Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 53


__ADS_3

"Kamu ingat malam itu?" Bayu menatap Nila semakin dalam. Namun Nila mengerutkan keningnya masih belum paham. Melihat respon Nila seperti itu, Bayu pun melanjukan ucapannya lagi.


"Sebenarnya di malam anniversary kita ke delapan tahun waktu itu, aku udah menyiapkan tempat ini supaya kita bisa merayakannya sekaligus aku akan melamarmu. Tapi, mama ku melarang keras dan mengancam ingin bunuh diri. Aku benar-benar sedang diposisi yang sangat sulit waktu itu." Bayu mende*sah kasar.


"Nila, besok aku dan mama ku udah gak tinggal di Indonesia lagi. Kami akan pindah ke negara yang sangat jauh. Mungkin, kita gak akan pernah ketemu lagi. Maka dari itu, sebelum aku pergi ... Aku hanya ingin kamu tahu, kalau malam itu ... Aku udah nyiapin semuanya untuk kita dan masa depan kita. Tetapi Tuhan begitu canggih membelokkan takdir yang kita mau. Dia punya rancangan sendiri yang terbaik untuk kita. Sekalian aku mau minta maaf yang sedalam-dalamnya sama kamu. Maaf ... Maaf karena aku udah menghancurkan semua impian kita."


Apa yang diutarakan oleh Bayu itu jujur dari dalam lubuk hatinya. Nila hanya terdiam dengan bibir yang mengatup rapat-rapat. Sebenarnya Nila pun tersentuh.


"Sebenarnya setelah perceraianku dengan Winda, semua aset yang aku miliki itu, aku jual. Hasilnya aku akan gunakan untuk membangun usahaku kembali di negara yang akan kutempati nanti," pungkas Bayu. Sementara Nila semakin tidak mampu berkata-kata.


"Seperti apa yang kamu bilang waktu itu, lebih baik aku mencari perempuan lain. Ya ... Memang benar, karena meraih hatimu lagi saat ini sangatlah sulit. Bisa memandangmu aja udah cukup bagiku. Dan .... " Bayu mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang dilapis oleh kain beludru serta ada motif timbul berbentuk mawar diatasnya, dari dalam saku jasnya.


Nila semakin tersentuh, sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Firasatnya bilang kalau yang ada di dalam kotak itu adalah sebuah cincin.


"Boleh aku pegang tanganmu?" tanya Bayu meminta izin.


Bagai tersihir oleh tatapan lelaki itu, Nila pun mengangguk setuju.


"Cincin ini, tadinya ingin kugunakan untuk melamarmu di malam itu. Dan sekarang, niatku memberikan cincin ini bukan untuk melamarmu. Tapi hanya ingin memberikan ini pada pemilik yang sesungguhnya. Terimalah, Nila ... bagaimanapun, kamu sangat berharga bagiku," terang Bayu. Setelah mengatakan semua itu pada Nila di waktu yang tepat, hatinya pun merasa lega.


Seketika Nila menundukkan wajahnya. Ia tidak mampu menahan air mata yang sejak tadi sengaja ditahan olehnya. Bahunya pun tiba-tiba bergetar, dan tangisnya pecah. Nila menggenggam kotak itu lalu memeluk Bayu sangat erat.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kenapa dulu kamu nggak memperjuangkan hubungan kita? Kenapa harus kamu yang bikin aku sakit hati? Kenapa Bayu?" cecar Nila disela tangisnya.


"Maaf ... Maaf ... Maafin aku, Nila." Bayu pun sama, ia ikut menangis. Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan. Meskipun terlambat, setidaknya sebelum dirinya benar-benar pergi dari kehidupan Nila, hatinya sudah tenang.


Keduanya saling berpelukan hingga malam menjadi saksi, kalau mereka pernah saling mencintai tapi akhirnya harus saling merelakan.


Setelah itu tidak ada kata yang mampu Nila utarakan. Kisahnya bersama Bayu telah berakhir. Ya, begitulah perasaan. Dia sangat sakti bisa merubah suasana romantis di puncak hotel, menjadi dramatis bagi dua insan itu.


Nila melonggarkan tenggorokannya. "Bayu, maaf .... " Ia pun melepaskan pelukan yang tadi refleks dilakukan. Keduanya saling mengusap sisa air mata dipipi masing-masing.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok, Nila." Seketika suasana menjadi canggung.


