari tahu keberadaan Saudara Dany." Polisi itu menoleh ke arah Bayu.
"Tadi Saudari Nila bilang kalau pelaku utama adalah wakil direktur di perusahaan Anda. Sekarang apa Anda tahu dimana keberadaan Saudara Dany sekarang?"
Bayu memposisikan tubuhnya menjadi duduk tegak. "Dany masih ada di Batam karena sedang mewakili saya untuk urusan bisnis. Dia pergi bersama sekertaris saya, Denada ... Lantas yang saya tahu kalau mereka menginap di salah satu hotel pusat kota Batam. Tapi saya tidak tahu persisnya dimana karena acaranya di restoran terbesar di sana," jelasnya dan langsung menjadi sebuah catatan untuk pihak kepolisian.
"Baiklah, saya rasa kasus ini harus kami proses cepatnya dan kedua tersangka ini masih akan tetap kami masukkan ke dalam jeruji besi sampai pelaku utama tertangkap. Barulah setelah itu masuk ke dalam persidangan, semua mengerti?"
"Iya."
"Mengerti."
"Saya cukupkan musyawarah ini. Selamat pagi."
Beberapa anggota polisi keluar lebih dulu sambil membawa Winda dan Yunadi untuk dimasukkan ke dalam sel tahanan kembali. Setelah itu diikuti oleh Nila dan ibu-nya, serta Bayu pun mengikuti.
Ketika sudah berada di halaman parkir kantor polisi, tiba-tiba Bayu menghampiri Nila yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Nila, tunggu ... "
...****************...
__ADS_1