
Baru saja Nila berhasil mengambil ponselnya, tapi dering panggilan itu berakhir beriringan dengan matinya daya ponsel miliknya itu. Rupaya semalaman Nila tidak ingat untuk mengisi daya. Alhasil, ia harus mengisinya terlebih dahulu supaya bisa menyalakannya lagi.
Selagi menunggu daya ponselnya terisi penuh, Nila pergi ke kamar mandi. Sebab basah keringat ditubuhnya pun sudah mulai kering.
Usai mandi dan berganti pakaian, Nila keluar dari kamar untuk sarapan. Namun ketika sampai di dapur, Nila tidak melihat ibunya ataupun adik sepupunya itu.
"Apa ibu masih mandi ya?" gumamnya seraya duduk di salah satu kursi kosong. Sebab di atas meja, makanan maupun air minum sudah tertata dengan rapi.
Tak lama kemudian, Jarfin datang dan menghampiri Nila.
"Kak, Budhe mana?" tanya lelaki itu, sementara Nila hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban, tanda kalau Nila tidak tahu.
"Masih mandi kali, udah duduk aja dulu," sahut Nila.
"Kak boleh nanya gak?" Jarfin yang duduk disamping Nila pun mendekatkan wajahnya tepat beberapa centi dari daun telinga Nila.
"Tanya apa?" sahut Nila lagi. Kali ini suaranya sedikit meninggi seraya menjauhkan telinganya dari mulut Jarfin.
"Biasa aja kali, Kak!" omel Jarfin tidak suka melihat respon Nila seperti itu.
"Kamu yang biasa aja, Jamal! Geli tahu gak sih deket-deket gitu," ujar Nila tidak kalah galaknya dari Jarfin.
"Ih pasti gak pernah dienakin ya makanya geli gitu?" ledek Jarfin sambil memicingkan matanya.
"Husss!!! Ngomong apaan sih kamu! Tahu deh yang udah pernah nge-enakin," balas Nila tanpa melihat ke arah Jarfin. Ia pun memilih mengambil piring lalu memasukkan nasi dan lauk pauknya ke dalam piring itu.
"Ah, Kak Nila kayak gak ngerti anak muda aja," jawab Jarfin tidak mau kalah. Sedangkan Nila hanya berdecak kemudian menyantap sarapan paginya yang sangat terasa enak dilidahnya.
"Udah makan aja dulu, kebanyakan ngomong deh," ujar Nila yang baru saja menelan makanannya.
__ADS_1
"Aku belum nanya, Kak." Jarfin menarik napas.
"Biasa aja kan bisa, gak usah ngomong pas di telinga. Berasa ada serangga yang mau masuk ke dalam tahu gak sih," omel Nila lagi, tapi nada suaranya sudah menjadi biasa saja.
"Iya deh maaf ... Um, adik Kak Nila kemana ya? Tadi pas aku tiduran di kamar, kok aku nemu banyak buku pelajaran punya Lativa?" tanya Jarfin dengan rasa penasaran yang sudah menggunung sejak tadi.
"Oh itu .... " Nila sedikit ragu ingin memberitahukan keberadaan yang sebenarnya pada Jarfin. Akan tetapi ia takut salah bicara, Nila pun akhirnya memutuskan untuk menunggu ibunya kembali.
Sesaat kemudian, beruntungnya sang ibu tiba di ruang makan.
"Ada Ibu!" seru Nila. "Mending kamu tanyakan sama Ibu aja ya," sambungnya lalu segera menghabiskan sarapan paginya itu.
"Ada apa nih?" tanya Mirna seraya duduk di kursi.
"Itu Bu, Jamal katanya mau tanya sama Ibu," jawab Nila melemparkan pertanyaan itu pada sang ibu.
"Tanya apa Jar?"
Mirna tersenyum, menutupi rasa gugupnya. "Sebenarnya Lativa itu udah gak tinggal disini lagi, Jar," jawabnya ragu. Reflek Jarfin menautkan kedua alisnya.
"Loh kok gitu? Bukannya dia belum lulus sekolah Budhe?" tukas Jarfin, tercengang.
