Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 102


__ADS_3

Nilq tersentak kaget karena Fatan tiba-tiba menggenggam tangannya sambil menarik. Namun Nila refleks menahan tubuhnya supaya tidak ikut ketarik oleh Fatan.


"Udah ikut aja. Aku tahu kamu lagi gak baik-baik aja, Sayang." Fatan merangkup wajah Nila dengan kedua tangannya. Padahal mereka masih berada di acara itu, masih sempatnya melakukan hal romantis yang biasa Fatan lakukan pada Nila. Meskipun tidak banyak orang yang memperhatikan mereka karena sebagian besar hadirin akan pergi meninggalkan tempat acara.


"Tapi, Mas .... "


Fatan mengenggam tangan Nila lalu memberi perintah dengan raut wajah tegasnya. Lelaki itu tidak mau lagi mendengar alasan Nila. Karena dia tidak ingin terlambat dalam penanganannya.


Nila akhirnya mau berdiri dan ikut bersama sang suami. Namun ia langsung menautkan kedua alis matanya saat menyadari kalau Fatan justru membawanya ke tempat parkir.


"Kita mau apa di tempat parkir, Mas?" tanya Nila mulai sulit berpikir keras karena kepalanya semakin terasa pusing ketika diajak berjalan.


"Mau bikin video viral," jawab Fatan. Lelaki itu masih fokus berjalan.


"Video viral? Buat apa? Kamu mau jadi konten kreator ya?" cecar Nila sambil berusaha mengempaskan tangan yang masih digenggam erat oleh suaminya itu.


Tiba-tiba Fatan menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Raut wajahnya semakin tegas dan serius. Bahkan tatapannya itu sangat tajam. "Iya!"


Jawaban itu berhasil membuat Nila langsung membungkam mulutnya rapat-rapat dan tidak bicara lagi. Akhirnya saat tiba di dekat mobil, Fatan membukakan pintu untuknya. Nila pun menurut saja dan masuk ke dalam mobil. Setelah itu, barulah Fatan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Sekarang, pasang sabuk pengamanmu." Fatan kembali memerintah dengan tegas. Entah kenapa merasakan sikap Fatan yang seperti ini, membuat perasaan Nila sedih. Sebab tidak ada lagi kelembutan yang dirasakan oleh perempuan itu. Alhasil Nila terus diam dan ingin sekali menangis.


Disisi lain sebenarnya Fatan pun merasa tidak tega. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh menuju sebuah tempat layanan kesehatan yang terdekat dengan perusahaan.


.


.


.


.


Beberapa menit berlalu, mobil yang dikendarai oleh Fatan pun telah sampai di rumah sakit tujuan. Fatan segera mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.


Usai mendapatkan tempat parkir, Fatan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Nila.


"Ayok turun!" ajaknya masih dengan suara acuh.


Karena memang Nila sudah terlanjur terbawa perasaan kesal yang kian menjadi, ia tidak berkata apapun apalagi menolak. Nila menurut saja turun dari mobil.

__ADS_1


Ruang instalasi gawat darurat, disitulah sekarang Nila berada. Perempuan itu di suruh berbaring di salah satu tempat tidur yang masih kosong. Sementara Fatan mengurus administrasinya.


Dalam posisi berbaring, sakit di kepala Nila mulai mereda. Ia memilih memejamkan mata sambil memijat bagian tengah dari kedua alis, berharap pada diri sendiri supaya bisa lebih nyaman lagi. Ternyata berhasil! Saat sudah merasa nyaman, Nila membuka mata tepat saat seorang perawat perempuan masuk ke dalam tirainya.


"Permisi, saya izin periksakan Nyonya terlebih dahulu ya," kata perawat itu sangat sopan dan lembut tutur katanya. Bukan hanya itu, dia juga cantik dan tampak mampu merawat dirinya sendiri dengan baik.


"Baik, Sus."


"Sekarang apa yang Nyonya rasakan?" Perawat itu sambil memasangkan alat untuk mengukur tekanan darah Nila.


"Pusing, lemas, seperti gak bertenaga. Kurang nafsu makan terus gak tahu kenapa kalau masuk ke dalam mobil sekarang tuh mual sekali."


"Baik, biar saya catat terlebih dahulu ya." Usai mencatat, alat yang sempat terpasang di bagian lengan pun dibuka kembali. "Tekanan darah Nyonya masih normal kok, seratus dua puluh per delapan puluh ... Tunggu sebentar ya, habis ini ada pemeriksaan oleh dokter Davina." Setelah berkata demikian, perawat itu pergi sambil membawa catatannya. Sedangkan alat tadi disimpan di samping tempat tidur.


Tidak lama berselang, dokter pun masuk ke dalam ruang yang disekat oleh tirai.


