Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 134


__ADS_3

"Sa- ... Sayang."


Entah kenapa panggilan itu bagi Nila saat ini tidak ingin di dengar. Hatinya terasa panas ketika nama perempuan itu disebut oleh Fatan.


Semenjak Nila tahu email masuk dari perempuan itu, pikirannya mulai tidak tenang. Dirinya benar-benar sedang diuji dari kesabarannya lagi.


Kenapa perempuan itu ada di kota ini? Kenapa waktunya pas sekali di hotel, di saat Fatan sedang sakit? Atau mungkin ini semua adalah akal-akalan perempuan itu? Bahkan bisa jadi, diam-diam Fatan membalas email dari perempuan itu dan meminta untuk bertemu disini? Disaat lelaki itu jauh dari jangkauan istrinya.


Pertanyaan itulah yang saat ini memenuhi otak Nila. Sejatinya ia hanya seorang perempuan, memiliki sensitif rasa serta firasat.


Kedatangannya ke Bali, menjadi suatu keputusan yang tepat. Ditengah hamil tua, sendirian, dan Nila bisa melakukan itu. Namun bedanya, Nila benar-benar harus bisa menahan supaya tidak sampai membuat anak yang ada di dalam kandungannya itu ikut stres.


Sejak lama terdiam, perempuan yang bernama Ocha itu menyingkap tirai. Dia juga terkejut dengan adanya Nila di sana, perempuan muda dengan tubuh menggemuk karena sedang hamil tua.


"Fatan, dia siapa? Saudaramu?" tanya Ocha kebingungan.


Pandangan Fatan yang sejak tadi tak lepas dari sang istri, membuatnya lama untuk menjawab pertanyaan dari Ocha.


"Dia ...." Fatan menarik napas seraya memejamkan matanya beberapa saat. "Dia istriku."


"Oh, Tuhan!" pekik Ocha dalam hati. Sedangkan raut wajahnya tampak terkejut setelah mendapat jawaban dari Fatan. Beberapa saat kemudian, Ocha tersenyum pada Nila. Tangannya terulur, mengajak Nila untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan. "Hai! Kenalin, aku Ocha. Teman lamanya Fatan."


Nila melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi dilipat. Ia membalas uluran tangan Ocha. "Saya Nila. Istrinya mas Fatan," ucapnya dengan penuh penekanan. Ocha tersenyum, sedangkan Nila langsung melepaskan tangannya.


"Oh iya Nila dan ... Fatan." Ocha mengalihkan pandangannya ke arah Fatan yang sedang berbaring di atas tempat tidur. "Aku rasa, aku harus pergi. Toh disini juga udah ada istri kamu. Dan ini, administrasinya udah aku selesaikan. Jadi selanjutnya tinggal pemeriksaan dokter sama keputusan dokter nanti mau rawat jalan atau rawat inap." Ocha memberikan beberapa lembar kertas serta kartu asuransi jiwa kepada Fatan.


Belum sempat Fatan mengambilnya, Nila sudah lebih dulu mengambil dari tangan Ocha.


"Terima kasih atas bantuanmu udah bawa suami saya ke rumah sakit," balasnya sambil menyunggingkan senyum tipis ditengah hatinya yang masih terbakar oleh api cemburu.


Ocha semakin merasa tidak enak hati berada berlama-lama diantara pasangan suami istri itu. "Sama-sama, kalau gitu aku pamit ya Nila ... Fatan. Permisi."

__ADS_1


"Iya, sekali lagi makasih ya Cha," ucap Fatan dengan suara yang masih terdengar lemah. Sementara Nila, hanya menganggukkan kepala.


Ocha berbalik badan lalu keluar dari sekat itu. Walau nyatanya langkah perempuan itu sangat berat. Terlebih hatinya yang kembali rapuh saat mengetahui kenyataan yang ada.


"Ternyata dia perempuan itu. Bahkan sekarang sedang hamil. Tapi egoku masih belum puas untuk bertanya semuanya padamu, Fatan. Apa kamu sendiri udah gak mau tahu lagi tentang aku? Bertahun-tahun aku pergi, dan saat aku kembali ... Kamu udah milik orang lain. Bisakah perasaan ini benar-benar menganggapmu sebagai seorang teman, tanpa ada harapan untuk merebutmu dari perempuan itu? Aku akui, dia memang cantik. Lelaki mana yang tidak terpikat padanya? Bahkan disaat hamil pun dia masih tetap cantik," batin Ocha sepanjang perjalanan meninggalkan rumah sakit itu untuk kembali ke hotel.


