
Satu bulan kemudian.
Saat ini Nila dan Fatan sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kandungan calon anak kedua mereka. Sedangkan Ara tidak ikut karena kebetulan hari ini jadwalnya main ke rumah Mirna.
Nila memang sengaja membebaskan Ara dan kedua neneknya bisa dekat satu sama lain, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya kecemburuan sosial. Baik Lalisa maupun Mirna sudah saling sepakat. Selama keduanya masih diberi nikmat sehat, maka sebisa mungkin dekat dengan cucu mereka.
"Nyonya Nila Anastasya."
Nila terkejut ketika namanya dipanggil. Pasalnya sedari tadi ia tengah merasakan kenyamanan bersandar di bahu suaminya.
"Iya." Justru yang menyahuti adalah Fatan. Lelaki itu memang tampak bersemangat sekali untuk melihat perkembangan buah hatinya di dalam kandungan sang istri.
Dokter Andin menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah. "Selamat siang Bunda dan Ayah. Bagaimana kabarnya hari ini? Apa Bundanya ada keluhan atau aman-aman aja?"
"Siang, Dok." Nila dan Fatan duduk berhadapan dengan dokter Andin.
"Kalau kabar kami sehat, Dok. Tapi kalau keluhan sendiri ya saya masih merasa sering lemas dan cepat lelah. Kalau udah tiduran, rasanya malas sekali buat bangun," jawab Nila jujur.
Dokter Andin terkekeh. "Oh ya? Tapi mual muntahnya bagaimana? Apa masih ada atau udah berkurang?"
"Masih, Dok. Duh, kalau udah pusing. Langsung deh muntah gak berhenti, mungkin sekali muntah bisa langsung selama tiga sampai lima menit. Itupun kalau saya belum meminum obat anti mual muntah yang dokter kasih sebelumnya." Nila mengeluarkan keluh kesahnya.
"Baik, kalau begitu yuk kita periksa dulu ya Bunda. Terakhir cek kan belum kelihatan ya Bun, baru ada kantungnya aja." Dokter Andin beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan lebih dulu lalu disusul oleh Nila dan juga Fatan.
Perempuan itu merebahkan tubuhnya dibantu oleh sang suami. Sedangkan perawat yang bertugas sebagai asisten dokter Andin, menunggu Nila membuka separuh pakaiannya pada bagian perut. Setelah itu dia memberikan gel ke atas perut Nila, lalu dokte pun mulai menaruh alatnya sambil meratakan gel tersebut.
__ADS_1
Layar berukuran 32 inchi yang terpasang di dinding itu mulai menunjukkan sebuah gambar. Gerakan alat di atas perut Nila yang tadinya agak cepat, kini diperlambat. Dokter Andin tampak memperhatikan sesuatu. Jika dilihat dari raut wajahnya, dia kelihatan sangat serius.
Beberapa saat kemudian, gambar di layar itu mulai terlihat jelas.
"Oke, Bunda disini sudah bisa terlihat ya. Ini janin, dikelilingi air ketuban yang cukup, serta yang dipinggir ini kantungnya. Coba sekarang kita dengarkan detak jantungnya ya," kata dokter Andin lalu mengoperasikan alat USG itu.
Ketika Fatan dan Nila bisa mendengar pertama kali janin calon anak kedua mereka, rasa harunya masih sama seperti saat anak pertama dulu. Sampai-sampi Nila mengeluarkan air mata.
"Dok aliran darah dari plasenta ke janin serta bagian tubuhnya bagaimana?" tanya Fatan. Lelaki satu itu memang lebih ingin tahu.
"Kalau dilihat disini ... Nah, ini lihat. Aliran darahnya bagus ya normal dan tidak ada hambatan. Lalu kalau untuk bagian tubuh ... Sebentar biar saya ukur dulu ya, mengingat kemarin kan baru kelihatan kantung rahimnya saja tuh, karena masih sangat kecil ...." Dokter Andin diam sejenak untuk berkonsentrasi saat mengukur besar janin saat ini. Terlebih hari perkiraan calon anak kedua Nila dan Fatan memang belum sempat ditentukan.
"Nah, Bunda, Ayah ... Panjang janin saat ini tiga belas sentimeter, beratnya itu tujuh puluh lima gram. Cukup panjang juga ya dedeknya. Usia adek saat ini lima belas minggu. Kalau untuk bagian tubuhnya, disini sudah bisa kita lihat ya, ada tangan kanan dan kiri, kaki kanan dan kiri, kepala. Namun bentuknya belum sempurna karena memang pada trimester pertama ini, janin masih dalam penyempurnaan bagian tubuh termasuk organ dalamnya. Seperti jantung, paru-paru, otak dan juga aliran darah," jelas dokter Andin.
Perawat membantu membersihkan sisa gel di atas perut Nila. Setelah itu Fatan yang merapikan kembali pakaian istrinya.