"Iya, tapi ..." Mirna pun akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi pada Lativa, sementara Nila hanya diam mendengarkan ibunya bicara sambil menghabiskan sarapannya. "Tapi Budhe minta tolong ya sama kamu, jangan kasih tahu siapapun termasuk mama mu," pinta perempuan paruh baya itu.
Jarfin hanya mengangguk paham. Sejatinya lelaki itu sudah dewasa. Mungkin Mirna malu bercerita pada sanak saudaranya tentang apa yang telah terjadi pada Lativa, pikirnya demikian.
"Budhe tenang aja, aku gak akan bilang-bilang kok. Terus sekarang Lativa dimana?" tanya Jarfin lagi. Selain Nila, dulu dirinya juga dekat dengan Lativa. Bahkan sangat akrab sekali. Malah yang lebih terlihat seperti adik kakak itu ia dan Lativa.
"Dia ikut suaminya, terus sekarang katanya sih pindah ke Amerika. Tapi sampai saat ini, nomor ponselnya belum bisa dihubungi," jawab Mirna. Raut wajahnya berubah, ia tampak sedih tatkala mengingat hal itu.
__ADS_1
"Oh begitu rupanya. Lebih baik kita doakan aja ya Budhe, semoga Nila benar-benar mendapat suami yang tepat. Sayang sama dia, calon bayinya, serta bisa bahagiain dia," kata Jarfin turut mendoakan yang terbaik untuk Lativa.
"Aamiin, semoga aja ya .... " Mirna tersenyum dengan kondisi mata yang berkaca-kaca. "Ayok kita sarapan dulu!" ajaknya sambil mempersilahkan Jarfin makan. Sedangkan Nila baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Bu, Jamal ... Aku ke kamar dulu ya." Nila beranjak dari tempat duduk.
"Iya," jawab ibunya dan Jarfin bersamaan.
Nila membawa alat makan ke meja dapur. Setelah itu tidak lupa ia mencucinya terlebih dahulu, barulah kemudian ia pun pergi ke kamar.
Nila mengembuskan napas panjang setelah menutup pintu. Ia kemudian berjalan menghampiri ponselnya yang sejak tadi sedang diisi daya. Saat Nila cek, ternyata sudah penuh. Perempuan itu menyabut kabel dari ponsel dan juga kontak listrik.
Usai merapikan kembali alat pengisi daya ponsel itu, Nila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menyalakan ponsel. Ternyata saat sudah bisa dioperasikan, banyak sekali notifikasi yang masuk. Terutama pada panggilan tidak terjawab.
"Pak Fatan? Jadi dia yang tadi sempat telepon?" gumam Nila. Namun ia bingung, mau telepon balik atau tidak. Pasalnya panggilan itu terjadi saat ia sedang sarapan tadi.
"Um, gimana ya? Kira-kira kalau telepon balik, aku ganggu dia gak ya? Takutnya sekarang dia malah istirahat. Tapi, ada apa dia sampai telepon berkali-kali? Apa ada sesuatu yang penting?" Nila bermonolog sambil berpikir keras.
Beberapa menit berlalu ... "Ya udah deh, aku telepon aja," lanjut Nila akhirnya mengambil keputusan.
Perempuan itu mulai memanggil mantan atasannya. Dalam hatinya terasa cemas, beriringan dengan detak jantung yang kian berpacu lebih cepat sampai terdengar oleh telinganya sendiri.
Namun beberapa kali deringan, tidak ada jawaban sama sekali dari Fatan.
"Kemana dia? Kenapa giliran aku telepon, dia malah gak jawab? Ada apa sih sebenarnya?" Nila menjadi gemas karena rasa khawatirnya semakin membuatnya gelisah.
Akhirnya Nila mencobanya lagi sambil beranjak dari tempat tidur lalu mondar-mandir dengan perasaan yang tak keruan. Sesekali ia mengigit kuku jarinya. Akan tetapi, lagi-lagi Fatan tidak menjawab panggilannya sama sekali.
Nila tidak menyerah begitu saja, ia tetap terus menghubungi laki-laki yang masih berada di tempat spesial di dalam hatinya. Hingga beberapa kali percobaa, sambungan telepon itu terjawab. Nila pun bernapas lega.
__ADS_1
"Halo?"