Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 73


__ADS_3

Hari kedua di negeri tirai bambu, rencananya siang ini Fatan ditemani Nila akan menemui dokter yang menanganinya kemarin. Sebelum pergi ke rumah sakit, Nila menyiapkan berkas hasil pemeriksaan awal yang kemudian dimasukkan ke dalam tas. Usai semuanya beres, Nila tiba-tiba teringat janjinya pada sang ibu untuk menelepon saat sudah sampai di Tiongkok.


Berbeda halnya dengan Fatan yang sejak setelah sarapan tadi sempat pamit ke teras rumah untuk menerima sambungan telepon, tidak kunjung balik ke kamar hingga telepon Nila dan ibunya berakhir.


Perempuan itu segera menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh sang suami, sedangkan dirinya yang sudah siap pun keluar dari kamar guna memberitahu Fatan untuk segera bersiap.


Akan tetapi saat tiba di teras rumah, Nila tidak melihat Fatan ada di sana.


"Mas Fatan kemana? Kok gak ada disini?" gumamnya mendadak gelisah. Ia masuk lagi ke dalam untuk menemui para pelayan di rumah itu.


Nila hampir mencari ke sekeliling rumah, tapi semuanya tidak ada siapapun. Hingga langkahnya berhenti di depan sebuah pintu yang letaknya di belakang rumah itu. Ia menarik napas lalu melangkahkan kakinya dengan hati-hati.


Lantas tiba-tiba terdengar suara dari dalam sana. Nila tercekat dan mendadak ragu. Tetapi hati kecilnya terus mendorongnya untuk membuka pintu itu. Dengan jantung yang sangat berdebar, Nila memegang gagang pintu.


Trek!


"Terkunci."


Suara yang tadi sempat terdengar, hening beberapa saat. Tidak lama setelahnya terdengar lagi. Nila berusaha melakukannya lagi sambil mengamati sekitarnya. Sungguh ada rasa takut yang menghampirinya. Terlebih keberadaan Fatan yang sekarang entah dimana.


Trek! Trek! Dug dug dug dug!


Nila berusaha membuka pintu itu sambil menggedornya. "Apa ada orang di dalam?" teriaknya sangat kencang.


Mendengar suara Nila yang berteriak. Suara yang ada di dalam pun semakin terdengar jelas. Nila berpikir mencari cara supaya pintu itu dapat cepat terbuka.


Tanpa sengaja ia melihat sebuah paku yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Nila segera mengambilnya dan memasukkan paku itu ke dalam lubang kunci pada gagang pintu itu. Berkali-kali Nila mencoba hingga keringat yang sudah bercucuran di keningnya, ditambah rasa gelisah yang membuat tangannya ikut bergetar.


"Ya Tuhan, bantu aku untuk menyelamatkan orang yang ada di dalam."


Setelah cukup lama bersikeras, akhirnya Nila dapat membuka pintu itu dan ternyata disana adalah sebuah ruang penyimpanan. Lantas hal yang paling mengejutkan lagi, dua orang pelayan rumah itu sedang dalam keadaan diikat pada bagian kaki dan tangannya serta dengan mulut yang ditutup oleh lakban berwarna hitam.

__ADS_1


"Astaga! Kenapa kalian bisa seperti ini?" Nila berlari menghampiri mereka dan segera membantu melepaskan ikatan dan juga lakban dari tubuh keduanya.


"Tadi sewaktu Tuan keluar rumah, tiba-tiba ada tiga orang masuk ke dalam rumah ini menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan juga masker. Kami pun sampai tidak mengenali mereka," ungkap pelayan perempuan.


"Iya benar," sahur pelayan laki-laki setelah penutup mulutnya dibuka. "Mereka sangat kasar karena langsung menyeret, mengikat bahkan sampai memukul perut saya," sambungnya dengan suara bergetar karena ketakutan. Begitupun dengan pelayan perempuan.


"Aneh, kenapa saya gak bisa dengar ya?" gumam Nila tapi masih dapat di dengar oleh mereka. "Apa kamar kami kedap suara?" Ia kemudian bertanya pada kedua pelayan itu.


"Iya benar. Hanya kamar Nyonya dan Tuan yang dipasang pengedap suara," jawab pelayan laki-laki sangat yakin.


"Tunggu, tadi kamu bilang Tuan keluar rumah? Naik apa? Mobil kah?" tanya Nila lagi pada pelayan perempuan.