Sementara dokter sudah lebih dulu ke kursinya. Lantas Nila pun turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Saat Fatan dan Nila sudah duduk kembali, dokter pun berbicara lagi.
"Setelah pemeriksaan tadi, Bunda dan dedeknya sehat. Untuk mual dan muntah sendiri, saya tidak menyarankan ketergantungan dengan obat yang saya beri. Karena sebenarnya masih banyak bahan alami yang bisa mengurangi mual muntah itu sendiri. Ya, meskipun boleh sesekali meminum obat mual kalau memang sudah parah sekali ya. Misal, sudah tidak mau masuk makanan ataupun minum sama sekali," jelas dokter Andin.
"Maaf Dok. Untuk bahan alami pereda mual apa aja ya? Soalnya dulu hanya wedang jahe sama minyak kayu putih, dan itu ampuh sekali. Tapi kok hamil sekarang saya malah benci sama keduanya ya," keluh Nila. Sejujurnya ia pun bingung, karena kehamilannya kali ini jauh lebih sensitif.
"Mungkin kalau Bunda mual saat minum air putih, Bunda bisa diselingi dengan jus jeruk. Ketika makan pun usahakan dengan sayur berkuah dengan rasa yang pas dilidah, karena selain bisa mempermudah produksi ASI setelah melahirkan nanti, bisa juga menambah zat besi di dalam tubuh guna mengurasi resiko terjadinya anemia pada masa kehamilan Bunda. Tapi ingat ya, dalam porsi yang wajar. Saya sarankan perbanyak itu bukan berarti sebanyak-banyaknya sampai satu kebun sayuran di booking, tidak seperti itu konsepnya." Dokter Andin terkekeh geli. Pun sama halnya dengan Nila, Fatan dan juga perawat yang ada di ruangan itu. "Setidaknya dalam sehari harus makan nasi atau karbo yang seimbang, sayur, buah dan juga vitamin yang saya resepkan."
"Oh begitu ya, Dok. Oke deh saya rasa sampai disini saya udah paham," jawab Nila merasa sedikit lega. Entah kenapa kalau bertemu dengan dokter Andin rasa mualnya seketika sirna begitu saja.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Mungkin ada yang ingin ditanyakan lagi Bunda, Ayah?" tanya dokter Andin.
"Kami rasa cukup. Terima kasih ilmunya, Dok. Semoga bisa kami terapkan dirumah. Tetapi sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan," kata Fatan agak ragu.
"Ya silahkan tanyakan saja," jawab dokter Andin bersedia menerima pertanyaan dari pasiennya.
"Kalau untuk berhubungan suami istri diusia kandungan istri saya sekarang ini, boleh gak Dok kira-kira?"
Nila reflek menelan ludah ketika suaminya bertanya demikian. Pasalnya semenjak pulang dari rumah sakit, Fatan benar-benar tidak menyentuh dirinya lebih dari sekadar pagutan mesra saja.
"Silahkan tidak apa-apa, dengan catatan mainnga harus lembut dan usahakan pakai pengaman atau dikeluarkan di luar ya. Karena apa? Yaitu ... cairan yang hasilkan suami bisa memicu kontraksi rahim. Jadi untuk saat ini pengeluaran cairan didalam tidak di sarankan. Akan tetapi, kalau usia kandungan sudah tiga puluh delapan minggu ke atas. Itu justru dianjurkan guna mempercepat proses persalinan."
Baru saja Fatan hendak bertanya lagi. Dokter Andin pun kembali bicara.
"Tapi itu juga kalau ibu dan janinnya benar-benar dalam kondisi sehat ya. Jangan dipaksa kalau si ibu merasa kelelahan, bisa-bisa suaminya nanti saya jewer!" lanjut dokter Andin, sedikit memberi lelucon.
Nila dan Fatan pun tertawa. "Hahah, bisa aja deh dokter."
"Serius sih saya. Dulu pernah ada pasien saya tengah malam masuk IGD dalam keadaan pingsan. Saat itu usia kandungannya masih jalan dua puluh empat minggu. Pas saya tanya saat ibunya sudah sadar, ternyata suaminyaa tidak tahan menahan hasrat dan memaksa istrinya melakukan, sudah begitu dalam keadaan lelah karena seharian mengurus si kakak yang sedang sakit. Alhasil terlalu lelah, pingsan dan sampai mengeluarkan flek. Semoga Ayah tidak bergitu ya pada Bunda Nila."
Fatan sampai menarik napas sangat dalam. Lelaki itu mendadak kepikiran. Sedangkan Nila mengesah, meng-aamiin-kan dalam hati kalimat terakhir dokter Andin.
Setelah itu, keduanya pamit dan keluar dari ruangan dokter. Langkah selanjutnya, Fatan menyuruh Nila duduk di ruang tunggui. Sementara dirinya mengurus administrasinya terlebih dahulu.
Usai membayar dan mendapat obat, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
__ADS_1