
Nila merasa apa yang terjadi saat ini bagaikan dejavu. Wajah Charna persis di mimpinya waktu itu. Tetapi yang membedakan adalah pola tingkahnya. Nila melihat kalau Charma terlihat seperti tidak menyukai keberadaannya. Terlebih setelah mendapat teguran dari Lalisa, Charma semakin menatap sinis ke arahnya
Usai menggebrak meja, Charma berdiri. Semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Ia seketika menjadi pusat perhatian di tengah heningnya suasana saat makan siang.
"Charma, duduk!" perintah sang ayah dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Perempuan muda itu membuang muka ke arah lain. Dia tidak mengindahkan perintah ayahnya.
"Charma." Suara sang ayah tiba-tiba meninggi serta ikut berdiri. Lantas ayah dan anak itu kemudian saling bersitatap.
Manik mata Charma mulai memerah. Tampak sekali raut kemarahan di sana. Kedua tangannya bahkan mengepal.
"Maaf Ayah, aku pergi ke kamar dulu," ucap Charma dan berlalu begitu saja. Namun seketika tangan Fatan berusaha menahannya.
"Charma, dengarkan ayah. Duduk dan habiskan makananmu," ujar Fatan menoleh ke arah Charma. Tetapi dengan sekuat tenaga, Charma mengempaskan tangannya dengan kasar.
"Maaf Kak, selera makanku udah hilang!" seru Charma kesal. Fatan pun menghela napas lalu menatap Lalisa dan Nila saling bergantian. Charma pergi dari ruang makan itu dengan melangkah cepat.
Sesaat setelah Charma pergi, Fatan pun ikut berdiri dan berniat untuk menyusul perempuan itu.
"Aku akan bujuk dia, semuanya ... Aku permisi," ucap Fatan pamit dari hadapan mereka semua. Padahal Lalisa menyoroti dirinya seakan menyuruhnya tetap duduk. Sedangkan sang ayah duduk kembali ke kursinya dan melanjutkan makan siang.
Nila yang sejak tadi memperhatikan, kini menautkan alisnya merasa sangat heran sekaligus aneh.
Melihat laki-laki itu pergi, Nila tampak kebingungan. "Sedekat apa sih sebenarnya mereka?" batinnya bertanya-tanya.
Nila terkesiap tatkala tangan Lalisa menyentuh bahunya. "Iya, Bun?" Ia tersenyum canggung. Ditambah mendapati tatapan kedua kakak Fatan yang duduk tidak jauh darinya, membuat Nila menjadi salah tingkah.
"Tetapi disini dan habiskan dulu makananmu ya," titah Lalisa dengan nada suara yang penuh lemah lembut.
__ADS_1
Nila pun hanya mengangguk dan melanjutkan menghabiskan makanan itu kembali. Ia sengaja mengunyah cepat tapi tetap menjaga sopan santun. Bahkan kunyahannya itu lebih hebatnya lagi, hampir tidak sampai mengeluarkan suara. Hingga dalam waktu 5 menit, makanan yang ada di atas piringnya ludes tak tersisa.
"Maaf semuanya ... aku izin keluar duluan ya, mau telepon ibu," kata Nila berpamitan dari hadapan mereka. Sungguh sebenarnya ia sangat tidak enak hati meninggalkan ruang makan itu lebih dulu, ketimbang tuan rumahnya.
Kecuali Lalisa, mereka yang masih ada di ruang makan itu hanya memberi tatapan dingin pada Nila. Sedangkan Lalisa sendiri berkata, "Iya." Seraya menganggukkan kepalanya. Tatapan yang Lalisa berikan bagaikan tipe perempuan berhati malaikat, lembut dan bila dirasa marah pun akan seketika sirna.
Nila menarik kursinya ke belakang, lalu membenarkannya lagi seperti semula. Ia menunduk hormat kenudian pergi dari sana.
Ketika Nila baru saja melangkahkan kaki keluar dari ruang makan itu, tanpa sengaja ia melihat kedua orang yang menjadi tujuannya saat ini berdiri tepat tidak jauh dari pintu itu. Nila sekilas mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa sama kamu, Charma?" tanya Fatan dengan tangannya yang menahan lengan Charma. Keringatnya pun mulai bercucuran seperti orang yang habis lari berkeliling lapangan.
"Lepasin, Kak!" sentak Charma dengan mata terbuka lebar sembari berusaha melepaskan tangan Fatan dari lengannya.
"Bilang sama Kakak, ada apa?" Suara Fatan yang tiba-tiba meninggi membuat Charma dan juga Nila yang ada di dekat mereka pun ikut terkejut.