"Iya, Nyonya. Saya lihat Tuan mengendarai mobilnya sendirian." Pelayan itu tampak yakin sekali.


"Mobilnya sama seperti saat menjemput kami dari bandara kemarin?" Nila memastikan. Pasalnya Fatan hanya pamit kepada dirinya hanya untuk ke teras rumah, bukan pergi keluar rumah dengan menggunakan mobil. Mungkin Fatan tahu kalau Nila tidak akan mengizinkannya, jadi makanya lelaki itu pergi begitu saja tanpa bilang terlebih dahulu padanya, firasat Nila seperti itu.


"Bukan Nyonya, mobil itu di antarkan oleh seorang laki-laki. Tapi ... saya tidak bisa melihat wajah orang yang mengantarkan mobil itu dengan jelas. Sebab posisi wajahnya menunduk, habis itu saya tidak tahu lagi," beber pelayan perempuan itu.


"Astaga!" Nila mengusap wajahnya lalu berdecak. Ia benar-benar sangat gelisah. "Kalian harap hati-hati ya. Pastikan orang-orang itu telah pergi dan mereka gak masuk lagi ke dalam rumah. Paham?" ujar nya dan mereka pun menganggukkan kepala.


Orang itu langsung bergerak cepat pergi dari sana sambil membawa Nila. Tak lama berserang, kedua pelayan muncul dari ruang penyimpanan. Namun tiba-tiba ...


Dor! Dor! Jleb! Jleb!


Sebuah tembakan di bagian dada serta beberapa tusukan pada bagian perut sebelah kiri mengenai mereka. Tidak sampai 5 menit, keduanya tewas di tempat.


Ternyata ketiga orang tadi tidak benar-benar pergi setelah menyekap kedua pelayan yang ada di rumah itu.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya salah satunya.


"Biarkan saja di sini, aku yakin sebentar lagi Tuan rumah ini akan pulang dan dia akan menanggung akibatnya," sahut temannya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Kita pergi sekarang sebelum ada yang melihatnya lagi."


Kedua orang yang telah berhasil membunuh pelayan di rumah itu meninggalkan tempat perkara sambil membiarkan pistol dan pisau tergeletak di lantai.


.


.


.


.


Fatan sedang menunggu seseorang di sebuah taman yang letaknya cukup jauh dari rumah. Tak lama ada di sana, orang yang ditunggunya sejak tadi pun tiba. Raut wajah Fatan seketika berubah masam dan dingin. Ia menatap tajam orang yang kini ada di hadapannya.


"Mana berkas yang saya minta?" tanyanya terdengar ketus.


"Ini, Bos." Laki-laki itu memberikan sebuah map coklat pada Fatan.


"Terima kasih. Kalau ada bukti lain, tolong segera kabari saya," kata Fatan lalu pergi dari hadapan laki-laki itu.


Fatan masuk ke dalam mobil. Entah kenapa perasaannya seketika cemas dan gelisah. Pikirannya tiba-tiba teringat akan Nila yang berada di rumah.


Akhirnya sebelum mengendarai mobil, Fatan mencoba menghubungi Nila. Namun nahas ponsel perempuan itu terjatuh di lantai saat hendak dibawa oleh orang tadi.


"Kamu kemana sih Sayang? Tumben sekali telepon aku gak dijawab," gerutu Fatan sambil mengacak rambutnya. Ia coba hubungi telepon rumah pun tetap tidak ada yang menjawabnya sama sekali. "Aish! Perasaanku kenapa jadi gak enak kayak gini sih?" lanjutnya. Tanpa menunggu lama, Fatan segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Namun ketika tiba di halaman rumah, Fatan begitu terkejut menemukan kedua pelayan di rumah itu yang dipenuhi oleh luka dan darah yang berceceran di lantai.


"Astaga! Siapa yang melakukan ini semua?" Lantas Fatan melihat kedua benda tajam yang ada di lantai serta ponsel milik Nila yang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Ia pun mengambil ponsel itu.


"Ini punya Nila!" serunya dengan perasaan semakin tak keruan. Fatan bergegas pergi ke kamar guna mencari keberadaan Nila di sana. Namun setelah dicari ke seluruh sudut kamar, ia tetap tidak menemukan keberadaan sang istri. Fatan semakin gelisah.

__ADS_1


Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.


"Halo, saya ada tugas baru untukmu!"


__ADS_2