Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 89


__ADS_3

"Ternyata ... bukannya saya ketemu dengan Charma, tapi saya malah ketemu seseorang di tempat itu," jawab Jarfin.


"Siapa laki-laki itu? Kamu tahu?"


"Awalnya saya gak tahu. Terus dia memperkenalkan diri, namanya adalah ... Kemal Prayoga," jawab Jarfin jujur.


"Kemal?" tanya polisi itu dengan mata membulat sempurna. Jarfin mengangguk pelan beriringan dengan detak jantung yang semakin tak keruan. "Bukannya dia sedang tersandung kasus penipuan sama perencanaan pembunuhan? Apa kamu salah satu orang yang membantunya?" cecar polisi itu semakin menekan Jarfin supaya dia bisa menceritakan semuanya.


"I-iya .... " Jujur saja, Jarfin sendiri bingung. Dia benar-benar sedang dalam keadaan sulit.


"Apa yang dia katakan saat bertemu denganmu?" tanya salah seorang polisi yang lain.


"Dia bilang, hidup dan mati Charma ada di tangan saya. Selama saya mau mengikuti apa yang dia inginkan, Charma akan selamat," jawab Jarfin yang kali ini sedikit mendayu. Apa dia sudah jatuh cinta pada Charma?


"Dimana pertama kali kamu bertemu dengan Kemal? Setelah itu apa kamu mau mengikuti keinginannya?" Polisi itu beranggapan kalau Kemal sudah mengetahui identitas Jarfin, baik dari asal-usulnya ataupun siapa saja yang berhubungan baik dengan lelaki itu. Namun sepertinya dengan informasi yang Kemal ketahui bagai mendapat angin segar, bahwasanya Jarfin adalah adik sepupu Nila yang merupakan istri dari Fatan, yaitu target tersulitnya.


"Dari tadi kamu selalu menyebut nama Charma, siapa perempuan itu? Apa yang telah kamu ketahui darinya?" cecar polisi itu lagi.


"Jadi begini ... hari kedua Charma tinggal bersama saya, dia baru mau cerita kalau ternyata dia adalah anak dari pengusaha yang bernama Wicak Darsono. Saya terkejut, karena setahu saya kalau dia adalah ayah dari kakak sepupu saya. Charma juga cerita kalau dia berada dalam bahaya, dan sebenarnya ada satu orang lagi yang membantu Kemal yaitu ... Edward, kakaknya sendiri."

__ADS_1


Semua ucapan Jarfin barusan, sudah berhasil direkam oleh salah seorang anggota polisi di ruangan itu. Akhirnya polisi mengungkap fakta terbaru dari kasus yang dialami oleh Fatan.


"Sekarang apa kamu tahu dimana Charma?"


"Nah itu masalahnya Pak. Saya juga gak tahu. Pak tolong ... Bebasin saya ya, Pak. Saya gak ada niat buat celakain saudara saya sendiri. Saya juga udah kabur dari kejadian saat di persidangan tadi. Saya janji, Pak ... Saya akan berada di posisi kakak sepupu saya," ucap Jarfin seraya memohon. Memang pada dasarnya, dia hanya terjebak oleh perasaannya sendiri, tenggelam dan dunianya menjadi gelap gulita. Dia juga sudah kehilangan impiannya menjadi pegawai negeri dan menjadi abdi negara. Lantas, baginya sekarang mungkin hanya Nila yang bisa membantunya terlepas dari jeratan yang mengikatnya saat ini.


Polisi itu mengempaskan napas sedikit kasar. "Untuk sementara kamu akan kami tahan, karena kami juga butuh berdiskusi dengan tuan Fatan dan nyonya Nila terkait hal ini," kata polisi itu dengan tegas.


"Tapi jangan lama-lama ya Pak ditahannya," tawar Jarfin merasa takut.


"Saya juga gak bisa mastiin. Semua tergantung ketentuan hukum yang berlaku, serta .... " Polisi itu mendelik ke arah Jarfin yang tengah menunggu kelanjutan dari ucapannya itu. "Mungkin bisa lewat jalan damai secara kekeluargaan, asalkan tuan Fatan dan nyonya Nila ingin melakukannya," pungkas polisi tersebut.