"Selamat pagi ... Dengan Nyonya Nila ya?" sapa dokter perempuan itu. Dia cantik, masih muda, memakai kacamata serta kepala yang ditutupi oleh topi medis.


"Iya Dok. "


Nila tampak tenang selama diperiksa oleh dokter Davina. Dia adalah dokter khusus di instalasi gawat darurat. Saat melihat tidak ada sesuatu yang mengarah ke penyakit parah dan bahaya, lalu ia bertanya akan satu hal.


Seketika Nila baru ingat akan hal itu. Sebab beberapa bulan terakhir ini ia sangat sibuk dengan segudang pekerjaan.


"Sepertinya hampir tiga bulan yang lalu deh. Aduh! Aku sampai gak keingatan, Dok." Nila tersenyum lebar dan dokter Davina pun ikut tersenyum.


"Gini aja, sekarang saya akan buatkan surat rujukan untuk ke dokter kandungan. Tapi sebelum itu, Nyonya tunggu sebentar ya ... Soalnya saya mau cek apakah dokter kandungan di rumah sakit ini ada yang praktek atau gak nya pada hari ini," usul dokter Davina. Nila pun mengangguk setuju. Dokter itu kemudian keluar sambil menutup tirainya kembali.


Disaat yang bersamaan, Fatan pun datang dengan membawa berkas administrasi di tangannya. Raut wajah lelaki itu tampak cemas, takut terjadi hal yang tidak diinginkan selama pemeriksaan tadi.


"Gimana, Sayang? Apa kata dokter?"


"Gak apa-apa kok. Tapi dokter Davina bilang, dia mau kasih aku surat rujukan ke dokter kandungan," jawab Nila. Lantas Fatan terdiam terlihat sedang berpikir.


"Dokter kandungan?"


Nila mengangguk pelan seray tersenyum simpul. Seketika Fatan tersenyum, sangat sumringah.


"Apa kamu hamil?" Manik mata lelaki itu tampak berbinar. Dia bahagia sekali kalau benar hal itu terjadi.

__ADS_1


"Aku belum tahu, mungkin saat nanti pemeriksaan pakai alat USG bisa ketahuan," jawab Nila lalu Fatan mengangguk antusias.


"Permisi .... " Dokter Davina masuk. "Tuan, anda suaminya nyonya Nila?" tanyanya karena terkejut dengan keberadaan Fatan di sana.


"Iya benar. Bagaimana, Dok?" Fatan tidak sabar untuk segera pergi ke dokter kandungan.


"Kebetulan sedang ada dua dokter kandungan yang praktek hari ini. Tapi prakteknya baru akan dimulai sekitar dua jam lagi ... " jelas dokter Davina lalu menyodorkan selembar surat rujukan pada Fatan. "Sekarang Tuan dan Nyonya bisa daftar terlebih dahulu untuk mendapat nomor antrean. Biasanya kedua dokter itu punya pasien yang lumayan banyak. Jadi untuk mengurangi waktu tunggu juga," sambungnya.


Fatan menerima surat tersebut. "Baik, terima kasih Dok."


"Sama-sama ... Mungkin ada yang ingin ditanyakan?" tanya dokter Davina.


"Gak, Dok. Cukup jelas kok," jawab Fatan. Sementara Nila hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau kepalanya masih terasa pusing, Nyonya di sini aja dulu. Takutnya kondisi tubuh masih lemas, lebih baik dibawa istirahat aja ya," timpal dokter itu sebelum akhirnya pamit dari hadapan mereka.


.


.


.


.


Kini Fatan dan Nila tengah menunggu antrean untuk bertemu salah satu dokter kandungan yang menjadi pilihan mereka. Tentu harapan mereka, semoga dokter yang akan menemani perjalanan kehamilan Nila sampai melahirkan pun bisa cocok dan ramah saat berkonsultasi.


Cukup lama menunggu, nama Nila pun akhirnya dipanggil untuk masuk ke dalam. Tampak seorang dokter perempuan dengan wajah khas chinese menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah.


"Selamat pagi menjelang siang, Tuan dan Nyonya."


"Pagi, Dok." Sepasang suami istri itu menjawab saapan dokter bersamaan.


"Apa kabar Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu.


Nila pun menjelaskan apa yang tengah dialaminya dari pagi hingga detik ini. Setelah itu, dokter pun menyuruh Nila untuk tes urine supaya bisa mengecek kehamilan melalui alat yang bernama testpack.


Setelah hasil testpack keluar, tenyata garis dua yang ada di alat tersebut hanya samar. Nila merasa sedikit sedih, tapi dokter berusaha meyakinkan. Nila pun diajak berbaring ke atas tempat tidur yang telah disediakan untuk memulai pemeriksaan melalui alat yang biasa disebut USG.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2