"Aku gak suka ada dia!" seru Charma kesal.
"Dia? Siapa? Nila?" tanya Fatan memastikan.
"Iya, siapa lagi. Aku muak Kak! Dengar cerita tentang dia yang sangat Kakak banggakan, aku kira Kakak gak akan berhubungan lagi dengan dia," terang Charma membuat Nila membulatkan mulut serta matanya bersamaan. Namun berbeda dengan Fatan yang seketika bersikap dingin padanya ditambah tatapannya pun sangat datar.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?"
Charma berdesis dengan senyum seringai. "Asal Kakak tahu, aku cinta sama Kakak. Aku mau kalau Kakak menikah sama aku!" tegasnya yang tak disangka cairan bening mulai membendung di kedua ekor matanya.
"Hei! Kita ini saudara Charma. Kita gak bisa menikah dan saling mencintai lebih dari rasa sayang kakak kepada adiknya. Sejak kapan kamu kayak gitu?" timpal Fatan mencoba membuat Charma sadar. Perempuan itu seperti sudah kehilangan akal sehatnya.
Dengan satu kali hempasan, tangan Fatan telepas dari lengan Charma. "Kakak pikir aja sendiri, yang jelas kalau aku gak bisa nikah sama Kakak, aku pastikan kalau Kakak juga gak bisa nikah sama dia!"
__ADS_1
Nila yang mendengar itu seketika mematung. Selain itu, ia pun berusaha menelan ludahnya. "Apa yang udah Fatan perbuat padanya? Sampai-sampai adiknya sendiri bisa merasa jatuh cinta juga sama dia. Astaga, rasaya semakin rumit sekali," batin Nila mendadak cemas.
"Omong kosong apa sih Charma!" seru Fatan karena perempuan itu mengambil langkah cepat untuk segera pergi dari hadapannya. Namun lagi-lagi Fatan mampu menahan Charma supaya tidak pergi sebelum menjelaskan semuanya.
Charma mengempaskan napas kasar, lalu melirik sinis kepada Fatan. "Lepasin gak kak?" Matanya memberi kode ke arah lengannya yang dicekal oleh lelaki itu.
"Aku gak akan lepasin, sebelum kamu jujur!" sentak Fatan sengaja melebarkan matanya.
"Oh, ****!" Charma berdecak. Ia mendadak mati kutu. Tidak mungkin Charma memberitahukan Fatan sekarang. Tiba-tiba tercetus sebuah ide untuk bisa kabur dari hadapan kakaknya. Sebuah gigitan yang sangat menyakitkan menancap di tangan Fatan.
Sontak laki-laki itu teriak kesakitan dan melepaskan cengkramannya. Disaat itulah Charma merasa ada kesempatan dan dia berhasil kabur.
Fatan berkali-kali mengibaskan tangannya guna mengurangi rasa sakit akibat gigitan itu. "Sial! Terbuat dari apa sih giginya itu, sakit sekali!" umpatnya.
Tanpa ia tahu, Nila mengejar Charma. Ia berlari sangat kencang. Hingga tak disangka, jalan yang dilaluinya memotong langkah Charma dan membuat dia berhenti sekaligus terkejut melihat Nila di depannya.
"Kamu mengikutiku?" ujar Charma dengan nada tinggi.
Namun Nila tersenyum sinis padanya. "Iya, kenapa? Salah?"
"Salah lah! Ada urusan apa kamu?" Charma semakin menyolot.
"Kamu bilang, kamu mencintai Fatan. Apa kamu gak sadar kalau yang kamu katakan itu salah?" Nila bersilang dada seraya melangkahkan kakinya mendekati Charma.
"Kalau iya memang kenapa? Cinta itu buta! Aku akan terus mengejarnya sampai mendapatkan segala yang aku mau!" jawab Charma dengan amarah yang kian meletup-letup.
"Gila!" umpat Nila tapi masih didengar oleh Charma. "Kalian itu saudara kandung, satu ayah. Mana mungkin bisa menikah? Apa gak ada laki-laki lain di dunia ini sampai-sampai kamu mencintai saudaramu sendiri bahkan punya harapan untuk menikah dengannya? Dimana otakmu!" sergah Nila ikut tersulut emosi.
Charma mengepalkan kedua tangannya dengan napas yang memburu. Ia tidak terima dibilang seperti itu oleh Nila. Bahkan tatapannya bagai seorang iblis dari neraka. Perempuan itu tidak takut apapun yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1