.


.


.


.


Sementara masih di ruang instalasi gawat darurat. Nila hanya terdiam dan acuh. Beruntung dokter segera datang memeriksakan kondisi suaminya. Nila jadi bisa keluar sebentar untuk menenangkan diri.


Nila duduk agak jauh dari tempat Fatan berbaring. Berkali-kali ia mengusap wajahnya, mencari posisi nyaman. Namun pening dikepalanya tidak bisa dipungkiri, menjalar ke bagian tulang belakang hingga sampai ke tulang ekor. Rasanya sangat pegal dan perutnya mendadak kencang.


Cukup lama Nila melakukan hal itu, hingga tanpa sadar dengan kehadiran Fatan yang berdiri di sebelahnya lalu ikut duduk disampingnya.


"Hai, anak Daddy." Fatan ikut mengelus perut buncit Nila. Tiba-tiba sebuah tendangan dari dalam perut bisa Fatan rasakan.


Nila membuka matanya lalu menoleh ke arah sang suami. "Udah gak lemes lagi? Udah sehat 'kan? Ini berkas administrasinya."


"Sayang ...." Fatan menggenggam tangan Nila. "Jangan salah paham dulu sama aku," ucapnya menatap lekat sang istri.


"Kamu tenang aja, gak usah khawatirkan aku." Nila menunduk karena sedang tidak ingin menatap Fatan terlalu lama.


Fatan yang masih terasa pusing dan lemas, sejujurnya bingung harus menceritakannya darimana. Otaknya masih belum berpikir jernih. Beruntung acara pelatihan hati ini adalah acara menuju puncak dan hanya permainan saja sebagai hiburan. Jadi, Fatan bisa izin untuk tidak ikut lantaran sakit.


"Boleh minta tolong gak, ambilkan obatku di farmasi? Habis itu kita kembali ke hotel dan aku janji akan ceritakan semuanya," pinta Fatan dengan nada yang sangat lembut sekali. Pasalnya memang hal ini terjadi hanya sebuah kebetulan saja, bukan kesengajaan.

__ADS_1


Nila menganggukkan kepala. Tetapi senyumnya mendadak hilang, sedangkan Fatan bisa memaklumi. Nila beranjak dari tempat duduk lalu pergi ke bagian farmasi untuk pengambilan obat.


Sementara Nila pergi, Fatan mencoba untuk menghubungi Rusli melalui ponselnya. Tidak butuh waktu lama, panggilannya pun dijawab oleh Rusli.


"Halo, Bos?"


"Rus, kamu kasih alamat hotel tempat saya pelatihan ke Nila?"


"Iya, Bos. Memangnya kenapa? Semalam sih Bu Nila minta."


"Ya gak apa-apa. Sekarang dia malah nyusul ke sini."


"Apa? Nyusul? Sendirian?"


"Iya, sendirian."


"Hebat sekali Bu Nila. Lagi hamil besar berani loh ke Bali sendiri. Terus Bu Nila bawa koper gak, Bos?"


"Sepertinya sih nggak deh. Ya udah udah dulu ya."


Fatan segera memutuskan sambungan telepon karena melihat Nila yang sedang berjalan ke arahnya dari kejauhan.


"Ini obatmu." Nila memberikannya pada Fatan. Lelaki itu mengambilnya.


"Terima kasih, istriku yang cantik," puji Fatan tapi sama sekali tidak digubris oleh Nila. Senyum pun tidak walaupun setipis tisu.


"Ya udah hayok, katanya mau balik ke hotel?" ajak Nila yang juga sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.


"Iya, Sayang." Fatan berdiri lalu meraih tangan Nila dan menggenggmnya.


Keduanya menaiki taksi saat kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Nila.

__ADS_1


Disisi lain, Fatan yang ingin mengajak bicara pun seketika diurungkan. Sebab lelaki itu sedang memberikan ruang dan waktu untuk Nila menenangkan hati dan pikirannya supaya lekas dingin dan permasalahan pun bisa terselesaikan dengan baik.


__ADS_2