"Um, berhubung udah malam. Aku pamit pulang ya?" pinta Nila. Perempuan itu mengalihkan suasana supaya tidak semakim tenggelam ke dalam kubangan rasa yang selama ini ia kubur.


Bayu melihat ke arah petunjuk waktu yang terpasang di pergelangan tangannya. "Oh iya, oke deh ... Biar aku antar ya?"


"Um, iya deh," jawab Nila seraya mengangguk.


"Hadiahku jangan lupa disimpan ya, kalau mau dipakai juga gak apa-apa kok. Kali aja kamu suka," ujar Bayu seraya tersenyum tulus.


Nila terkekeh geli. "Iya nanti kalau udah sampai rumah akan aku coba ya, terima kasih ya!" ucapnya kemudian.


"Baiklah. Sama-sama."


Bayu akhirnya mengantar Nila pulang ke rumah, mengingat waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


"Bayu ..." panggil Nila sesaat setelah mobil melaju.


"Kenapa?" Lelaki itu menoleh dengan sorot teduhnya.


"Peru. Dulu mendiang papa ku, punya rumah di sana. Aku juga baru tahu dari kuasa hukum keluarga saat sedang mengurus penjualan aset. Ya, sekalian aku mau bawa mama ku untuk berobat," jelas Bayu.


"Bukannya disini kamu udah punya banyak kolega? Sayang banget loh padahal. Padahal kita bisa jadi teman dan kamu gak perlu jauh-jauh ke Peru, sampai menjual semua asetmu disini," sahut Nila.


"Ya, tadinya juga aku mikir gitu. Tapi sepertinya aku gak sanggup melihatmu lama-lama, kalau pada akhirnya kita gak pernah bisa saling memiliki," timpal Bayu. Tampak jelas dari sorot matanya yang masih mencintai Nila.


"Aku yakin, meskipun kita gak saling memiliki ... Suatu hari nanti, kita akan menemukan kebahagiaan masing-masing. Kamu gak usah khawatir, Bayu ..." papar Nila berusaha membuat Bayu tidak khawatir lagi.


"Tetap aja, Nila--"


"Ya udah deh, terserah kamu aja," ujar Nila lalu menatap ke depan kembali seraya mengembuskan napas panjang.

__ADS_1


.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Nila turun dari mobil. Ia pun melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.


Nila segera masuk ke dalam, lalu melihat sang ibu di kamarnya terlebih dahulu. Ia membuka pintunya sangat pelan. Ternyata ibunya sudah tertidur sangat lelap. Nila pun menutup pintunya kembali dengan hati-hati supaya tidak membuat sang ibu terbangun.


Ketika baru saja menutup pintu, Nila dikagetkan dengan keberadaan Lativa yang sudah berdiri di sampingnya.


"Astaga! Sejak kapan kamu disini?" pekik Nila membulatkan matanya.


"Baru aja," jawab Lativa sambil cengengesan.


"Ada apa Tiva?" tanya Nila.


"Gak apa-apa sih. Tadi aku denger suara pintu depan ada yang buka, eh tahunya Kak Nila pulang. Gimana Kak, tadi habis kencan ya?" Lativa mengerlingkan mata lalu menyenggol lengan Nila.


"Kepo deh kamu!" ujar Nila sambil melirik ke arah adiknya kemudian berlalu begitu saja. Lativa pun tidak tinggal diam, ia mengikuti sang kakak hingga masuk ke dalam kamar Nila.


"Kakak beneran gak mau cerita? Padahal aku pengen banget loh dengernya," timpal Lativa membuat Nila berdecak.


"Kakak gak kencan Tiva. Cuma ketemu aja sama orang yang udah lama gak Kakak temuin. Teman lama," jawab Nila sekenanya lalu memain kan kedua alisnya, naik turun.


"Oh gitu ... " Bukannya pergi dari kamar Nila, Lativa justru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sang kakak.


"Loh Tiva kenapa tidur disini? Kan kamu punya kamar!" protes Nila karena sedang ingin sendiri.

__ADS_1


"Mau tidur sama Kakak," jawab Lativa lalu merubah posisinya menjadi miring ke kiri dan mulai terlelap.


Nila menghela napas panjang saat melihat kelakuan Lativa. Setelah itu pun Nila ganti pakaian dan lekas tidur jua.


__ADS_2