"Ya udah kalau begitu, Pak," jawab Jarfin pasrah.


"Tolong bawa dia ke sel tahanan sementara. Saya masih harus berbicara dengan tuan Fatan dan juga nyonya Nila!" titah polisi yang sejak tadi bertanya pada Jarfin kepada beberapa anggota yang merupakan bawahannya itu.


"Baik, Pak!"


Usai Jarfin dibawa keluar, Fatan dan Nila masuk ke dalam. Keduanya duduk berhadapan dengan polisi tadi.

__ADS_1


"Bagaimana Pak? Apa dia udah ngaku?" tanya Nila yang sudah tidak sabar ingin mendengar hasil introgasi Jarfin barusan.


"Mungkin lebih baik Tuan dan Nyonya bisa melihat serta mendengarkan sendiri," jawab polisi itu sambil memberi kode pada polisi lainnya yang tadi bertugas untuk merekam. "Ini adalah rekaman tersembunyi dari kami saat mengintrogasi saudara Jarfin tadi," sambungnya seraya menyambungkan kamera pada layar laptop kemudian ditunjukkan pada Nila dan juga Fatan.


Hingga video itu berakhir, Nila menghela napas sambil melihat ke arah suaminya. "Gak tahu kenapa, aku belum percaya dia sepenuhnya. Karena udah lama sekali kami berpisah dan baru bertemu dengan dia lagi saat udah dewasa. Aku juga gak tahu pergaulan dia saat remaja itu seperti apa," kata Nila menurut pandangannya.


Fatan mengangguk paham, lalu ia melihat ke arah polisi yang bertugas mengintrogasi itu lagi. "Saya putuskan, lebih baik dia diproses saja secara hukum. Bersalah atau gak nya, biar hakim yang memutuskan ... Saya percaya hukum di negara ini gak dapat dijual beli dan dapat ditegakkan secara adil!" tegas lelaki dengan tinggi badan semampai itu.


"Baiklah kalau keputusan Tuan dan Nyonya begitu. Saya akan tampung dan menindak lanjuti. Kami pun berterima kasih karena udah merasa terbantu dengan adanya orang-orang hebat dan luar biasa seperti kalian," tutur polisi itu dengan rasa bangga.


"Sama-sama, Pak. Bukankah sesama manusia harus saling menolong satu sama lain? Saya juga merasa ... kenapa harus menunggu ditangkap nanti, kalau yang di depan mata aja udah jelas pelakunya?" kata Fatan.


"Benar sekali Tuan," balas polisi itu mengangguk seraya tersenyum. Lantas pandangannya beralih kepada Nila. "Oh iya Nyonya, apa Anda memiliki kontak keluarga saudar Jarfin? Mengingat kami juga butuh informasi mengenai keluarganya," tanyanya kemudian.


"Ada, tentu ada." Nila langsung membuka tas dan merogoh guna mencari benda pipih berbentuk persegi panjang yang ia ingat sudah ditaruh sebelumnya ke dalam tas. Tidak lama kemudian, benda yang dicari pun ketemu. Nila segera mencari kontak ibunya Jarfin di dalam ponsel itu, lalu memberikannya pada bapak polisi yang ada di hadapannya.


"Baiklah kalau gitu urusan kita hari ini udah selesai. Kasus ini akan segera kami tindak lanjutu. Mengingat bukannya hanya melibatkan diantara masing-masing pihak ... Melainkan banyak sekali orang yang terlibat." Polisi itu kemudian berdiri diikuti oleh Fatan dan juga Nila.


"Terima kasih kembali, Pak. Mungkin kalau gak ada pihak polisi yang ada di kejadian semalam itu, saya pribadi mungkin gak akan selamat dari Kemal," kata Fatan dan mereka pun saling berjabat tangan.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, keduanya lekas pergi dari kantor polisi. Fatan pun membawa Nila pulang ke rumah orang tuanya, sebab ia akan pergi menemui Lian di markas mereka. Disisi lain Rusli yang sedang berada di jalan pulang pun terus memberi informasi kepada Fatan.


__ADS_2